My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Jika Brand Saya Kuat: 3 Ciri Utama dan 3 Langkah Strategis yang Akan Saya Lakukan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya ingin berandai-andai: jika saya memiliki brand yang kuat, inilah hal-hal yang akan saya lakukan. Mungkin ini juga relevan dengan situasi Anda.

Saya perhatikan, banyak sekali diskusi tentang 'exit marketplace dan branding saja' atau 'daripada di marketplace, mending branding saja'. Sebenarnya, berjualan di marketplace dan membangun branding tidaklah bertolak belakang. Namun, saya tidak akan membahas hal tersebut lebih lanjut di sini. Ini hanyalah teori yang saat ini belum saya praktikkan secara langsung. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setahun atau dua tahun lagi.

Apa Itu Brand yang Kuat?

Menurut saya, setidaknya ada tiga ciri utama dari brand yang kuat:

1. Repeat Order Tinggi

Saya ambil angka saja, misalnya 20% ke atas. Namun, jika Anda punya toko di Shopee dengan repeat order 10%, itu sudah sangat bagus dan keren. Ini adalah saatnya Anda mulai mempertimbangkan strategi branding. Tapi jika repeat order Anda 0% atau bahkan 1% (yang sebenarnya lumayan), jangan terlalu berharap banyak untuk langsung branding. Inti dari brand sebenarnya adalah repeat order. Inti dari brand adalah membuat orang ingat dan ingin membeli kembali. Percuma saja jika sebuah brand dikenal luas, namun tidak ada yang mau membeli produknya.

Bagi saya, brand sukses adalah yang dikenal luas DAN memiliki repeat order. Coba cek berapa repeat order penjualan Anda di Shopee atau TikTok. Jika angkanya 0% atau 1% dan Anda berpikir untuk langsung 'main branding', jangan terlalu berharap. Repeat order yang rendah umumnya mengindikasikan ada masalah pada produk Anda.

Ini relevan untuk hampir semua jenis produk (sekitar 95%). Mungkin tidak berlaku untuk produk seperti TV atau kulkas, tapi sangat relevan untuk fashion dan terutama produk herbal. Untuk produk herbal, repeat order itu krusial. Jika Anda menjual herbal dan repeat ordernya 0%, berarti ada masalah dengan produk tersebut. Produk herbal seringkali bersifat cocok-cocokan, dan jika seseorang sudah merasa cocok, mereka cenderung tidak akan berpindah. Saya sendiri, misalnya, selalu membeli madu dari teman karena sudah cocok, meskipun mungkin ada pilihan lain yang lebih bagus di luar sana.

Jadi, ciri kuat menurut saya adalah repeat order yang tinggi. Target saya 20% ke atas, tapi 15% pun sebenarnya sudah sangat baik.

2. Traffic dari Brand Keyword

Ciri kedua dari brand yang kuat adalah adanya traffic dari brand keyword. Misalnya, nama brand Anda adalah 'Sindikat Dropship'. Jika orang lebih banyak mencari 'Sindikat Dropship' (menggunakan brand keyword) dibandingkan 'cara jadi dropshipper' atau 'belajar dropship', itu artinya branding saya berhasil.

Contoh lain, nama toko saya di Panen Raya adalah Geraya, yang menjual abaya. Jika orang lebih banyak mencari 'Geraya' daripada 'abaya' saat ingin datang ke toko saya, itu berarti branding saya kuat. Sebenarnya, tidak harus lebih banyak, tapi porsinya harus besar. Mungkin 30% atau bahkan 10% dari total pencarian yang berasal dari brand keyword sudah bisa dianggap bagus. Misalnya, 10% pembeli datang karena mencari 'Geraya', itu sudah sangat baik.

Di Shopee, Anda bisa mengeceknya dari volume pencarian. Masuk ke fitur 'Iklan Toko Plus', yang menyediakan data keyword. Jika Anda mencari nama brand Anda di sana, akan terlihat berapa banyak orang yang mencarinya. Jika volume pencarian ini terus meningkat dari waktu ke waktu, itu tanda brand Anda mulai tumbuh dan kuat. Untuk melihat seberapa besar, coba cari brand terkenal seperti Azco, Balagia, atau Informa; volume pencarian mereka pasti sangat besar.

Untuk mengecek ini, saya juga menyediakan tools di ghanirozaqi.com. Ini sangat penting untuk memantau volume pencarian brand Anda, bahkan lebih penting daripada sekadar mengecek iklan, karena ini mengukur minat pasar. Anda bisa masuk ke bagian tools di website saya dan pilih 'Volume Search Iklan Shopee'. Tools ini hanya Rp35.000 untuk akses seumur hidup, bukan bulanan atau tahunan.

Jadi, ciri kuat branding yang kedua adalah traffic dari brand keyword, di mana porsinya bagus, meskipun tidak selalu harus mengalahkan keyword jualan umum.

3. Engagement Media Sosial yang Bagus

Ciri ketiga adalah engagement media sosial yang bagus. Jika seseorang mengklaim 'branding saya di Shopee', tapi media sosialnya tidak memiliki engagement yang baik, menurut saya itu belum bisa dikatakan branding yang berhasil. Brand itu tentang identitas, bukan hanya keberhasilan di satu platform.

Ambil contoh saya. Engagement terbesar saya ada di YouTube. Di Instagram, unggahan saya sedikit sekali yang menyukai. Ini berarti branding saya belum sepenuhnya berhasil. Seharusnya, jika branding saya kuat, orang akan menyukai konten saya di platform mana pun.

Jadi, jika Anda berjualan dan mengklaim punya brand, tapi penjualannya hanya bagus di Shopee, sementara di TikTok, WhatsApp, atau platform lain hasilnya sangat minim (ini kita bicara skenario ekstrem), kemungkinan branding Anda belum berhasil. Oleh karena itu, engagement di media sosial – entah itu TikTok, Instagram, Threads, atau platform lain – harus bagus. Adanya engagement yang bagus adalah tanda brand Anda sudah baik atau kuat. Semakin besar engagement, semakin kuat brand Anda. Menariknya, ini semua masih dalam ranah teori dan pengandaian saya.

Jika Brand Saya Kuat, Ini 3 Hal yang Akan Saya Lakukan:

Baik, kembali ke judul utama. Jika saya memiliki brand yang kuat, ada tiga hal yang akan saya lakukan:

1. Membuat Website Sendiri (Tanpa Checkout Langsung)

Pertama, saya akan membuat website sendiri, namun tanpa fitur checkout langsung. Saya pernah membangun website brand dengan checkout, dan menurut saya itu cukup rumit serta belum worth it jika volume order belum terlalu besar. Saya pernah menggunakan Shopify dan PrestaShop di WordPress. Dulu, pengaturan payment gateway sangatlah rumit, meski sekarang sudah sedikit lebih mudah. Namun, untuk beberapa kondisi, website dengan checkout mandiri belum saya rekomendasikan, kecuali jika volume penjualan Anda sudah mencapai 10.000 pesanan per hari, mungkin baru akan worth it.

Jika brand saya kuat dan saya berencana membuat website sendiri, saya akan mengarahkannya ke Shopee, dan ini tidak masalah. Jadi, misalnya ada link di WhatsApp atau website yang mengarah ke Shopee, saya akan menggunakan link afiliasi Shopee. Dengan begitu, saya tidak hanya mendapatkan komisi afiliasi, tapi juga bisa melacak performa.

Pentingnya melacak konversi dari website ke Shopee adalah untuk mengetahui seberapa banyak orang yang benar-benar berbelanja. Jika konversinya tinggi, barulah saya akan mempertimbangkan untuk mengaktifkan fitur checkout langsung di website. Namun, jika nol, maka saya tidak akan melakukannya. Maka dari itu, gunakan link afiliasi untuk tracking dan mendapatkan komisi. Shopee menyediakan link afiliasi toko dan link afiliasi biasa. Anda bisa membuat akun afiliasi terpisah atau menggunakan akun toko yang sudah ada. Jadi, website mandiri saya akan diarahkan ke Shopee untuk proses checkout. Itu adalah strategi pertama yang akan saya terapkan.

2. Memilih Biaya Admin Marketplace yang Minimalis

Kedua, saya akan memilih biaya admin marketplace yang minimalis. Saya tidak akan mengikuti program seperti gratis ongkir ekstra, promo ekstra, apalagi SPayLater ekstra. Shopee Live ekstra dan video ekstra pun tidak akan saya ikuti. Saya hanya akan mengambil opsi paling minimal, yang mungkin memakan biaya sekitar 7% hingga 10% (katakanlah 10%). Dengan begitu, saya punya sisa sekitar 15% untuk dialokasikan kembali ke branding.

Jika dihitung, biaya admin untuk toko Mall atau produk fashion bisa mencapai 25%. Jika biaya tersebut dipangkas dengan hanya mengambil yang minimal, kita bisa menghemat sekitar 10%-15% yang bisa digunakan untuk branding. Menurut saya, membayar 10% admin fee untuk mendapatkan traffic besar dari Shopee atau TikTok itu sangat worth it. Mohon maaf kepada marketplace lain yang mungkin menawarkan biaya gratis tapi tidak memiliki traffic sebesar ini. Jika di Shopee kita hanya perlu membayar 10% dengan traffic yang sudah disediakan, itu bukanlah masalah.

Tapi ingat, ini adalah skenario di mana brand saya sudah kuat dan orang mencari produk karena brandnya. Anda mungkin berpikir, 'Sayang sekali kalau pembeli mencari baju kaos lengan panjang, lalu tidak jadi membeli karena ini.' Percayalah, jika pembeli memang loyal pada brand Anda, mereka akan tetap membeli. Kuncinya adalah apakah mereka mencari karena brand Anda atau hanya keyword produk biasa.

3. Membuat Akun Kedua (Second Account)

Inilah yang membawa saya ke poin ketiga: membuat akun kedua. Akun brand utama saya di marketplace akan tetap dengan biaya minimalis. Selisih 15% yang dihemat dari tidak mengikuti promo ekstra, gratis ongkir ekstra, dan lainnya bisa dialokasikan untuk endorsement, iklan Meta, atau promosi lainnya yang mendukung branding.

Kemudian, saya akan membuat akun baru yang memang fokus pada penjualan umum, seperti seller pada umumnya, tanpa perlu branding khusus. Produknya boleh sama, hanya mungkin kemasan atau hangtag-nya dibedakan. Ini adalah detail teknis yang mudah diimplementasikan. Singkatnya, inilah yang akan saya lakukan jika saya memiliki brand yang kuat. Kuncinya memang pada 'brand yang kuat'.

Jika brand saya masih ala kadarnya, saya tidak akan melakukan strategi ini. Namun, jika Anda di sini memiliki brand yang kuat, saya sangat menyarankan untuk mencoba tiga hal yang sudah saya sebutkan tadi. Demikian artikel ini. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Jika Brand Saya Kuat: 3 Ciri Utama dan 3 Langkah Strategis yang Akan Saya Lakukan"

Posting Komentar