My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Memahami Branding dari Sisi Asosiasi: Studi Kasus Polisi, Aqua, hingga Gibran

Memahami Branding dari Sisi Asosiasi

Branding adalah topik yang luas dengan banyak sekali teori dan sisi yang bisa kita gali. Namun, kali ini saya ingin fokus membahas branding dari satu sisi yang menarik: asosiasi. Ini bukan tentang asosiasi perkumpulan, melainkan bagaimana pikiran kita menghubungkan satu hal dengan hal lain.

Secara sederhana, branding asosiasi berarti jika Anda mendengar atau melihat nama A, secara otomatis Anda akan teringat pada B. Misalnya, ketika Anda melihat Ghani Rozaqi (atau saya), apa yang terlintas di benak Anda? Itulah citra branding yang terbentuk di persepsi Anda.

Persepsi orang terhadap sebuah brand memang bisa berbeda-beda. Namun, ketika sebuah brand sudah sangat besar dan dianggap berhasil, akan ada satu asosiasi dominan yang melekat kuat di benak mayoritas orang. Ini terjadi karena pesan atau citra tertentu terus-menerus disampaikan dan diterima oleh audiens.

Studi Kasus Asosiasi Brand

Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat beberapa contoh asosiasi yang terbentuk dalam benak saya:

1. Polisi: Korupsi

Ketika mendengar kata “polisi”, hal pertama yang terlintas di benak saya adalah “korupsi”. Ini mungkin terdengar ekstrem dan tentu saja ini hanya persepsi pribadi saya. Saya pernah mencoba membuat SIM dengan cara jujur, tanpa “menembak” atau menggunakan jalan pintas. Namun, setelah hampir enam bulan bolak-balik ke kantor polisi dan menghadapi tes yang menurut saya tidak relevan dengan kondisi jalanan sebenarnya, pada akhirnya saya menyerah dan “menembak” juga.

Pengalaman pribadi ini, ditambah dengan berita-berita buruk yang sering saya dengar tentang oknum polisi, membentuk asosiasi yang kuat di pikiran saya. Tentu, saya tahu banyak polisi yang baik dan berintegritas, tapi asosiasi “korupsi” ini sudah terlalu kuat tertanam.

2. Aqua: Israel

Dulu, “Aqua” bagi saya identik dengan “air minum”. Saya tidak pernah memikirkan hal lain saat membeli Aqua. Namun, sejak munculnya isu viral tentang Aqua yang terafiliasi dengan Israel, persepsi saya berubah drastis. Kini, setiap kali saya dihadapkan pada pilihan air minum, saya cenderung memilih Le Minerale atau Almasum dibandingkan Aqua. Asosiasi “Israel” telah melekat di benak saya.

3. Nike: Jordan

Begitu mendengar “Nike”, saya langsung teringat “Jordan” – khususnya seri Air Jordan yang legendaris dan ikonik dengan Michael Jordan. Meskipun saya tidak sering bermain basket atau memakai sepatu, citra Air Jordan sebagai produk yang keren dan monumental sudah sangat kuat tertanam.

4. Portugal: Ronaldo

Ini adalah asosiasi yang sangat kuat bagi banyak penggemar sepak bola. “Portugal” langsung mengingatkan saya pada “Cristiano Ronaldo”. Berulang kali menonton pertandingannya dan melihat selebrasinya telah menciptakan ikatan yang tak terpisahkan antara negara dan pemain bintang ini.

5. Gibran: MK

Kasus “Gibran” dengan “Mahkamah Konstitusi (MK)” juga merupakan contoh asosiasi branding yang sangat nyata. Berita-berita yang berulang kali muncul terkait isu ini telah membentuk asosiasi yang kuat di benak publik.

Kekuatan Pengulangan dalam Branding Asosiasi

Poin penting dari semua studi kasus ini adalah satu hal: pengulangan. Baik itu pengalaman pribadi, berita di media, kampanye, atau tayangan berulang, semua ini masuk ke dalam pikiran saya secara terus-menerus dan membentuk asosiasi yang kuat.

  • Apakah semua polisi korupsi? Tentu tidak, banyak yang baik. Namun, pengulangan berita buruk dan pengalaman pribadi membentuk asosiasi tersebut.
  • Apakah Aqua benar-benar Israel? Terlepas dari fakta atau hoaks, kampanye yang berulang-ulang menciptakan asosiasi tersebut di benak saya.
  • Nike dan Jordan, Portugal dan Ronaldo, Gibran dan MK – semua adalah hasil dari paparan informasi atau visual yang berulang kali.

Ini menunjukkan bahwa jika Anda ingin brand Anda terasosiasi dengan suatu pesan atau citra tertentu, Anda harus melakukan komunikasi atau pencitraan secara berulang-ulang. Satu kali tidak cukup untuk menciptakan ikatan asosiasi yang kuat di benak target audiens Anda. Konsistensi dan pengulangan adalah kunci sukses dalam membangun branding dari sisi asosiasi.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata-kata ini? Mari kita renungkan bersama.

Saya harap artikel ini memberikan wawasan baru tentang branding dari perspektif asosiasi. Sampai jumpa di ghanirozaqi.com!

0 Response to "Memahami Branding dari Sisi Asosiasi: Studi Kasus Polisi, Aqua, hingga Gibran"

Posting Komentar