Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman. Di kesempatan kali ini, saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan menarik dan curhatan dari teman-teman seputar dunia e-commerce. Semoga jawaban yang saya berikan bisa membantu dan memberikan pencerahan.
Bolehkah Mencampur Produk Tas Sekolah dengan Kaos Anak di Satu Toko?
Pertanyaan pertama datang dari Mas Shakila. Ia bertanya apakah produk tas sekolah boleh dicampur dengan kaos anak dan seragam anak di satu toko yang sama, atau lebih baik dipisah. Menurut saya, hal ini sangat boleh dan justru bagus. Alasannya sederhana: pembelinya adalah target pasar yang sama, yaitu para ibu yang mencari kebutuhan anak.
Kemudian muncul kekhawatiran apakah traffic toko akan tabrakan jika produknya dicampur. Saya tegaskan, tidak akan tabrakan. Asalkan, jika memungkinkan, produk tersebut memiliki keseragaman, misalnya semua untuk anak laki-laki atau semua untuk anak perempuan. Semakin seragam, semakin bagus.
Mas Shakila juga menanyakan apakah perlu dibuat kategori khusus untuk produk-produk tersebut. Saya sangat menyarankan untuk merapikan kategori produk. Ini akan sangat membantu dan tidak akan mengganggu traffic. Bahkan, lintas kategori pun sebetulnya aman, meskipun penjelasannya bisa lebih panjang. Untuk kasus seperti Mas Shakila ini, mencampur produk tersebut sangat aman.
Mengelola Budget Iklan Harian: Haruskah Dilanjutkan Jika Habis Tengah Jalan?
Selanjutnya, Mas Iqbal Maulana bertanya tentang budget iklan. Ia memiliki budget maksimal Rp25.000 per hari. Jika budget tersebut habis sebelum satu hari penuh, ia tidak melanjutkan iklan dan baru melanjutkannya esok hari. Ia ingin tahu apakah hal ini berpengaruh.
Saran saya, jangan melakukan itu. Belakangan ini, banyak sekali keluhan dari para pengiklan yang iklannya tidak berjalan optimal atau 'tidak kemakan' oleh platform. Jumlah keluhan ini jauh lebih banyak dari bulan-bulan sebelumnya. Jadi, jika iklan Mas Iqbal sedang 'kemakan' atau berjalan lancar, itu berarti ia sedang beruntung atau mendapat giliran.
Oleh karena itu, maksimalkan budget iklan yang sudah berjalan. Jangan sampai nanti menyesal karena iklan justru tidak berjalan. Mas Iqbal pun mengkonfirmasi apakah iklan yang berjalan itu bagus, dan saya membenarkan, "Aslinya iya, asalkan ROAS-nya (Return On Ad Spend) benar dan tidak terlalu kacau."
Saya sendiri pun akhir-akhir ini sering mendengar cerita dan keluhan serupa tentang iklan yang tidak berjalan optimal. Bahkan, saya sendiri mengalami hal serupa di beberapa kampanye iklan saya yang berjalan terbatas, hanya menghabiskan Rp5.000 atau Rp50.000.
Mitos 100 Produk Minimal di TikTok Sebelum Iklan?
Mas Shakila kembali bertanya, kali ini mengenai platform TikTok. Ia menanyakan apakah benar ada mitos atau fakta bahwa di TikTok minimal harus memiliki 100 produk sebelum bisa di-FO (Follower Only) atau diiklankan. Mengenai hal ini, saya tidak bisa berkomentar banyak.
Saya selalu berprinsip, jika hanya berbicara teori itu mudah. Namun, karena saya tidak mempraktikkan langsung di TikTok, saya memilih untuk tidak berkomentar. Penting untuk hanya memberikan saran atau informasi berdasarkan pengalaman praktik langsung.
Memahami Perhitungan CPM: Bergantung pada Kategori dan Demand
Terakhir, Mas Iqbal Maulana kembali dengan pertanyaan mengenai CPM (Cost Per Mille). Ia ingin tahu, dengan budget harian Rp25.000, jika yang melihat iklannya sekitar 1.300-1.400 orang, bagaimana perbandingannya dengan konten saya yang, menurutnya, dengan budget Rp5.000 bisa dilihat 2.000 orang?
Saya menjelaskan bahwa ini sangat tergantung pada kategori produk dan demand (permintaan) pasar. Jadi, sangat sulit untuk membandingkannya secara langsung karena variabelnya sangat banyak dan berbeda-beda untuk setiap kasus.
Demikian beberapa tanya jawab singkat hari ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua yang sedang berjuang di dunia e-commerce. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Tanya Jawab Seputar E-commerce: Budget Iklan, Produk Campuran, dan Mitos TikTok"
Posting Komentar