Saya melakukan sebuah eksperimen untuk mencari tahu apakah trafik organik di platform e-commerce seperti Shopee masih eksis. Dalam eksperimen ini, saya mengganti judul beberapa produk dengan kata kunci acak (random numbers). Saya mengaplikasikan strategi ini pada dua kategori produk: produk lama dan produk baru, di beberapa toko yang iklannya telah saya nonaktifkan. Tujuannya adalah untuk menguji dua hal: pertama, apakah trafik organik masih ada; kedua, apakah metode ini efektif untuk produk lama yang diganti judul atau produk baru.
Pada hari pertama eksperimen, saya menyiapkan data untuk tiga toko yang akan saya gunakan. Saya memasukkan beberapa kata kunci acak ke dalam judul produk. Kata kunci ini sengaja dibuat agar tidak ditemukan dalam pencarian normal di Shopee, memastikan hasil organik murni dari kata kunci eksperimen.
Saya memulai dengan menambahkan kata kunci acak ini pada produk lama di salah satu toko. Penting untuk diingat bahwa semua iklan di toko-toko ini sudah saya matikan. Setelah itu, saya menduplikasi produk lama tersebut dan menambahkan kata kunci acak yang berbeda. Proses duplikasi produk ini saya lakukan menggunakan Bigseller, yang memudahkan proses penyalinan detail produk.
Saya mengulangi proses ini untuk membuat produk baru dengan kata kunci eksperimen di ketiga toko tersebut. Setelah memastikan produk-produk baru dengan judul acak ini live dan tidak melanggar aturan, saya melanjutkan pengamatan. Saya membuat total enam produk (tiga produk lama yang diedit dan tiga produk baru) dengan kata kunci acak di judulnya. Semuanya berhasil live. Saya ingin melihat apakah produk baru memiliki performa organik yang lebih baik, atau justru tidak ada trafik organik sama sekali.
Pengamatan Eksperimen
Pada hari kedua (14 Agustus), saya mulai mengecek kemunculan produk-produk tersebut di pencarian organik Shopee. Awalnya, sebagian besar produk tidak muncul. Namun, mengejutkan, dua dari enam produk (keduanya adalah produk baru) berhasil muncul secara organik! Ini membuat saya yakin bahwa hipotesa awal bahwa trafik organik masih ada, untuk sementara, terbukti.
Pada hari ketiga (15 Agustus), saya melanjutkan pengecekan. Hasilnya bervariasi; beberapa produk yang sebelumnya muncul kini tidak lagi, dan beberapa produk baru lainnya mulai menunjukkan performa. Dugaan awal saya mulai terbentuk: produk baru tampaknya lebih mudah mendapatkan visibilitas organik dibandingkan produk lama yang 'sakit'.
Memasuki hari keempat (16 Agustus), saya menemukan bahwa beberapa produk lama butuh waktu lebih lama untuk muncul, bahkan ada yang masih belum muncul sama sekali. Namun, produk-produk baru masih menunjukkan konsistensi. Saya menyimpulkan bahwa organik memang masih ada, meski prosesnya tidak instan untuk semua produk.
Pada hari keenam (18 Agustus), sebagian besar produk, baik lama maupun baru, akhirnya muncul secara organik. Bahkan, beberapa produk lama yang awalnya sulit kini mulai terlihat. Ini semakin menguatkan bukti bahwa trafik organik masih hidup dan bekerja.
Pada tanggal 25 Agustus, sekitar 11 hari setelah eksperimen dimulai, saya kembali mengecek. Hasilnya cukup mengejutkan; beberapa produk yang sebelumnya muncul secara organik kini justru menghilang dari pencarian, atau bahkan tergeser oleh produk-produk 'spam' dari toko lain. Namun, ada beberapa produk yang tetap konsisten muncul. Ini menunjukkan dinamika pencarian organik yang kompleks.
Kesimpulan Eksperimen
Setelah 11 hari melakukan eksperimen, saya memiliki beberapa kesimpulan:
-
Trafik Organik Masih Ada
Bagi saya, setelah melihat hasil eksperimen ini, organik masih ada. Ini bukan berarti organik sudah mati total, melainkan lebih tentang dinamika permintaan (demand) dan penawaran (supply).
Dalam eksperimen ini, dengan kata kunci yang sangat acak, demand-nya praktis hanya saya sendiri, dan supply-nya juga hanya dari produk saya. Ketika seseorang mencari dengan kata kunci tersebut, algoritma terpaksa menampilkan produk saya meskipun saya tidak beriklan. Ini menunjukkan bahwa organik akan muncul jika demand lebih besar atau setara dengan supply, dan tidak semua kompetitor beriklan.
Singkatnya, jika calon pembeli (demand) lebih sedikit daripada penjual (supply) yang listing produk, dan semua penjual sudah aktif beriklan, wajar jika trafik organik menjadi minim atau bahkan tidak ada. Jadi, organik itu masih ada, namun sangat bergantung pada kategori produk, tingkat persaingan, dan seberapa spesifik kata kunci yang dicari pelanggan terhadap produk Anda.
-
Reupload Produk Baru Lebih Efektif dari Optimasi Produk Lama
Saya telah lama mempraktikkan strategi ini, dan eksperimen ini secara data membuktikannya. Jika ada produk yang kurang performa atau 'tidak winning' setelah 7-10 hari onboarding, saya lebih memilih untuk mengunggah ulang produk tersebut sebagai produk baru, daripada mencoba mengotak-atik foto atau judul produk lama.
Terbukti dalam eksperimen, produk-produk baru saya muncul organiknya lebih cepat dan cenderung lebih stabil. Sementara itu, produk lama yang diedit bahkan ada yang menghilang dari pencarian. Mengotak-atik produk lama seringkali lebih sulit daripada menciptakan listing baru yang segar. Produk lama tetap bisa dirawat, namun reupload produk baru seringkali memberikan hasil yang lebih cepat dan mudah dalam mendapatkan visibilitas organik.
Kesimpulan ini adalah praktik yang sudah saya terapkan sejak lama, dan kini saya sajikan dengan bukti data dari eksperimen ini.

0 Response to "Hasil Eksperimen Shopee: Trafik Organik Masih Ada & Pentingnya Reupload Produk"
Posting Komentar