Kali ini, saya ingin berbagi studi kasus mengenai Click-Through Rate (CTR). Salah satu toko saya memiliki CTR sebesar 5,53% dalam sebulan terakhir. Angka ini saya anggap cukup tinggi, mengingat saya menjual seragam dengan harga yang tidak murah, bahkan hampir 2,5 kali harga pokok. Untuk produk seragam pramuka atau seragam biasa, angka ini memang tergolong tinggi. Umumnya, untuk produk fashion dengan harga ratusan ribu rupiah, CTR berada di kisaran 2-3%.
Namun, saya berhasil mencapai 5,53%. Studi kasus ini berfokus pada penurunan CTR yang baru saya sadari. Produk ini sebenarnya performanya lumayan, meskipun toko ini bukan yang paling 'gacor' dengan omzet sekitar Rp3 juta sebulan, atau Rp15 juta dalam tiga bulan terakhir. Toko ini cukup 'lumayan' dan sempat ramai saat momen 'back to school' di bulan Juli, dengan CTR 4,23% dalam tiga bulan.
Menelusuri Penurunan CTR Produk
Kembali ke studi kasus, saya menemukan ada satu produk yang CTR-nya anjlok, bahkan hingga 0 koma sekian persen. Saya perhatikan ada produk dengan CTR hanya 0,7%, padahal biasanya saya menjaga CTR di toko ini agar tetap stabil. Saya bertanya-tanya, apakah saya luput mengevaluasi produk ini? Atau jangan-jangan ini hanya masalah momen?
Saya kemudian memeriksa produk tersebut, mencari datanya di bulan Juni. Di bulan Juni, CTR-nya 2,38%. Produk ini baru diunggah sekitar Juni 2023. Di bulan Mei belum ada. Dengan CTR 2,38% dan Add-to-Cart (ATC) 13% di Juni, lalu naik menjadi 3,45% di Juli. Namun, di Agustus, CTR anjlok drastis menjadi 0,47%. Ini jelas ada yang tidak beres dengan produk tersebut.
Saya lalu memeriksa produk seragam sekolah lainnya, seperti celana. Saat saya cek produk celana panjang, saya mendapati bahwa banyak produk mengalami penurunan. Misalnya, celana panjang SMA. Ada yang turun hingga 0,5%, meskipun ada yang masih bertahan di 2,5% atau 2,27%. Namun, secara umum trennya menurun. Di Juli rata-rata 3%, Juni sekitar 2 koma, yang masih bisa dimaklumi karena produk baru diunggah. Tapi di Agustus, angkanya benar-benar rendah.
CTR Turun Saat Demand Menurun
Ini menjadi pelajaran penting. Berdasarkan pengalaman saya, CTR biasanya cenderung stabil, terutama saat bermain di kata kunci. Mungkin beberapa dari Anda belum pernah merasakan iklan shopping berbasis kata kunci, namun dulu CTR memang stabil. Karena meskipun permintaan kecil, jika targetnya tepat, orang akan tetap mengklik.
Seharusnya, permintaan stabil. Namun, di era iklan GMV Max Shopee saat ini, kita tidak bisa lagi menargetkan audiens dengan sangat spesifik, karena semuanya ditentukan oleh algoritma. Dan ini menjadi bukti bahwa ketika permintaan (demand) turun, CTR juga ikut turun. Dari studi kasus ini, saya melihat bahwa saat demand menurun, bukan hanya traffic yang berkurang, tetapi konversi juga ikut merosot. CTR sendiri adalah salah satu indikator konversi.
Di Shopee, ada tiga metrik konversi penting: CTR, Add to Cart Rate, dan Conversion Rate. Biasanya saya hanya fokus pada dua: CTR dan Add to Cart Rate (berapa banyak orang yang menambahkan produk ke keranjang dibagi total pengunjung). Sementara itu, Conversion Rate menurut saya saat ini kurang begitu relevan. Jika Add to Cart Rate sudah tinggi, dan kita mengikuti promo ekstra serta menggenjot iklan, harga produk cenderung akan 'dihancurkan' oleh Shopee, sehingga Conversion Rate akan terangkat secara artifisial.
Produk seragam ini memang sedang tidak dalam tren puncaknya, atau sedang sepi. Produk seragam biasanya ramai di bulan Juni-Juli, saat tahun ajaran baru. Mungkin akan sedikit naik lagi di bulan Januari, saat pergantian semester.
Jadi, studi kasus ini membuktikan bahwa ketika permintaan menurun, yang ikut turun bukan hanya traffic, tetapi juga tingkat konversi.
Strategi Menghadapi Momen Sepi
Lalu, bagaimana solusinya? Jika saya, karena produk tersebut pernah memiliki CTR yang bagus, saya akan membiarkannya saja. Mungkin menunggu hingga Januari atau tahun depan. Namun, ini bisa berbeda untuk setiap orang.
Saya memiliki beberapa toko dengan niche berbeda: seragam, gamis, pramuka, dan lainnya. Jadi, saya bermain di setiap tren. Ketika satu momen sedang tidak ramai, saya akan beralih ke momen lain. Masalahnya, jika Anda hanya memiliki satu toko dengan satu niche, saat permintaan sedang turun, Anda nyaris tidak bisa berbuat apa-apa, terutama jika hanya berjualan di Shopee. Ketika demand sedang lesu, Anda akan kesulitan melakukan banyak hal.
Itulah mengapa saya menyiasatinya dengan memiliki banyak toko. Bagi Anda yang tertarik untuk memiliki banyak toko, Anda bisa bergabung dengan Sindikat Dropship atau Bootcamp Ternak Toko bersama saya dan Mas Soni Kurniawan, yang merupakan program praktik penuh selama 8 minggu. Informasi lebih lanjut bisa dicek di ghanirozaqi.com.
Semoga studi kasus ini bermanfaat. Terima kasih.

0 Response to "Pelajaran Penting dari Studi Kasus Penurunan CTR dan Demand di Toko Online Saya"
Posting Komentar