Setiap hari, saya mencoba menjawab pertanyaan dan curhatan teman-teman seputar bisnis online. Saya berusaha membuka blind spot yang mungkin teman-teman tidak sadari. Bukan karena saya yang paling ahli, tetapi alhamdulillah saya sudah banyak melihat berbagai kasus penjualan dan tantangan yang dihadapi para pelaku bisnis.
ROAS dan Akselerasi Performa: Kapan Harus Menaikkan Target?
Seorang teman menanyakan tentang akselerasi performa yang pernah saya bagikan. Ia bertanya apakah target ROAS (Return on Ad Spend) harus dinaikkan ketika akselerasi diaktifkan, mengingat kalkulator ROAS sering menyarankan kenaikan sekitar 30%. Jawaban saya tegas: tidak. Saya mengaktifkan akselerasi langsung dari ROAS sebelumnya tanpa menaikkannya.
CTR Tinggi, Konversi Rendah: Apa yang Harus Dilakukan?
Pertanyaan berikutnya datang dari Mas Supriadi mengenai Click-Through Rate (CTR) yang sudah bagus (5.6%) namun tingkat konversi masih rendah (0.7%). Ini adalah kasus yang menarik karena traffic sudah ada, tetapi konversinya belum optimal. Banyak seller lain justru kesulitan di CTR.
Untuk kasus seperti ini, jika saya masih mengelola satu toko, saya akan mencoba pendekatan ekstrem: melakukan flash sale dengan harga HPP (Harga Pokok Penjualan) untuk melihat bagaimana conversion rate berubah. Jika dari 0.7% melompat jadi 10% (meskipun boncos karena jual HPP), artinya ada potensi. Dari situ, saya akan mulai menyesuaikan harga secara bertahap sampai menemukan titik keseimbangan conversion rate yang ideal dan nyaman.
Penting diingat, jangan mengubah thumbnail atau foto produk karena CTR sudah baik. Video mungkin bisa dioptimalkan, tapi dampaknya tidak terlalu signifikan. Untuk review, ini jelas sangat penting dalam berjualan online. Mengenai menghapus review melalui Customer Service, dulu mungkin bisa, tapi sekarang tampaknya sudah tidak memungkinkan tanpa persetujuan langsung dari pengguna.
Strategi Produk Baru dan ROAS: Otak-Atik Iklan vs. Set and Forget
Kemudian, ada pertanyaan tentang produk baru yang tidak jalan saat akselerasi dimatikan di minggu kedua dengan ROAS 15. Ketika ROAS dinaikkan ke 20 dan akselerasi diaktifkan, ada sedikit penjualan. Teman ini bertanya apakah produk yang belum laku sebaiknya dinaikkan ROAS-nya ke 20 dengan akselerasi on, atau tetap di 15 saja.
Saya selalu mengingatkan, penjualan itu belum tentu karena kita mengotak-atik iklan. Percayalah, otak-atik iklan tidak akan memberikan hasil dua kali lipat lebih baik dibanding dengan pendekatan 'set and forget'. Saya sering melihat orang sibuk mengubah pengaturan iklan setiap hari, namun hasilnya tidak jauh berbeda dengan yang membiarkannya saja. Dalam kasus ini, ROAS 20 dengan akselerasi on atau ROAS 15 menurut saya tidak akan banyak berbeda. Saya pribadi akan memilih ROAS 15 dan membiarkannya. Jika impression mulai turun, barulah saya aktifkan akselerasi performa.
Produk yang belum laku biarkan saja, tidak perlu diotak-atik iklannya. Lebih baik kita fokus pada hal lain seperti harga untuk menguji conversion rate, seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Seringkali, setelah mengubah pengaturan iklan, kita merasa ada penjualan karena 'cocoklogi' kita. Padahal, kita tidak pernah tahu keyword mana yang bekerja atau apakah pembeli berasal dari lower funnel atau upper funnel. Kita harus terus beradaptasi dengan kondisi ini.
Pentingnya Laporan Keuangan di Marketplace dan Pilihan Tools
Seorang teman menanyakan tentang laporan keuangan di marketplace, berharap saya membuat konten tentang hal ini. Ia menyoroti bagaimana banyak seller, bahkan yang besar, sering salah dalam mengelola keuangan, yang berujung pada masalah stok atau boncos. Saya sebenarnya sudah pernah membuat konten tentang laporan keuangan, namun view-nya kecil karena memang belum banyak yang sadar akan pentingnya hal ini. Materi laporan keuangan yang lengkap ada di modul bootcamp saya.
Namun, pesan saya untuk yang sudah 'insaf' akan pentingnya laporan keuangan adalah: jangan terlalu fokus pada tools dulu. Pahami dulu konsep dasarnya, khususnya soal debit dan kredit. Pakai Excel pun tidak masalah, meskipun memang cukup memusingkan. Setelah pemahaman dasar kuat, barulah migrasi ke tools seperti Accurate, Odoo, atau yang lainnya. Jangan langsung memakai tools kompleks tanpa dasar pemahaman yang baik, karena akan percuma. Saya sendiri sekarang menggunakan Odoo dan merasa sangat terbantu.
Fitur Pengiriman Cepat: Benarkah Menguntungkan Seller?
Lalu, teman ini juga menanyakan tentang fitur pengiriman cepat. Fitur ini tidak bisa langsung diaktifkan sendiri, harus melalui CS. Meskipun terkadang bisa aktif secara otomatis, banyak yang menyarankan untuk mematikannya karena seringkali produk kita 'mengendap' di cabang tertentu, seperti Cakung. Saya setuju dengan hal ini. Sejujurnya, saya tidak melihat adanya benefit signifikan bagi seller dari pengiriman cepat ini. Dana cair lebih lama, barang bisa hilang, dan belum tentu laku. Bahkan untuk perbaikan organik pun tidak terlalu berdampak. Kecuali untuk produk deadstock, mungkin bisa dipertimbangkan jika ada tawaran dari program pengiriman kilat.
Memilih Sistem ERP: Odoo untuk Pemula?
Mas Banu bertanya tentang Odoo yang tadi saya sebut. Ia sudah mendapatkan penawaran dan mengikuti kelas Odoo. Odoo memang sedang gencar mencari UMKM. Menurut saya, Odoo itu bagus, tetapi untuk pemula, terutama jika kita bicara modul keuangannya, Odoo kurang cocok. Alasannya, Odoo bersifat full customize; kita harus membuat Chart of Accounts (COA) sendiri dan melakukan banyak penyesuaian dari awal.
Namun, jika pondasi laporan keuangannya sudah benar, Odoo akan sangat membantu dan fleksibel. Berbeda dengan Accurate atau tools lain yang mungkin memiliki preset yang memudahkan di awal, tetapi bisa menjadi membatasi ketika bisnis mulai kompleks. Jadi, Odoo ini punya plus minus. Saran saya tetap sama: mulai dengan Excel atau Google Sheet untuk memahami konsep dasar, baru kemudian migrasi ke sistem double entry yang lebih canggih.
Investasi Kurban: Pengalaman Pribadi dan Tips Mencari Kepercayaan
Mas Syarkila kembali bertanya, kali ini tentang pengalaman saya beternak kambing untuk kurban tahun lalu, menanyakan apakah saya akan melanjutkannya dan bagaimana mencari orang terpercaya di Garut untuk hal ini. Banyak yang tertarik karena terlihat 'tidak mengeluarkan banyak effort'. Namun, sejujurnya, itu cukup menegangkan! Program tersebut tidak scalable karena saya bekerja sama dengan seorang ustaz yang mengurusnya bersama para santri, dan ustaz tersebut kenal baik dengan mendiang ayah saya, sehingga ada dasar kepercayaan. Ada banyak kekhawatiran jika terjadi masalah, misalnya jika dombanya mati, kita tidak bisa menuntut. Alhamdulillah, domba saya hidup sampai hari kurban setahun kemudian.
Jadi, pengalaman itu lebih seperti 'iseng-iseng' saja karena ada kenalan dan kepercayaan. Jika teman-teman memiliki kenalan yang bisa dipercaya, silakan saja. Tapi jika sama sekali tidak mengenal orangnya, saya sangat tidak menyarankan.
Demikian beberapa pertanyaan yang berhasil saya jawab hari ini. Semoga bermanfaat bagi Anda dalam mengembangkan bisnis online Anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai strategi bisnis atau jika Anda ingin berdiskusi lebih mendalam, jangan ragu untuk mengunjungi website saya di ghanirozaqi.com.

0 Response to "Mengupas Tuntas Tantangan Bisnis Online: Dari CTR Rendah hingga Laporan Keuangan"
Posting Komentar