My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Insight Bisnis Online: PPN, ROAS, dan Strategi Harga untuk UMKM

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang masuk, dan mohon maaf jika ada yang tidak bisa saya jawab sepenuhnya.

Perihal PPN dan Omset

Ada pertanyaan menarik seputar PPN dan omset di atas Rp500 juta. Seorang teman berbagi informasi yang ia dapat dari TikTok, bahwa jika omset melebihi Rp500 juta, ada persyaratan khusus agar tidak dikenakan PPN 11%. Ia ingin tahu lebih lanjut tentang persyaratan tersebut.

Setahu saya, yang tidak dikenakan PPN itu adalah barang-barang pokok, bahan pokok, dan jasa kirim. Mengenai informasi yang beredar di TikTok tersebut, saya belum punya detailnya. Menurut saya, informasi seputar PPN omset Rp500 juta per tahun itu kurang tepat. PPN biasanya berlaku untuk omset di atas Rp4,8 miliar per tahun. Kalau Rp500 juta per tahun sudah kena PPN, itu jelas kurang masuk akal.

Dengan banyaknya informasi yang berseliweran, saya sarankan untuk menunggu informasi resmi dari pihak berwenang. Jangan mudah percaya pada siapapun sebelum ada pernyataan resmi.

Status NPWP Wajib Pajak

Ada pertanyaan lain terkait NPWP, apakah aman jika belum mengisi data NPWP untuk wajib pajak saat ini. Saat ini, tidak ada masalah. Hingga awal Agustus, belum ada indikasi atau konsekuensi jika kita belum mengisi data NPWP.

Beban PPN untuk UMKM dan Strategi Toko

Beban PPN 11% memang sangat berat bagi UMKM. Ini membuat kita berpikir apakah strategi membatasi omset di satu toko itu diperlukan. Betul, PPN untuk UMKM itu tidak masuk akal. Terutama jika lawan main kita (seperti konveksi atau supplier) belum berbadan hukum atau belum PKP, sehingga tidak menerbitkan PPN. Artinya, sebagai seller, kita akan menanggung penuh 11% PPN tersebut, yang membuat kita tidak kompetitif.

Ini sangat memberatkan, apalagi di era persaingan sekarang. Saya sangat tidak menyarankan PPN untuk pedagang biasa. Mungkin untuk brand besar yang fokus pada branding, PPN bisa dipertimbangkan, tapi untuk pedagang biasa, sangat tidak ideal.

ROAS Ideal untuk Iklan

Seorang teman bertanya tentang ROAS ideal. Jika kalkulator menunjukkan ROAS minimal 5,3 dan Seller Center 6,6, mana yang menjadi target 'achieve'? Yang menjadi target 'achieve' adalah 5,3.

Mengelola Produk Kurang Bagus dalam Grup Iklan

Jika ada empat produk dalam satu grup iklan (misalnya satu kategori seperti parfum), dan satu produk performanya kurang bagus setelah seminggu, apakah sebaiknya dikeluarkan dari grup? Jika produk tersebut sudah mengeluarkan biaya iklan (spending), maka sebaiknya dikeluarkan saja dari grup. Jangan sampai produk yang kurang perform mengotori performa produk lain yang bagus. Namun, jika produk tersebut belum banyak spending, mungkin biarkan dulu karena bisa jadi nanti akan bagus saat sudah mulai spending.

Manajemen Saldo Iklan dan Efektivitas Prime Time

Pertanyaan selanjutnya mengenai pengelolaan saldo iklan dan apakah perlu mengejar 'prime time' tertentu (seperti malam atau siang) untuk iklan. Menurut saya, mengejar 'prime time' saat ini sudah kurang relevan. Berbeda dengan era manual, iklan sekarang lebih banyak menggunakan retargeting. Artinya, pembelian bisa terjadi dari interaksi yang dilakukan beberapa hari sebelumnya, bukan hanya pada 'prime time' tertentu.

Automated rules untuk menjalankan iklan di jam tertentu memang ada di platform lain, tapi secara umum, fokus pada 'prime time' kurang relevan di era FMX. Terkait saldo, itu tergantung kebijakan masing-masing. Saya pribadi lebih suka membatasi iklan berdasarkan budget, bukan saldo. Saldo selalu saya pastikan tersedia, tapi budget harian atau kampanye yang saya atur.

Iklan Live vs. Iklan Produk/Toko

Apa perbedaan dan pengaruh iklan live, iklan produk, dan iklan toko? Untuk iklan live, saya belum pernah mencoba, jadi belum bisa berkomentar. Sementara untuk iklan toko, pengalaman saya menunjukkan bahwa ini hanya efektif jika teman-teman memang fokus pada branding dan memiliki angka repeat order yang bagus. Branding, menurut saya, sangat erat kaitannya dengan repeat order. Jika pembeli mencari nama toko kita langsung dan repeat ordernya tinggi, barulah iklan toko patut dipertimbangkan. Jika belum, saya tidak menyarankannya.

Strategi ROAS Musiman (High/Low Season)

Seorang teman mengidentifikasi bahwa minggu pertama dan keempat adalah 'high season' dengan traffic dan penjualan tinggi, sementara minggu kedua dan ketiga cenderung turun drastis. Ia bertanya, bagaimana jika ia menurunkan ROAS di minggu kedua dan ketiga untuk menarik traffic, lalu menaikkan ROAS di minggu pertama dan keempat?

Wah, ide itu bagus sekali! Saya belum pernah terpikirkan untuk melakukan strategi seperti itu, tapi ini sangat masuk akal dan mungkin sekali berhasil. Ada beberapa seller yang saya lihat membiarkan iklannya berjalan stabil dengan budget besar, bahkan di minggu-minggu yang kurang perform (seperti minggu kedua dan ketiga). Mereka baru mendapatkan orderan signifikan di minggu keempat dan pertama. Untuk seller seperti ini, biasanya mereka melihat metrik dalam periode 30 hari terakhir. Namun, saya pribadi, sebagai pengejar tren, lebih sering melihat metrik 7 hari terakhir karena 30 hari yang lalu mungkin produknya pun belum ada. Strategi ini layak dicoba!

Durasi Pemantauan Metrik Iklan

Clarification tentang durasi pemantauan metrik iklan: apakah 30 hari atau 7 hari? Untuk toko yang tidak mengejar tren, sebaiknya pantau metrik iklan selama 30 hari terakhir. 7 hari terlalu cepat. Sementara untuk saya yang fokus pada tren, 7 hari terakhir lebih relevan karena 30 hari yang lalu mungkin produknya pun belum ada.

Strategi Menaikkan Harga Bertahap

Seorang teman ingin menaikkan harga produknya secara bertahap, dari Rp150.000 (harga diskon dari Rp250.000) menjadi target final Rp200.000. Ia berencana menaikkan Rp5.000 per minggu agar pembeli tidak kaget dan konversi tidak turun drastis. Bagaimana pandangan saya?

Strategi itu bagus. Menaikkan harga secara bertahap memang bisa mengurangi dampak kejutan bagi pembeli dan menjaga konversi. Perilaku pengguna di platform cenderung melakukan retargeting. Jika ada pembeli yang sudah memasukkan produk ke keranjang, lalu harga tiba-tiba naik drastis, kemungkinan besar mereka akan membatalkan pembelian. Kenaikan Rp5.000 per minggu mungkin tidak akan disadari oleh pembeli.

Namun, jika saya pribadi, saya lebih memilih menaikkan harga langsung di awal daripada harus repot dan lelah menaikkan secara bertahap. Meskipun kedua cara ini tidak menjamin 100% berhasil, dengan banyaknya toko yang saya kelola, saya cenderung memilih cara yang lebih efisien, yaitu langsung menaikkan harga.

Terima kasih atas pertanyaan-pertanyaannya. Semoga bermanfaat!

Salam, Ghani Rozaqi
ghanirozaqi.com

0 Response to "Insight Bisnis Online: PPN, ROAS, dan Strategi Harga untuk UMKM"

Posting Komentar