Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Setiap hari, saya berusaha menjawab pertanyaan dan keluhan Anda seputar berjualan di marketplace, berharap jawaban saya bisa bermanfaat. Saya juga ingin mengingatkan, ini adalah hari terakhir pendaftaran bootcamp Ternak Toko batch 15. Jika Anda ingin bersiap untuk promo Agustusan, ini waktu yang tepat untuk bergabung bersama kami di komunitas dropship, karena ini adalah momentum yang pas, dua bulan sebelum Agustusan, untuk kita berjuang bersama.
Mengatasi Iklan "Anyep" ala Mas Alvi
Dalam sesi ini, Mas Alvi Muhammad menyampaikan keluhannya tentang iklan di Shopee yang mendadak 'anyep' atau tidak efektif. Sebelumnya, traffic iklannya sangat bagus, bahkan setelah Lebaran. Namun, setelah ada pembaruan iklan yang berfokus pada CPM, iklannya justru menjadi boros dan tidak menghasilkan penjualan, terutama untuk produk fashion dengan brand sendiri. Mas Alvi berharap RoAS (Return on Ad Spend) bisa mencapai 13, namun kenyataannya iklan otomatis hanya menghasilkan RoAS 5.
Melihat kondisi ini, saya menyarankan dua pendekatan. Pertama, jika RoAS 5 masih bisa didapat, lebih baik menaikkan harga produk dan menerima RoAS 5 daripada memaksakan RoAS 13 namun tidak ada penjualan sama sekali. Kedua, coba 'kejutkan' iklan Anda dengan traffic orders. Mintalah teman atau kenalan untuk melakukan order dalam jumlah banyak (misalnya 20 produk) tanpa perlu dibayar, hanya untuk memicu matriks iklan dan 'membangunkan' algoritma. Setelah itu, amati apakah RoAS meningkat dan hasilnya bagus. Jika tidak, kembali ke strategi pertama.
Lebih lanjut, saya menekankan pentingnya 'Ternak Toko' sebagai solusi omni di era sekarang. Ini berfungsi sebagai laboratorium pribadi. Jika satu toko mengalami 'anyep', toko lain mungkin tidak, atau jika semua toko 'anyep', kita tahu bahwa pasar sedang tidak kondusif dan tidak perlu dipaksakan. Selain itu, dengan banyak toko, kita bisa lebih mudah mengejar tren, seperti persiapan untuk promo Agustusan. Oleh karena itu, saya sangat menyarankan untuk mulai 'ternak toko' dari sekarang, baik melalui bootcamp atau dengan cara lain.
Strategi Market Share dan CPAS untuk Mas Bagus Adi
Mas Bagus Adi dari Bogor juga menghadapi masalah serupa dengan iklan untuk produk rumah tangga (hand sanitizer, disinfektan) brand miliknya. Ia menargetkan RoAS 5-10, namun realisasinya hanya 3-4. Pertanyaan utamanya adalah, apakah market share produknya memang hanya segitu, dan haruskah ia mulai menggunakan CPAS (Collaborative Performance Advertising Solution)?
Mengenai market share, saya menyarankan untuk tidak hanya terpaku pada omset toko-toko besar yang terlihat di data pintar. Omset tinggi bisa jadi didapat dari banyak afiliator atau personal branding yang kuat, yang sulit untuk diikuti oleh seller biasa. Cara paling realistis untuk mengetahui demand adalah dengan melihat volume pencarian di Shopee. Jika volume pencarian produk seperti disinfektan hanya puluhan ribu per bulan, berarti pasar memang kecil, dan jangan memaksakan diri. Sesuaikan target omset dengan realita pasar tersebut.
Untuk CPAS, saya rasa layak dicoba, namun dengan hati-hati. Berdasarkan pengalaman saya, CPAS efektif terutama untuk retargeting dan membutuhkan minimal 1000 pengunjung per hari agar terasa dampaknya. Mencari audiens baru melalui CPAS cenderung berat dan berpotensi boncos. Kuncinya adalah mendatangkan traffic dari luar. Shopee menyukai traffic eksternal. CPAS bisa mahal untuk ini, namun traffic dari afiliator sangat direkomendasikan. Bahkan tanpa penjualan langsung, traffic dari afiliator memberi sinyal positif kepada algoritma Shopee bahwa produk Anda menarik perhatian.
Tantangan Regulasi Impor dan Pengawasan untuk Mas Hendra
Sesi dilanjutkan dengan cerita pengalaman kurang menyenangkan dari Mas Hendra. Ia menjual produk beauty seperti body care dan skincare yang sudah BPOM. Namun, masalah muncul dari produk pelengkap impor dari Cina seperti jepit rambut dan bulu mata. Ternyata, produk-produk aksesoris ini dianggap melanggar regulasi, bukan produk utamanya yang sudah BPOM.
Saya cukup terkejut mendengar kasus ini, karena biasanya produk impor yang sudah sampai di tangan seller melalui mekanisme door-to-door berarti sudah melewati pemeriksaan cukai dan lolos. Ini menandakan adanya pengawasan regulasi yang semakin ketat. Mbak Pesona, peserta lain, juga berbagi pengalaman serupa di Jawa Timur, di mana produk kosmetik aksesorisnya menjadi target pemeriksaan. Persyaratan seperti SNI, halal, hingga BPJS menjadi sorotan. Ia bahkan sempat menutup tokonya selama sebulan untuk mengurus semua legalitas agar bisa berjualan dengan aman.
Kasus-kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pejuang UMKM. Kita perlu sangat berhati-hati, terutama jika produk kita mulai viral, karena ini bisa menarik perhatian pihak berwenang. Shopee, dengan visibilitasnya, kerap menjadi sorotan bagi pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan regulasi. Maka dari itu, pastikan semua legalitas dan perizinan produk Anda lengkap untuk menghindari masalah di kemudian hari.
Semoga sharing kali ini bermanfaat bagi Anda semua. Jangan lupa untuk selalu mencari informasi terbaru mengenai regulasi dan strategi jualan. Sampai jumpa di sesi berikutnya!

0 Response to "Strategi Hadapi Iklan "Anyep" hingga Tantangan Regulasi Impor untuk Seller Shopee"
Posting Komentar