My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Jualan Online: Dari Harga, Iklan, hingga Ekspedisi

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Teman-teman Ghanirozaqi.com! Senang sekali bisa kembali menyapa Anda semua di sesi tanya jawab harian ini. Saya berharap dapat membantu menjawab berbagai pertanyaan seputar jualan online yang masuk. Jika jawaban saya berhasil membantu, alhamdulillah. Jika belum, mohon dimaafkan.

Kabar Terbaru: Event Offline 'Kelek-ketek' di Bandung!

Sebelum masuk ke pertanyaan, saya ingin berbagi kabar gembira untuk teman-teman di Bandung. Saya sedang mempersiapkan sebuah event offline rutin bernama 'Kelek-ketek'. Ini adalah singkatan dari 'Kelas Konkret Praktik', di mana kita akan belajar dan langsung mempraktikkan materi di tempat. Sistemnya membership, sekali bayar untuk seterusnya, dan mudah-mudahan akan rutin setiap minggu. Setelah sukses mengadakan hampir 200 sesi Zoom meeting, kini saya ingin mencoba format offline yang tentu saja akan lebih seru. Jika Anda tertarik, silakan hubungi saya untuk mendapatkan detail lebih lanjut.

Menaikkan Harga Produk Tanpa Harga Coret: Aman atau Tidak?

Seorang peserta bertanya tentang menaikkan harga produk secara langsung tanpa menggunakan fitur harga coret, mengingat harga awal produk mereka memang tidak menggunakan diskon. Banyak penjual menggunakan harga coret agar bisa berpartisipasi dalam campaign diskon. Secara teknis, menaikkan harga langsung tanpa harga coret tidak masalah, aman saja. Namun, perlu diperhatikan bahwa perubahan harga ini dapat memengaruhi algoritma secara tidak langsung. Bukan berarti menaikkan harga akan langsung 'merusak' algoritma seperti mematikan lampu. Prosesnya lebih halus: pembeli yang melihat produk di harga lama bisa membatalkan pembelian saat melihat harga baru yang lebih tinggi di keranjang mereka. Hal ini dapat menurunkan tingkat konversi, yang kemudian membuat algoritma 'tidak suka' karena performa penjualan menurun. Oleh karena itu, menaikkan harga secara perlahan seringkali lebih efektif agar pembeli tidak menyadarinya.

Mengatasi Pembatalan Order di E-commerce

Pertanyaan berikutnya datang dari seorang peserta mengenai pembatalan pesanan di Shopee yang sering terjadi dan dampaknya pada ROAS (Return on Ad Spend) yang menjadi tidak akurat. Saya menangani kasus ini berdasarkan jenis pembayaran:

  • Untuk pesanan COD (Cash On Delivery): 90% saya setujui pembatalannya, kecuali jika barang sudah diproses ke supplier (mengingat saya menerapkan sistem dropship penuh).
  • Sedangkan untuk pembayaran Prepaid (Non-COD): Pendekatannya 50-50. Jika produk tersebut cepat laku, saya cenderung tetap mengirimkannya karena kemungkinan besar akan terjual lagi jika ada retur. Namun, jika produk kurang cepat laku, saya biasanya menerima pembatalan.

Evaluasi dan Optimalisasi Iklan: Kapan Harus Berubah?

Seorang peserta menanyakan tentang durasi evaluasi iklan dan kapan harus menggantinya setelah algoritma 'mempelajari' iklan. Durasi 'pembelajaran' algoritma bervariasi; bisa 2 hari untuk produk tren, atau bahkan berbulan-bulan tanpa hasil. Rata-rata, mungkin seminggu hingga dua minggu. Poin utamanya adalah kapan kita mengevaluasi. Jika dalam 3 hari sudah 100 klik namun tidak ada satu pun yang melakukan ATC (Add to Cart), saya sarankan untuk segera menghentikan iklan tersebut. Tidak ada gunanya melanjutkan jika hasilnya buruk. Sebaliknya, jika iklan sudah berjalan bagus, kaidahnya adalah 'jangan diganggu gugat'. Namun, seringkali muncul dilema ketika traffic bagus tapi ROAS tidak sesuai target. Dalam kasus ini, pendekatannya harus case-by-case, dengan mempertimbangkan konsistensi performa dan kondisi kompetitor.

Strategi 'Ternak Toko' dan Upload Produk: Mitos atau Fakta?

Peserta berikutnya, Mas Amilin, menanyakan tentang strategi 'ternak toko'. Ia memiliki 13 toko dan menyadari bahwa setiap toko cenderung hanya memiliki beberapa produk unggulan. Ia ingin tahu apakah mengunggah produk secara manual mendapatkan traffic lebih baik dibandingkan mengunggah secara massal melalui BigSeller atau tools serupa, terutama jika produk dan deskripsinya sama persis. Saya tegaskan bahwa ini adalah mitos. Poinnya bukan pada cara upload (manual atau massal), melainkan pada atribut produk. Jika deskripsi, thumbnail, dan semua detail produk sama persis di banyak toko, memang trafficnya cenderung tidak akan naik. Tipsnya adalah 'menyamar' sebagai kompetitor. Ubah deskripsi, variasi thumbnail, dan detail lainnya agar produk terlihat berbeda, bahkan jika itu adalah produk kita sendiri. Intinya, ciptakan variasi yang menarik agar sistem menganggapnya sebagai penawaran yang berbeda.

Memanggil Pembeli yang Belum Bayar: Bagaimana Caranya?

Mas Nazif bertanya tentang trik untuk 'memanggil' pembeli yang sudah check out namun belum melakukan pembayaran, yang persentasenya bisa mencapai 15-20%. Selain mengirimkan voucher atau japri, saya pribadi menggunakan tools auto follow-up bernama 'Duoke'. Tools ini memungkinkan pengaturan berbagai kondisi follow-up secara otomatis. Meskipun saya belum pernah secara spesifik mengukur tingkat keberhasilannya, saya tetap menggunakannya karena proses setup yang mudah dan otomatisasinya membantu menghemat waktu.

Kendala Ekspedisi AntarAja: Solusi dan Dampak

Selanjutnya, ada pertanyaan dari peserta mengenai kendala ekspedisi, khususnya AntarAja yang sering libur di hari Minggu dan mengalami masalah pada pengiriman di hari Sabtu malam atau Minggu. Saya menyarankan untuk menonaktifkan layanan AntarAja jika memang sering bermasalah. Saya juga menegaskan bahwa pilihan ekspedisi tidak memengaruhi algoritma Shopee, yang penting adalah level layanan seperti hemat, standar, atau instan. Mengaktifkan atau menonaktifkan ekspedisi secara berkala juga tidak akan menimbulkan masalah.

Optimasi Target ROAS Iklan: Turunkan Perlahan atau Otomatis?

Mas Nazif kembali bertanya tentang optimasi iklan untuk produk 'hero'-nya. Ia menargetkan ROAS 16, namun hanya mencapai 12-13. Ia ingin tahu apakah menurunkan target ROAS akan membuat iklan lebih agresif dalam mengejar spend. Saya menjelaskan bahwa secara umum, iklan memang akan lebih agresif mengejar spending jika target ROAS diturunkan. Namun, perlu diingat bahwa jika target ROAS 13, jangan berharap bisa mencapai 13; kemungkinan besar akan berada di sekitar 9-10. Ada kalanya produk tetap loyo meskipun target ROAS diturunkan. Saran saya, coba gunakan fitur 'auto' pada target ROAS. Biarkan sistem beroperasi secara otomatis sampai Anda merasa tidak sanggup lagi, baru kembalikan ke target ROAS 16. Mengubah target ROAS secara perlahan, satu atau dua poin per minggu, akan sangat memakan waktu dan hasilnya tidak selalu signifikan.

Demikian rangkuman diskusi kita hari ini. Semoga insight ini bermanfaat untuk Anda. Jangan lupa, bagi yang di Bandung dan tertarik dengan event 'Kelek-ketek', informasi lebih lanjut bisa didapatkan dengan menghubungi saya. Sampai jumpa di sesi berikutnya! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Strategi Jualan Online: Dari Harga, Iklan, hingga Ekspedisi"

Posting Komentar