Pengumuman Hiatus MBGR Zoom
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya ingin menyampaikan pernyataan resmi, khususnya mengenai kelanjutan MBGR Zoom. Mungkin tidak banyak, tapi ada beberapa teman yang menanyakan tentang ini. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya mengumumkan bahwa sesi Zoom MBGR akan hiatus, atau vakum, hingga waktu yang belum ditentukan.
Banyak pertimbangan yang mendasari keputusan ini. Namun, intinya, saya bersyukur sekali atas semua yang telah saya dapatkan dari MBGR. Perlu diingat, ini hanya berlaku untuk sesi Zoom saja. Grup Telegram dan grup WhatsApp MBGR di Bandung masih aktif dan berjalan seperti biasa. Saya mendapatkan banyak teman dari sini, dan pertemanan itu masih terjalin hingga sekarang.
Testimoni dari Anggota MBGR
Pernyataan ini saya sampaikan bersama dengan beberapa anggota MBGR terdahulu, yang telah menemani sejak awal dan kini masih menjadi teman dekat.
Kang Abu Bakar
Terima kasih banyak, Kang Abu Bakar, atas dukungannya selama ini di MBGR. Saya ingat pernah berkunjung ke rumah Kang Abu Bakar. Mohon berikan testimoni Anda, khususnya terkait hiatus MBGR ini.
Saya bergabung sekitar tahun 2000-an, saat pandemi COVID-19. Awalnya dari YouTube Kang Ghani, lalu MBGR dibentuk. Dari situ, saya mendapatkan banyak wawasan baru dan merasa tidak sendirian. Saya punya banyak sudut pandang lain. Kelemahan seller seringkali adalah "kacamata kuda", tapi alhamdulillah, di MBGR semua itu terbuka. Saya kenal banyak orang baik, termasuk Kang Rian, dan khususnya Kang Ghani.
Meskipun ada rasa sedih karena harus hiatus, saya merasa ini bukan akhir, melainkan "akhir dari sebuah awal" (end of the beginning). Ini tidak berhenti, hanya Zoom-nya saja yang berhenti sementara. Siapa tahu nanti ada yang meneruskan, saya sangat berharap siapapun itu bisa mengangkat "sense of belonging" di antara anggotanya, agar semakin banyak yang tertolong dan berkah yang dicari. Terima kasih MBGR, telah menemani saya setiap Jumat selama bertahun-tahun. Semoga nanti bisa berjumpa lagi, mungkin secara offline. Terima kasih MBGR.
Kang Rian
Selanjutnya, mari kita dengarkan testimoni dari Kang Rian. Terima kasih banyak, Kang Rian, atas kebersamaan Anda selama ini di MBGR. Mohon berikan testimoni Anda untuk MBGR.
Saya ikut MBGR mungkin seangkatan dengan Kang Abu Bakar, sekitar tahun 2022 untuk sesi Zoom. Saya mungkin salah satu yang pertama kali menghubungi Kang Ghani melalui WhatsApp. Dulu, HP Kang Ghani sinyalnya seperti GPRS, saya WhatsApp siang, dibalas dua hari kemudian. Mungkin memang sudah sah saya. Haha.
Kesan saya di MBGR, sesi setiap Jumat itu sudah menjadi kebiasaan. Saya bisa ikut Zoom di motor, mobil, di rumah, bahkan sambil menggendong atau menyeboki anak. Handphone atau laptop saya selalu standby. Itu menjadi penyemangat saya. Saya menyadari banyak teman seperjuangan, ada yang sedang boncos juga. Tapi Kang Ghani selalu punya cara unik. Ketika kami merasa boncos, beliau berkata, "Jangan salah, yang lagi naik juga ada!" Astagfirullah, jadi saya yang salah. Haha.
Terima kasih banyak untuk MBGR Zoom khususnya. Untuk yang di Bandung, kita masih bisa tetap ngopi-ngopi. Semoga Kang Ghani juga bisa meluangkan waktu untuk berkumpul. Terima kasih MBGR Zoom. Sampai jumpa lagi.
Upaya Menyelamatkan MBGR Zoom
Saya ingin mengklarifikasi lebih lanjut bahwa keputusan hiatus ini bukan tanpa upaya dari saya untuk menyelamatkan MBGR Zoom. Sejak akhir Mei, saya menyadari bahwa sesi ini tidak bisa terus berjalan seperti ini karena banyak peserta yang pasif, sementara yang aktif hanya itu-itu saja. Saya ingin mencari cara agar kita bisa "co-creating" dan benar-benar berkembang bersama, sesuai dengan jargon asli MBGR.
Saya merasa tidak adil bagi mereka yang terus berbicara dan berbagi, sementara yang hadir hanya mendengarkan. Mereka yang mendengarkan memang mendapatkan sesuatu, lalu bisa mempraktikkannya. Namun, mereka yang aktif berbicara terasa kurang dihargai. Oleh karena itu, saya mulai berpikir keras.
Inisiatif Google Form dan FGD
Saya mencoba inisiatif "co-creating" dengan membuat Google Form dan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) sebelum Zoom dimulai. Saya menyebarkan survei dengan satu topik tertentu di grup MBGR. Tujuannya agar hasil survei bisa kita telaah bersama, sehingga ada kolaborasi di antara kita dalam membangun wawasan. Inisiatif ini berjalan selama dua bulan, dan cukup baik.
Kemudian, saya merasa ini saatnya untuk "scale up". Data yang terkumpul biasanya dari 20 sampai 30 orang yang mengisi. Saya berharap bisa lebih banyak, mungkin 50 orang. Saya mencoba memberikan target minimal 50 orang yang mengisi Google Form tersebut. Pertanyaannya hanya "yes or no" dan hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk mengisi. Meskipun sederhana, data kuantitatif seperti itu sangat insightful.
Saya pikir 50 orang tidak akan sulit, mengingat grup Telegram MBGR cukup aktif dan biasanya ada 30-40 orang yang hadir di Zoom. Saya berasumsi, mengisi Google Form tanpa harus hadir Zoom atau di waktu tertentu seharusnya bisa mencapai 50 orang. Di grup WhatsApp MBGR Bandung juga sangat aktif. Namun, ternyata target 50 responden ini tidak tercapai. Hanya segelintir yang mengisi.
Inisiatif Wakaf
Saya kembali memutar otak. "Bagaimana ya agar engagement, kebersamaan, dan rasa saling memiliki lebih baik?" Saya mencoba inisiatif wakaf. Saya membagikan link wakaf ke RS Salman ITB di Soreang Bandung, sebuah lembaga yang trusted. Wakafnya seikhlasnya saja, berapa pun nominalnya. Cukup dengan menekan emotikon di chat grup sebagai konfirmasi, tanpa perlu menyebut nominalnya.
Untuk ini, saya menargetkan 5 atau 10 orang yang berpartisipasi. Pada percobaan pertama, berhasil. Kami bisa melanjutkan Zoom seperti biasa di minggu itu. Namun, di minggu berikutnya, inisiatif ini gagal. Tidak sampai 10 orang yang berpartisipasi. Ini membuat saya bertanya, "Jika saya terus melanjutkan dan memutar otak, sebenarnya siapa yang mau MBGR Zoom tetap jalan? Jangan-jangan hanya saya sendiri?"
Padahal, wakaf seikhlasnya itu, bahkan 2.000 rupiah, tidaklah berat bagi para seller. Dan dana tersebut tidak masuk ke kantong saya sama sekali, melainkan langsung ke lembaga wakaf. Kegagalan mencapai target ini membuat saya berpikir, "Oh, ini berarti yang ingin Zoom hanya saya saja, yang lain sepertinya tidak."
Apalagi, teman-teman di grup WhatsApp MBGR Bandung terlihat adem ayem, tidak menuntut adanya sesi Zoom. Memang ada beberapa yang nge-japri di Telegram menanyakan Zoom, tapi secara keseluruhan, responsnya tidak mendukung. Jadi, untuk apa saya lanjutkan jika yang ingin hanya saya sendiri? Sesi Zoom ini seharusnya kita jalankan bersama-sama. Itulah mengapa MBGR Zoom harus hiatus.
Penutup
Sesi Zoom MBGR telah berlangsung sebanyak 190 kali, hampir 4 tahun lamanya. Bagi saya pribadi, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Saya tidak tahu apakah semua merasakan manfaatnya, tetapi pada akhirnya, terbukti bahwa tidak semua ingin Zoom setiap Jumat. Jadi, untuk apa saya lanjutkan?
Terima kasih banyak kepada semua yang selama ini pernah ikut MBGR. Kita hiatus dulu, entah sampai kapan. Grup Telegram dan WhatsApp masih ada, dan saya tetap memantaunya secara berkala. Jika ada hal yang melampaui batas atau tidak sesuai, mohon segera informasikan kepada saya. Misalnya, jika ada konten tidak pantas seperti yang pernah dikeluhkan, tolong sebutkan judul dan sebagainya agar saya bisa menindaklanuti.
Segala dinamika selama ini luar biasa sekali. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "MBGR (zoom) END"
Posting Komentar