Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Teman-teman. Apakah omset jualan kalian sedang turun? Mari kita lihat faktanya.
Saya melakukan survei untuk melihat apakah para seller mengalami penurunan omset per tanggal 29 Oktober, pukul 15.30 sore. Survei ini melibatkan sekitar 3.000-an seller dari empat grup WhatsApp berbeda. Hasilnya cukup konsisten.
Hasil Survei Omset Seller
Dari grup pertama, mayoritas mengatakan omset mereka 'biasa saja' (30%) atau 'turun' (16%), sedangkan hanya 9% yang bilang 'naik'. Jika kita bandingkan antara yang naik dan turun, yang turun jauh lebih banyak. Grup kedua menunjukkan 25% seller mengalami penurunan. Grup ketiga dan keempat juga menunjukkan mayoritas seller mengalami penurunan omset.
Secara keseluruhan, dari keempat grup tersebut, mayoritas seller memang sedang mengalami penurunan omset saat ini. Namun, penting untuk dicatat bahwa selalu ada yang melaporkan kenaikan omset, bahkan jika jumlahnya tidak banyak.
Seringkali, seller yang omsetnya naik cenderung diam-diam saja. Mereka mungkin sibuk mengurus paket, produksi, atau iklan. Selain itu, manusia memang lebih cenderung mengeluh saat mengalami kesulitan dibandingkan bersyukur saat mengalami kenaikan. Faktanya, seller yang omsetnya naik biasanya tidak terlalu vokal.
Jadi, berdasarkan survei ini, mayoritas seller memang sedang mengalami penurunan omset per 29 Oktober 2026. Itu adalah fakta di lapangan.
Pengalaman Penjualan Saya Sendiri
Bagaimana dengan saya, Ghani Rozaqi? Karena saya juga seorang seller yang berjualan secara riil, saya punya data penjualan sendiri. Saya juga mengalami penurunan. Hari ini, penjualan saya turun sekitar 24%, dan tren penurunan ini sudah berlangsung sekitar seminggu terakhir. Ini sejalan dengan mayoritas seller di grup WhatsApp tadi, dan ini adalah hal yang sudah biasa saya alami. Saya sudah terbiasa dengan fluktuasi penjualan, baik saat turun maupun saat naik, karena memang saya berjualan secara riil.
Selalu Ada yang Naik Saat Ada yang Turun
Satu fakta yang selalu saya temukan selama sekitar 10 tahun berjualan online adalah: ketika ada yang turun, selalu ada yang naik. Ini adalah fenomena yang konsisten. Bahkan setelah Lebaran, di mana banyak seller mengeluh omset pasti turun, tetap saja ada yang omsetnya naik, mungkin mereka menjual produk musiman atau kebutuhan spesifik lainnya. Jadi, jika Anda bertanya apakah Shopee sedang turun, jawabannya mungkin 'ya' jika mayoritas seller mengalaminya. Namun, selalu ada yang naik. Mengapa kita harus bangga menjadi bagian dari kelompok yang turun?
Fenomena ini seakan-akan seperti jungkat-jungkit. Ketika ada yang naik, mau tidak mau yang lain akan turun. Saya tidak bisa membuktikan ini secara data ilmiah, tetapi secara pengalaman dan gut feeling, memang seperti ini dinamika pasar di platform seperti Shopee, di mana pasarnya sudah dewasa dan persaingan ketat.
Fluktuasi Lintas Kategori
Naik turun omset juga sangat wajar jika kita berbicara lintas kategori. Contohnya, saat kategori gamis sedang naik (misalnya menjelang bulan puasa), kategori baju olahraga otomatis akan turun. Ini adalah siklus yang sangat normal. Kategori A naik, C turun, D naik, F turun, itu semua wajar.
Apapun kategori produk Anda, entah itu sembako, gamis, kaos, jilbab, atau sepatu lari, pasti ada masa naik dan masa turun dalam setahun kalender. Ini adalah sifat alami dari suatu pasar. Namun, saya melihat banyak seller yang tidak memahami siklus ini. Mereka ingin penjualan selalu naik dan panik saat omset turun tanpa memeriksa apakah memang sedang dalam siklus turun.
Bahkan perusahaan sebesar Apple atau Google pun saya yakin ada masa penjualan mereka turun. Jadi, kita harus memahami bahwa bisnis itu ada naik turunnya, dan ada kategori yang lagi naik serta ada kategori yang lagi turun. Kategori-kategori ini bisa saling memakan, seperti contoh gamis dan baju olahraga di bulan puasa.
Dinamika dalam Kategori yang Sama
Jika kita perhatikan lebih dalam lagi, bahkan dalam kategori yang sama pun ada dinamikanya. Misalkan ada pasar untuk kategori tertentu (sebut saja Kategori A) dengan penjual X, Y, dan Z. Kategori A ini tidak mungkin stabil, pasti ada masa naik dan turunnya, yang saya ibaratkan sebagai ukuran 'kue' pasar. Wajar saja jika permintaan mengecil, karena preferensi konsumen bisa berubah mengikuti musim atau tren. Contohnya, saat musim hujan, banyak orang mencari jas hujan, sebaliknya saat musim kemarau, permintaan jas hujan akan turun.
Jadi, ketika 'kue' pasar untuk Kategori A mengecil, apakah omset X, Y, dan Z akan mengecil secara bersamaan dan proporsional? Tidak. Di sinilah fenomena jungkat-jungkit tadi muncul lagi, karena setiap penjual (X, Y, Z) memiliki metrik, karakter produk, dan strategi lokasi yang berbeda.
Sangat mungkin sekali X hanya turun sedikit, sementara Y dan Z turun drastis. Atau sebaliknya, X malah naik, sementara Y dan Z turun karena pasar secara keseluruhan mengecil. Ini adalah fakta di lapangan, sebuah 'zero-sum game' di mana ada yang naik, ada yang kalah. Saya berani mengatakan ini fakta karena toko saya banyak dan saya berulang kali mengalami situasi seperti ini. Ketika terjadi, saya sudah tahu apakah pasar sedang naik atau turun.
Cara Memantau Tren Pasar
Untuk memantau tren pasar, cara paling sederhana adalah dengan mengecek Google Trend. Namun, jika Anda ingin data yang lebih akurat dan spesifik untuk Shopee, Anda bisa menggunakan tools seperti AGR Follower Pencarian. Ini memantau tren penjualan riil di Shopee. Anda bisa melihatnya di website saya, ghanirozaki.com, di bagian 'Tools Pemuka Seller', lalu pilih 'Volume Search Iklan Shopee'. Tools ini merekam volume pencarian riil dan permintaan yang diberikan langsung oleh Shopee.
Kembali lagi, saya berulang kali mengalami bahwa dalam satu kategori yang sama, saat pasar turun, salah satu dari toko saya bisa naik, sementara yang lain turun. Saya pribadi senang dengan kondisi ini, karena daripada penjualan lari ke kompetitor lain, lebih baik lari ke toko saya sendiri yang lain. Ini adalah salah satu keuntungan memiliki banyak toko.
Yang repot adalah jika semua toko X, Y, Z semuanya turun, dan penurunannya kecil pula. Nah, kalau sudah begini, kita tidak bisa melawan gravitasi. Apa maksudnya 'jangan lawan gravitasi'? Ini akan saya bahas lebih lanjut di Part 2.

0 Response to "Mengapa Omset Jualan Online Turun? Fakta Survei & Pengalaman Pribadi"
Posting Komentar