Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman semua. Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi rangkuman diskusi dari sesi tanya jawab yang sering saya adakan. Ada banyak pertanyaan menarik seputar dunia e-commerce, khususnya Shopee, yang saya harap bisa bermanfaat untuk Anda.
Perhitungan Pajak UMKM: Batasan Omzet 500 Juta
Salah satu pertanyaan yang muncul adalah terkait perhitungan pajak. Seorang peserta bertanya mengenai batasan omzet di bawah 500 juta yang bebas pajak, dan bagaimana cara menghitungnya. Saya menjelaskan bahwa perhitungan omzet tersebut berlaku untuk tahun berjalan, yaitu dari Januari hingga saat ini. Bukan dari tahun-tahun sebelumnya, melainkan dari awal tahun hingga transaksi terakhir di tahun berjalan tersebut.
Menambah Niche Produk di Toko yang Sudah 'Winning'
Kemudian, Mbak Aida mengajukan pertanyaan tentang penambahan niche produk. Dia memiliki toko makanan dan minuman yang sudah 'winning', lalu ingin menambahkan kategori lain seperti sayuran. Apakah ini akan berpengaruh negatif pada toko? Saya menanyakan apakah produk makanan dan minuman yang ada sudah 'winning' atau belum. Jika sudah, berdasarkan pengalaman saya, penambahan niche lain tidak akan menjadi masalah. Namun, jika produk utama masih belum stabil, barulah hal tersebut bisa mengganggu performa toko.
Kelebihan Strategi 'Ternak Toko'
Mbak Aida melanjutkan dengan pertanyaan mengenai 'ternak toko' yang sering saya bahas di bootcamp. Dia ingin tahu apa kelebihan 'ternak toko' dibandingkan hanya menambah niche produk berbeda dalam satu toko yang sama, terutama karena dia merasa kesulitan mempelajari konsep ini. Saya menjelaskan bahwa di platform seperti Shopee, jika kita bukan artis terkenal, brand besar, atau pemain harga termurah, realistisnya sulit mendapatkan banyak produk 'winning' dalam satu toko. Target pribadi saya saja hanya satu atau dua produk 'winning' per toko. Karena memang ada batasan, saya menyarankan strategi 'ternak toko' atau membuat toko lain sebagai kompetitor diri sendiri. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penetrasi pasar dari berbagai arah.
Menggunakan Big Seller untuk 'Kopas' Produk
Mas Hamzah kemudian menyambung topik 'ternak toko' dengan membahas penggunaan Big Seller untuk 'kopas' produk. Dia menanyakan apakah strategi copy-paste produk dari Big Seller masih efektif, mengingat saya selalu menyarankan untuk membedakan foto produk agar terlihat seperti kompetitor. Saya menegaskan bahwa 'kopas' produk tetap bisa dilakukan, namun jangan 'plekiplek' atau persis sama. Tetap harus diedit. Mas Hamzah berbagi pengalamannya bahwa beberapa toko miliknya masih bisa jalan dengan produk yang sama persis (judul, deskripsi) di toko yang berbeda, dan ia juga bermain di harga coret. Saya mengapresiasi keberhasilannya tersebut.
Bootcamp 'Ternak Toko': Fokus Praktik dan Tanpa Garansi
Mas Hamzah menyatakan minatnya untuk ikut bootcamp 'ternak toko' dan bertanya apakah ada opsi pertemuan langsung atau harus melalui Zoom. Saya menjelaskan bahwa ada event rutin mingguan di Bandung setiap Selasa, namun tidak secara khusus membahas 'ternak toko', melainkan berbagai topik dengan sistem membership. Sementara itu, bootcamp 'ternak toko' sepenuhnya online dan saat ini batch 16 sedang dibuka, dimulai dalam beberapa hari ke depan. Saya juga menegaskan bahwa bootcamp ini bersifat praktik, bukan kelas teori biasa. Materi dibagikan dalam bentuk video modul sebelumnya, dan sesi Zoom digunakan khusus untuk tanya jawab serta diskusi kendala selama 8 pekan. Mas Hamzah kemudian bertanya apakah ada garansi untuk bootcamp. Saya dengan tegas menyatakan tidak ada garansi. Ini adalah masalah kepercayaan; jika ada keraguan, lebih baik tidak mendaftar, karena kita memerlukan saling percaya. Alhamdulillah, bootcamp ini sudah berjalan hingga batch ke-15, yang membuktikan keberhasilannya.
Menambah Produk Ber-HAKI di Shopee Mall
Mbak Pesona Indonesia meminta saran mengenai Shopee Mall miliknya. Ia memiliki akun Shopee Mall dengan lima produk 'winner' dan ingin menambahkan produk lain dengan merek ber-HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). Dia bertanya apakah lebih baik membuat toko Shopee baru atau mencampurkan produk tersebut di Shopee Mall yang sudah ada. Saya menjelaskan bahwa di Shopee Mall saya yang berfokus pada fashion, saya mencampur aduk produk dan menjual brand orang lain tanpa masalah karena HAKI-nya tidak terlalu ketat. Namun, untuk kasus Mbak Pesona yang produknya mungkin cairan, saya menyarankan untuk lebih berhati-hati. Jika ada kekhawatiran produk baru tidak akan bersaing dengan produk 'winner' yang sudah ada, atau jika ada rencana mendaftarkan HAKI baru, sebaiknya jangan langsung ke Shopee Mall. Mulai saja dengan toko biasa terlebih dahulu, dan jika performanya bagus, barulah pertimbangkan untuk memasukkannya ke Shopee Mall. Saya juga menambahkan bahwa arah mall juga penting; jika tujuannya branding, maka mencampur aduk produk mungkin tidak akan efektif.
Variasi Foto Produk untuk 'Ternak Toko'
Mas Kafa Bowo kemudian bertanya mengenai variasi foto produk untuk 'ternak toko'. Ia ingin tahu apakah aman jika hanya dua gambar awal yang berbeda, sementara gambar belakangnya sama, atau apakah perlu membedakan semua foto produk. Saya menjelaskan bahwa bahkan dengan foto dan judul yang sama pun produk bisa tetap berjalan, seperti yang telah dibuktikan oleh peserta lain sebelumnya. Namun, prinsipnya, semakin banyak perbedaan, semakin bagus. Tentunya ini tergantung pada energi dan kapasitas masing-masing. Jika hanya mampu membedakan dua foto awal, itu pun tidak masalah, asalkan ada upaya untuk membedakan diri dari toko lain.
Semoga rangkuman ini bermanfaat bagi Anda yang sedang merintis atau mengembangkan bisnis di e-commerce. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dalam bootcamp 'ternak toko' saya jika Anda ingin belajar lebih lanjut secara praktik. Anda bisa menemukan informasi lebih lanjut di ghanirozaqi.com. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!

0 Response to "Strategi 'Ternak Toko' di Shopee: Jawaban Seputar Pajak, Niche Produk, dan Bootcamp"
Posting Komentar