Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman seller online semua. Alhamdulillah, pada kesempatan ini saya hadir untuk mencoba menjawab berbagai pertanyaan dan curhatan yang masuk dari teman-teman. Jangan ragu untuk bertanya, mudah-mudahan saya bisa memberikan jawaban yang bermanfaat. Jika ada pertanyaan yang belum bisa saya jawab, mohon dimaafkan.
Pertanyaan Seputar Pajak 0.5% di Marketplace
Kasus Toko CV dan Pribadi
Pertanyaan pertama datang dari Mas Sony Ramadan. Ia menanyakan tentang notifikasi kenaikan pajak 0,5% yang berlaku mulai 1 Agustus. Mas Sony memiliki dua toko: satu menggunakan CV dengan omset di bawah 500 juta per tahun, dan satu lagi toko pribadi atas nama KTP-nya. Ia ingin tahu apakah toko CV bisa mengajukan surat bebas pajak dan apakah masih ada waktu. Lalu, apakah bijak jika kedua toko tersebut tetap berjalan dengan potongan 0,5% tanpa pengurusan lebih lanjut?
Saya menjawab, fasilitas pajak 0,5% untuk badan hukum, baik PT maupun CV, sudah tidak berlaku sejak beberapa bulan lalu. Artinya, jika omset tahunan toko CV adalah 5 juta atau 10 juta, tetap akan dikenakan pajak 0,5%. Jadi, toko CV tidak perlu lagi mengajukan surat bebas pajak karena sudah pasti akan dipungut.
Untuk toko pribadi, perlu diingat bahwa yang dipajaki itu adalah orangnya. Dalam pengalaman saya, bahkan dengan omset di atas 500 juta, saya membiarkan saja toko-toko yang menggunakan KTP orang lain karena saya yang mengelolanya. Terkait waktu pengurusan pembebasan pajak untuk toko pribadi, tanggal 1 Agustus adalah awal pemungutan. Jika ingin tidak dipungut sama sekali, Anda harus segera mengajukan sebelum tanggal tersebut. Namun, jika pengajuan dilakukan setelah 1 Agustus, misalnya tanggal 7 Agustus, maka transaksi dari tanggal 1 hingga 6 Agustus akan tetap dipungut terlebih dahulu.
Saya kembali menegaskan bahwa meskipun omset di bawah 500 juta setahun, jika tidak mengajukan surat pernyataan, tetap akan dipungut. Penting untuk diingat, yang dipajaki adalah personalnya, bukan per toko. Jadi, meskipun satu toko Shopee Anda beromset 200 juta, pihak pajak tidak tahu jika Anda memiliki usaha lain seperti kafe dengan omset miliaran per tahun.
Klarifikasi Pajak 0.5% dan Verifikasi NPWP
Mas Banu Maranika kembali menanyakan klarifikasi tentang pajak. Ia bertanya apakah jika omset di bawah 4,8 miliar dan tidak mengunggah surat pernyataan, akan tetap dipungut 0,5% per transaksi. Saya membenarkan bahwa itu akan dipungut, bukan dikenakan. Meskipun 0,5% terlihat kecil, saya menegaskan bahwa besaran dampaknya tergantung pada margin keuntungan masing-masing penjual. Jika margin tipis, 0,5% bisa terasa besar. Untuk menghindari pemungutan, memang perlu mengunggah surat pernyataan sesuai PMK nomor 37. Jika tidak ingin dipungut, harus diunggah. Jika tidak diunggah, otomatis akan dipungut.
Mas Badby bertanya tentang verifikasi akun NPWP. Ia belum memverifikasi akunnya dan ingin tahu apakah akan otomatis dipotong 0,5%. Saya menyarankan untuk mengabaikan NPWP jika Anda adalah penjual pribadi, karena NPWP kini sudah terintegrasi dengan NIK. Kecuali jika Anda adalah badan hukum, barulah NPWP perlu diunggah. Mas Badby kemudian bertanya apakah jika dipotong 0,5%, ia bisa membiarkannya dan menaikkan harga saja. Saya menjelaskan bahwa verifikasi dan pernyataan adalah dua hal berbeda. Verifikasi atau tidak, pemotongan 0,5% akan tetap terjadi. Perbedaannya hanya pada kemana pungutan itu dialamatkan: apakah ke NIK Anda atau NIK orang lain jika tidak terverifikasi.
Saya menekankan kembali bahwa semua pebisnis di Indonesia sebenarnya wajib pajak. Hanya saja, sebelumnya kita harus lapor sendiri dan ada fasilitas bagi pribadi di bawah 500 juta yang tidak dikenakan pajak. Sekarang, pungutan tersebut dilakukan langsung oleh marketplace.
Mengenai Estimasi Ongkos Kirim dan Voucher Extra Plus Shopee
Pertanyaan selanjutnya dari Mas Rifki Apriansyah mengenai 'estimasi subtotal ongkos kirim' yang tertera di rincian biaya layanan. Saya menjelaskan bahwa estimasi subtotal ongkos kirim adalah total biaya pengiriman yang harus dibayarkan kepada jasa kurir. Biaya ini bisa ditanggung oleh Shopee, oleh kita sebagai penjual, atau oleh pembeli.
Mas Rifki mengira bahwa jika mengikuti program gratis ongkir, biaya tersebut akan hilang. Saya klarifikasi bahwa tidak semua gratis ongkir benar-benar gratis sepenuhnya, karena ada batasannya, seperti Rp60.000 atau Rp30.000. Mas Rifki juga bertanya tentang program 'Voucher Extra Plus'. Dia sempat bergabung dan merasa gacor saat trial, namun belakangan voucher tersebut jarang diklaim pembeli, meskipun biaya layanan Voucher Extra Plus tetap dikenakan. Dia bingung apakah harus menonaktifkan atau mengubah program ini. Jujur, saya sendiri juga merasakan dilema yang sama dengan program ini. Banyak seller merasakan hal yang serupa, di mana biaya dikenakan tetapi voucher jarang terpakai. Ini memang menjadi pertanyaan besar bagi kita para seller.
Jika Shopee Salah Memberi Harga atau Subsidi Tidak Cair
Mas Yudini Aliudin bertanya apakah Shopee akan mengganti rugi jika ada kesalahan harga. Dia menceritakan pengalamannya: dari 15 SKU produk, ada satu SKU yang penyelesaian penghasilannya jauh lebih rendah dibandingkan SKU lain, mengakibatkan kerugian. Pihak Relationship Manager (RM) Shopee menjelaskan bahwa ini karena voucher iklan dan gratis ongkir plus. Mas Yudini heran karena voucher iklan seharusnya tidak mengurangi pembayaran.
Saya membenarkan bahwa Shopee memang sering menurunkan harga produk kita melalui berbagai program seperti promo ekstra, iklan, atau SPayLater ekstra. Namun, seharusnya perbedaan harga yang ditanggung Shopee tersebut tetap cair penuh kepada kita. Jika ada kasus seperti Mas Yudini di mana 14 SKU cair normal di harga Rp219.000, tetapi satu SKU anjlok jadi Rp13.000, itu jelas merupakan kerugian. Saya berpendapat seharusnya ini diganti oleh Shopee, apalagi jika ada dukungan dari RM yang bisa membantu mendorong kasus ini. Jika hanya mengandalkan CS, prosesnya mungkin akan lebih rumit.
Strategi Iklan Otomatis vs. ROAS Manual di Shopee
Mas Hamzah Arsyaka bertanya tentang strategi iklan Shopee yang saya gunakan, apakah lebih sering memakai iklan otomatis atau ROAS (Return on Ad Spend) manual. Jika menggunakan ROAS, kapan waktu yang tepat untuk menaikkan target ROAS?
Saat ini, saya lebih banyak menggunakan iklan produk otomatis. Alasannya, kondisi iklan dalam dua bulan terakhir memang sedikit aneh, namun dari berbagai jenis iklan yang saya coba, iklan produk otomatis masih yang paling stabil, meskipun tidak 100% sukses, mungkin sekitar 50%. Terkait menaikkan ROAS, saya sudah lama tidak melakukannya. Jika ingin menurunkan ROAS, saya lebih memilih menggunakan iklan otomatis saja terlebih dahulu. Setelah penjualan konsisten, barulah bisa beralih ke ROAS manual. Traffic memang akan turun, itu wajar, namun profit yang kita incar. Dari pengalaman saya, iklan otomatis cenderung boncos kecuali untuk produk-produk yang sedang tren, dan bahkan kini produk tren pun bisa boncos dengan iklan otomatis. Saya pribadi tidak melakukan strategi menaikkan ROAS secara bertahap karena saya memiliki banyak toko, dan rasanya tidak realistis untuk melakukan optimasi sedetail itu pada setiap toko. Lebih baik fokus pada profitabilitas daripada mengejar ROAS rendah.
Dilema Penurunan ROAS Iklan Shopee
Mas Abdurrahman bertanya tentang iklannya. Ia memiliki produk yang stabil terjual sekitar 30 unit sehari dengan ROAS 10. Terinspirasi saran untuk menurunkan ROAS agar lebih gacor, ia menurunkan target dari 10 menjadi 9,5, namun justru penjualannya anjlok. Saya sering mendengar kasus serupa. Prinsip saya adalah: jika sesuatu sudah berjalan baik, jangan diubah atau 'disenggol'. Meskipun ada peluang untuk menjadi lebih baik, ada juga risiko audiensnya reset atau hal tak terduga lainnya. Jika sudah bagus, lebih baik tidak diutak-atik.
Untuk kasus Mas Abdurrahman, solusinya adalah bersabar. Karena perubahannya sedikit, seharusnya iklan bisa pulih dengan cepat. Memang perlu sedikit waktu, terutama jika penurunan ROAS mengakibatkan penjualan anjlok, meskipun traffic hanya sedikit menurun. Ini adalah situasi yang membutuhkan kesabaran.
Pertemuan Komunitas Offline di Bandung
Mas Erwin Firdaus menanyakan tentang pertemuan offline di Bandung. Saya menjelaskan bahwa pertemuan tersebut rutin diadakan setiap Selasa, dan sudah berjalan beberapa minggu. Ini adalah komunitas yang saya bangun, dengan biaya sekali bayar untuk keanggotaan seumur hidup. Tujuannya adalah membangun komunitas konkret, dan adanya tiket masuk berfungsi sebagai filter. Informasi lebih lanjut akan saya bagikan di grup.
Terima kasih teman-teman, sampai jumpa lagi insyaallah.

0 Response to "Pajak 0.5% Marketplace dan Dilema Iklan Shopee: Tanya Jawab Bersama Ghani Rozaqi"
Posting Komentar