My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Mengupas Tuntas Strategi Iklan Shopee dan Pemanfaatan AI untuk Bisnis Online

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman. Saya selalu berusaha membantu menjawab curhatan teman-teman, berharap bisa meringankan beban atau setidaknya memberikan solusi. Kali ini, saya akan membahas beberapa pertanyaan menarik seputar bisnis online, khususnya di Shopee, dan bagaimana teknologi AI dapat berperan.

Menjeda Iklan Saat Stok Menipis

Mas Iqbal Maulana bertanya, apakah iklan boleh dijeda? Tentu saja boleh. Ia menjelaskan bahwa stoknya menipis dan ingin menjeda iklan bukan hanya sehari, mungkin 2-4 hari. Ia juga bertanya apakah lebih baik membuat iklan baru lagi.

Saya menyarankan untuk jangan dilanjutkan. Menurut saya, dalam situasi seperti ini, tidak ada pilihan yang benar-benar terbaik, hanya ada pilihan yang lebih baik dan yang buruk. Jika iklan dilanjutkan saat stok menipis, bisa saja terkena penalti karena tidak bisa mengirim, atau konversi produk bisa menurun jika varian laris sedang kosong. Jadi, menjeda iklan adalah pilihan yang paling masuk akal dan 'tidak terlalu menyakitkan'.

ROAS GP Max Melonjak Drastis

Selanjutnya, Mas Hari Pasar bertanya tentang fenomena beberapa minggu terakhir, di mana jika ada penjualan lebih dari satu di salah satu produk, biaya iklan tiba-tiba melonjak tinggi, menyebabkan ROAS menurun drastis dari biasanya. Ia menduga ini karena kenaikan biaya iklan atau perubahan dari *cost per click* menjadi *cost per miles*, yang membuat iklan menjadi lebih mahal.

Saya menjelaskan bahwa fenomena ini sudah lama terjadi. Jika ada banyak orderan tiba-tiba, ROAS memang bisa naik di menit atau jam itu. Namun, jika algoritma tidak berhasil menemukan pembeli baru setelah itu, biaya iklan bisa 'moncos' (tidak efektif). Ini adalah salah satu kelemahan GP Max sejak dulu. Alasannya bukan semata-mata perubahan sistem, tetapi memang *performance* produk di Shopee cenderung berubah-ubah sepanjang tahun.

Untuk mengatasi lonjakan biaya iklan dan membangun GP Max yang ampuh, saya sering menyarankan metode 'Arisan Order', yaitu meminta teman untuk membeli produk kita agar ROAS meningkat secara natural.

Strategi Toko Baru dan 'Friend Order'

Mas Banu Manar Nika bertanya apakah untuk toko baru lebih baik menggunakan JV Max daripada ROAS, dan seberapa pengaruh 'fake order' (meminta teman membeli lalu memberikan ulasan). Saya menjelaskan bahwa untuk toko baru, JV Max atau ROAS memang cenderung berjalan lambat. Jika punya 1-2 toko, saya sarankan untuk bermain 'auto' saja, tapi dengan batasan yang jelas agar tidak 'bocor' (mengalami kerugian parah).

Mengenai *fake order*, itu memang efektif untuk meningkatkan penjualan karena membangun kepercayaan. Namun, saya pribadi lebih suka menyebutnya 'friend order', yaitu mengajak teman untuk membeli secara sukarela. Mempersuasi teman untuk membeli, bahkan dengan harga murah, adalah bagian dari marketing yang efektif.

Efek Fitur Libur Toko Shopee

Mas Alfaruk bertanya apakah fitur libur toko di Shopee jika diaktifkan hanya sehari akan berpengaruh, terutama jika tokonya sudah menjadi *market leader* dan khawatir peringkatnya turun. Saya menegaskan bahwa libur sehari itu aman dan tidak terlalu berpengaruh signifikan pada algoritma atau pencarian. Dampaknya baru akan terasa jika libur selama 3-5 hari.

Yang paling terasa adalah dari sisi pelanggan, di mana mereka tidak bisa melakukan *checkout* atau membeli produk karena toko sedang libur. Saya juga menekankan pentingnya mendahulukan hal-hal penting lainnya, seperti acara keluarga atau kesehatan mental, daripada terlalu 'cinta' pada toko sampai tidak mau libur.

Pemanfaatan AI (ChatGPT & Kodex) untuk Bisnis Online

Mas Amir membagikan pengalamannya setelah mendapatkan *insight* dari saya. Ia mencoba investasi saham dan membuat kontennya di TikTok menggunakan ChatGPT, yang ternyata meledak dengan ribuan tayangan. Ia juga menemukan 'Kodex', sebuah AI yang bisa membantu mengelola toko Shopee, mulai dari seleksi produk untuk iklan hingga menjalankan promosi. Mas Amir khawatir jika AI ini melakukan hal di luar perintahnya.

Saya menjelaskan bahwa saya juga menggunakan AI, meskipun bukan Kodex, dan masih sangat berhati-hati. Kunci utama adalah 'otak' atau *knowledge* yang kita berikan kepada AI. Jika AI 'kosongan', ia cenderung bekerja tidak sesuai harapan. Saya menggunakan *script* berbasis JavaScript yang semi-otomatis, bukan dari OpenAI, melainkan dari Google. Meskipun menggunakan *brain* khusus, saya tetap memantau karena otomatisasi penuh masih berisiko. Memang, arah pengembangan teknologi ke depan akan menuju otomatisasi semacam ini, seperti yang sudah diluncurkan oleh Meta.

Mas Amir mengungkapkan konten TikTok-nya bisa mencapai 5.000-6.000 tayangan berkat ChatGPT. Saya mengingatkannya untuk berhati-hati agar tidak 'menjerumuskan' akun baru atau memberikan informasi yang salah.

Rekomendasi AI untuk Analisis Shopee

Seorang teman bertanya apakah AI juga bisa digunakan untuk menganalisis iklan Shopee. Saya membenarkan bahwa itu sangat mungkin. Saya pribadi menggunakan Notebook LM, bukan ChatGPT, untuk analisis kasual. Untuk analisis yang lebih berat, saya menggunakan *tools* berbayar. Saya sengaja menggunakan yang berbayar agar termotivasi untuk terus mengulik dan memaksimalkannya. Dari semua yang saya sebutkan, Notebook LM adalah yang paling saya gunakan untuk Shopee. Mengenai pembuatan konten atau tutorial mendalam tentang penggunaan AI ini, materi tersebut biasanya saya bagikan di *bootcamp* atau pertemuan *offline*.

Strategi Optimasi Iklan Produk di Shopee

Terakhir, Mas Niton bertanya tentang optimasi iklan. Ia memiliki kasus di mana biaya iklan Rp100.000 per hari untuk 18 produk, dari jam 9 pagi hingga 3 sore. Ia ingin tahu apakah lebih baik fokus mengiklankan produk *winning* (yang lebih sedikit) atau tetap mengiklankan banyak produk.

Saya menjelaskan bahwa ini tergantung pada 'skor toko'. Definisi *winning product* bagi saya adalah produk yang terjual minimal satu per hari secara konsisten. Jika sudah memiliki empat *winning product* seperti itu, akan sangat sulit untuk mendapatkan *winning product* kelima, keenam, atau ketujuh, kecuali jika menjual produk murah atau memiliki *branding* yang sangat kuat. *Best practice* saya adalah jika sudah mencapai target *winning product*, lebih baik fokus ke toko lain daripada terlalu memaksa.

Jika belum ada *winning product*, kita harus 'menebar jala' dulu dengan mengaktifkan banyak iklan. Saya menyarankan untuk menargetkan tiga hingga empat *winning product*. Setelah itu, iklan untuk produk lain bisa dijalankan lebih 'santai', mungkin dengan ROAS yang tidak terlalu agresif atau menggunakan iklan otomatis. Tujuannya adalah untuk menjaga algoritma, karena kadang produk *winning* pun bisa tiba-tiba menurun performanya. Dengan memiliki 'bibit' produk lain, kita punya cadangan jika yang utama melemah.

Itu dia beberapa pembahasan menarik seputar optimasi bisnis online dan Shopee. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Mengupas Tuntas Strategi Iklan Shopee dan Pemanfaatan AI untuk Bisnis Online"

Posting Komentar