Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Teman-teman sekalian, saya mohon maaf belakangan ini sering terlambat hadir. Insyaallah, sesi kali ini akan berlangsung sekitar 15 menitan saja, di mana saya akan mencoba menjawab berbagai pertanyaan dan curhatan dari teman-teman semua.
Sebelum masuk ke sesi tanya jawab, tadi saya melihat di survei banyak yang belum memahami apa itu RTS. Sederhananya, RTS adalah singkatan dari Return To Sender atau bisa juga Return To Seller. Ini merujuk pada paket COD yang dikembalikan. Entah karena pembeli tidak mau membayar, kurir tidak menemukan alamatnya, atau paket belum dibuka oleh pelanggan. Jadi, intinya ada RTS dan juga RR.
Investasi Terbaik: Personal Branding dan Konsistensi Konten
Salah satu teman, Mas Purnomo, bertanya tentang prospek personal branding ke depan, khususnya untuk produk fashion anak. Menurut saya, personal branding adalah salah satu investasi terbaik yang pernah saya alami.
Ada dua investasi terbaik dalam hidup ini (selain agama, tentu saja): kesehatan dan personal branding. Keduanya sangat sulit dibangun, tetapi jika berhasil, imbal hasilnya akan terus-menerus. Kita bisa melihat banyak orang yang viral sekejap lalu menghilang. Itu bukan personal branding, melainkan keberuntungan semata. Personal branding sejati membutuhkan konsistensi.
Konsistensi dalam hal apapun, terutama dalam membuat konten. Tanpa konten, tidak ada personal branding. Medium konten pun beragam, mulai dari YouTube, Instagram, TikTok, hingga buku seperti yang dilakukan Dee Lestari. Saya sendiri sudah konsisten selama 7 tahun, mengunggah satu konten setiap hari di YouTube.
Jika Anda berencana membangun personal branding untuk menjual produk anak, cara paling efektif yang saya lihat sejauh ini adalah flexing. Maksudnya, menunjukkan paket yang dikirim, proses produksi, atau hal lain yang terkait dengan bisnis Anda. Coba perhatikan owner brand yang memulai personal branding, pasti awalnya melakukan flexing.
Strategi Mengalihkan Pembeli dari Marketplace ke Website Pribadi
Mas Purnomo juga bertanya tentang cara mengalihkan pembeli dari marketplace (seperti Shopee) ke website atau Instagram pribadi. Misalnya, dengan menyertakan stiker di paket yang mengarahkan ke website kita.
Sejujurnya, ini tidak semudah yang sering digembar-gemborkan di iklan. Memang benar bahwa kadang admin fee marketplace bisa dihindari dengan punya website sendiri, tapi membangunnya sangat susah. Brand-brand besar seperti Nike pun masih menjual produknya di marketplace, dan penjualan mereka di sana mungkin lebih dari 10-15% dari total. Apalagi brand lokal, banyak yang menjadikan marketplace sebagai salah satu channel terbesar mereka.
Jadi, menurut saya, yang paling benar bukanlah 'memindahkan' audiens, melainkan 'membuka channel baru'. Membangun channel baru memang berat, tetapi memindahkan audiens dari marketplace jauh lebih sulit.
Tantangan Bisnis FnB dan Pengalaman Pribadi
Kemudian ada Mas Amilin Muhammad yang sedang menjalankan bisnis FnB (ayam goreng dan bebek kremes). Masalahnya, omzet hanya ramai di hari Sabtu dan Minggu, sementara Senin hingga Kamis sangat sepi. Beliau berencana menggunakan Shopee Food dan GoFood, serta bertanya tentang 'menembak rating' dan budget influencer yang murah.
Sejujurnya, saya tidak bisa berkomentar banyak karena takut salah. Namun, saya punya pengalaman nyata. Saya pernah patungan dengan teman membeli franchise bakso, dan bisnis itu bangkrut. Modalnya tidak berhasil kembali. Ini hanya fakta, bukan untuk menyalahkan siapa pun. Bisnis FnB memang penuh tantangan.
Optimasi Iklan Shopee dan Strategi ROAS
Mas Ramdan Sauri menanyakan tentang iklan Shopee untuk produk Koko Muslim. CTR-nya 4%, Add To Cart (ATC) 18-25%, tetapi Return On Ad Spend (ROAS) hanya 4.5, sementara ROAS impasnya 5. Target beliau adalah ROAS 8.
Menurut saya, CTR 4% dan ATC 18-25% itu sudah sangat bagus untuk produk fashion seharga sekitar Rp100.000. Tinggal berani saja menaikkan ROAS dan budget iklan. Jika ATCR tinggi, lambat laun Shopee akan membantu mengoptimalkan harga agar konversi tinggi. ROAS idealnya bisa mencapai 10. Jika Anda bisa menembak ROAS di angka 10 di awal, itu akan sangat baik.
Mas Ramdan juga bertanya tentang strategi combo hemat (misalnya beli Koko dan celana) agar terlihat di Shopee. Fitur combo hemat seharusnya sudah muncul di keranjang belanja, terutama di aplikasi mobile. Jika tidak muncul, mungkin ada kesalahan pengaturan tanggal promo atau perlu dicek ulang setelah produk ditambahkan ke keranjang.
Mengelola Banyak Toko di Shopee
Mas Andy Enco bertanya apakah aman memiliki beberapa toko Shopee (tiga toko dengan produk yang sama dan satu toko dengan produk berbeda) menggunakan jaringan yang sama.
Untuk level 3-5 toko, itu masih aman. Namun, jika Anda menaikkan jumlah toko menjadi 6 atau 9, di atas angka 5, masalah mulai timbul, bahkan jika barang yang dijual berbeda. Anda mungkin perlu strategi khusus untuk mengelola lalu lintas dan operasionalnya.
Verifikasi Ulang Saldo Dibekukan
Terakhir, Mas Redi Channel menanyakan tentang saldo yang dibekukan karena verifikasi ulang. Saya sendiri baru mengalaminya tadi siang, dan prosesnya mudah, tinggal verifikasi ulang saja. Tidak perlu menggunakan NIB seperti yang banyak dibicarakan.
Terima kasih banyak, Teman-teman, atas partisipasinya. Sampai jumpa lagi di sesi berikutnya. Jangan lupa, besok ada acara di Bandung, di Husein. Acara ini gratis, dan bahkan ada makan siang gratisnya. Saya akan membagikan posternya nanti. Semoga apa yang saya sampaikan hari ini bermanfaat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam hangat dari Ghani Rozaqi.

0 Response to "Membangun Personal Branding dan Strategi Bisnis Online yang Efektif"
Posting Komentar