My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Iklan Shopee: Solusi dari Kang Bambang Edi untuk ROAS dan Traffic Loyo

Halo teman-teman! Hari ini, saya berkesempatan ngobrol santai sambil ngopi bersama seorang teman, Kang Bambang Edi Wahyu. Beliau adalah seorang praktisi yang memiliki pengalaman dalam berjualan fashion muslim, khususnya gamis dan abaya. Bulan Agustus ini, penjualan beliau sedang naik turun, namun beliau tetap berjuang untuk bertahan.

Obrolan kami berpusat pada tiga pertanyaan seputar iklan Shopee yang seringkali saya terima dari teman-teman seller. Penasaran bagaimana pandangan Kang Bambang mengenai hal ini? Mari kita simak jawabannya!

1. Budget Iklan Habis tapi ROAS Tidak Kena, Perlukah Ditambah?

Ini adalah pertanyaan klasik yang sering menghantui para seller: jika budget iklan Shopee habis di tengah hari dan ROAS (Return On Ad Spend) tidak sesuai target, apakah sebaiknya budget ditambah? Jawaban Kang Bambang cukup menarik. Beliau percaya pada "mazhab tak terbatas" dan memilih untuk terus menjalankan iklan.

Kang Bambang menjelaskan bahwa ia khawatir mengganggu proses learning sistem iklan. Menurutnya, mungkin pada momen tertentu calon pembeli belum tertarik. Jika iklan dimatikan, kita bisa kehilangan kesempatan saat mereka siap berbelanja. Ia menekankan pentingnya retargeting, terutama dengan fitur GM Cross Game Max di Shopee. Oleh karena itu, ia memilih untuk tetap menjalankan iklan dan melakukan evaluasi secara berkala, bisa per minggu atau per bulan.

Jika hasil spend budget tidak sesuai ekspektasi, Kang Bambang tidak langsung mematikan iklan. Ia akan mengevaluasi dan mengoptimasi. Evaluasi ini mencakup performa produk (jumlah dilihat, konversi, add to cart). Jika performa iklan di bawah nilai benchmark selama sebulan, ada dua opsi: mematikan dan melupakan produk tersebut, atau memperbaikinya jika masih ada potensi, stok banyak, atau keyakinan bahwa produk tersebut bisa naik.

Kang Bambang juga menyoroti bahwa terkadang ROAS rendah di satu produk bisa jadi karena pembeli melakukan checkout produk lain. Ia lebih fokus pada performa produk secara keseluruhan. Jika produk masih bagus, ia akan melanjutkan. Namun, jika performa produk dan ROAS sama-sama jelek, opsi mematikan atau mengoptimasi dengan pertimbangan khusus tetap menjadi pilihan.

2. Iklan Gacor Tiba-Tiba Loyo, Apa yang Harus Dilakukan?

Pertanyaan kedua adalah tentang iklan yang tiba-tiba "loyo" atau tidak berjalan selama 2-3 hari setelah sebelumnya "gacor". Apa tindakan Kang Bambang dalam situasi ini? Beliau menegaskan bahwa ia tidak selalu menyalahkan iklan.

Menurut Kang Bambang, iklan itu seperti "ini ada produk, tolong iklankan". Namun, jika "amunisi" untuk sistem iklan menyebarkan traffic kurang, iklan pun akan kesulitan. Artinya, kita perlu memaksimalkan elemen lain selain iklan. Beberapa "pintu traffic" yang Kang Bambang sebutkan antara lain:

  • Shopee Video: Meskipun sering dianggap kurang efektif, ia meyakini Shopee Video bisa menjadi "tabungan" untuk pick day atau momen-momen puncak, seperti yang ia alami saat Lebaran.
  • Affiliate Marketing Solution (AMS): Pertimbangkan bekerja sama dengan afiliator dan membagikan sampel. Apalagi jika afiliator tersebut melakukan live streaming, efeknya bisa lebih maksimal.
  • Konten dan Sosial Media: Perbanyak konten. Selain detail produk, manfaatkan fitur kartu produk di TikTok (jika konteksnya cross-platform), atau video dan live streaming di Shopee. Ini adalah pintu-pintu traffic menuju seller.
  • Meta Ads: Jika memang produk harus segera laku, pertimbangkan juga untuk menggunakan Meta Ads.

Selain aspek traffic, Kang Bambang juga menekankan pentingnya mengecek elemen promosi. Ia pernah mengalami iklan tidak jalan karena harga coret (diskon) mati! Ini berarti penting untuk selalu memeriksa voucher, harga coret, dan paket diskon (misalnya beli 2 potongan Rp3.000 atau beli 2 gratis 1). Hal-hal receh seperti ini bisa menambah "frame" promosi dan membuka lebih banyak pintu penjualan.

Kesimpulannya, perbanyak pintu traffic dan cek elemen promosi. Bahkan bisa juga memaksakan dengan voucher produk spesifik, terutama untuk yang bermain individual.

3. Dari Auto Gacor ke ROAS Tidak Jalan, Bagaimana?

Pertanyaan terakhir adalah dilema antara iklan otomatis (Auto) yang gacor namun ROAS rendah, dan iklan ROAS (JF Max Roas) yang justru tidak jalan. Haruskah kembali ke Auto atau ada strategi lain?

Menurut Kang Bambang, iklan Auto ibarat menyebarkan produk secara "semi-ngasal" atau mengirim traffic secara acak, yang penting traffic masuk. Audiens yang disasar mungkin tidak terlalu spesifik. Beliau memiliki pendekatan tersendiri:

  1. Mulai dengan Auto untuk Produk Baru: Untuk produk baru, ia akan memaksakan Auto terlebih dahulu. Tujuannya adalah menciptakan benchmark untuk klik produk. Misalnya, konsisten dengan budget tertentu (misal Rp25.000) selama seminggu untuk mendapatkan data yang fair.
  2. Analisis Hasil Auto: Setelah seminggu, periksa hasilnya. Jika persentase klik tinggi tapi checkout (CO) rendah, berarti masalahnya ada pada promo atau harga. Kang Bambang mengingatkan bahwa Shopee sangat sensitif terhadap harga jika kita tidak bermain branding.
  3. Strategi Voucher dan Retargeting: Jika CO rendah, ia menyiapkan budget untuk voucher "tembak" atau voucher produk spesifik. Ini bukan hanya retargeting biasa, tetapi retargeting dengan "bonus" voucher. Tujuannya adalah mendapatkan traffic dan CO sebanyak mungkin untuk produk baru.
  4. Pindah ke ROAS dengan Amunisi: Saat transisi dari Auto ke ROAS, jika sudah ada CO, sistem ROAS akan memiliki "hentakan" dan bisa span lebih banyak. Dengan adanya testimoni dan voucher produk yang siap, serta harga yang sudah "sweet spot" dari fase Auto, iklan ROAS akan lebih optimal.

Jika iklan tidak juga spend, Kang Bambang menyarankan untuk melihat lagi data: apakah add to cart jelek, konversi jelek, dan persentase klik juga jelek? Jika semua indikator buruk, mungkin produk tersebut memang kurang diminati dan sebaiknya jangan berharap banyak. Memaksakan bisa saja, tapi formulanya belum jelas, apalagi di industri fashion muslim yang dinamis. Kuncinya adalah membaca data dan bersabar.

Saran Terakhir: Jangan Lelah Belajar!

Menjelang akhir obrolan, saya meminta Kang Bambang untuk memberikan satu saran penting bagi teman-teman seller. Jawabannya sederhana namun mendalam: jangan main instan. Meskipun ada yang beruntung dan langsung naik, itu lebih sering karena hoki. Dunia digital memaksa kita untuk terus mencoba dan mencoba sampai menemukan "klik" atau strategi yang paling cocok untuk bisnis kita sendiri.

Kita mungkin mendengar saran dari mentor A, B, atau C, namun pada akhirnya kita harus mencoba semuanya dan menemukan cara yang paling pas di bisnis kita. Jadi, jangan lelah untuk belajar, terus coba, dan evaluasi!

Terima kasih banyak Kang Bambang atas ilmunya yang sangat berharga! Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari pengalaman beliau dan mengoptimalkan strategi jualan di Shopee.

Salam sukses dari Ghani Rozaqi di ghanirozaqi.com!

0 Response to "Strategi Iklan Shopee: Solusi dari Kang Bambang Edi untuk ROAS dan Traffic Loyo"

Posting Komentar