My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Eksperimen Voucher Spesial Toko Shopee: Apakah Benar Biang Kerok Iklan Boncos?

Saya ingin melaporkan hasil eksperimen yang saya lakukan. Beberapa waktu lalu, saya menyadari iklan Shopee yang saya jalankan semakin boncos. Selisih antara pengeluaran dan pendapatan semakin tinggi. Misalnya, dengan budget tertentu, penjualan yang didapatkan jauh lebih rendah, menandakan iklan menjadi lebih agresif namun tidak menghasilkan penjualan.

Setelah menyadari hal ini, saya memutuskan untuk melakukan eksperimen dengan mematikan fitur voucher spesial toko. Saya menduga fitur inilah yang menjadi biang kerok masalah ini. Sebenarnya ada beberapa kecurigaan lain, seperti matriks ATC dan sistem CPM, namun eksperimen ini saya fokuskan pada voucher spesial toko yang saya anggap sebagai 'kambing hitam' dalam isu iklan boncos ini. Mari kita lihat hasilnya.

Eksperimen pada Toko Sepi

Sejujurnya, saya belum menemukan kesimpulan yang mutlak, namun saya akan tetap membagikan data yang ada. Ini adalah toko yang tidak terlalu ramai, bahkan bisa dibilang sepi. Dalam sebulan terakhir, toko ini hanya menghasilkan penjualan sekitar 3 juta rupiah dengan sekitar 10 transaksi. Saya mematikan voucher spesial toko pada tanggal 25 atau 26.

Setelah saya matikan, dampaknya tidak langsung terlihat menurun. Awalnya sempat naik, lalu seminggu ke belakang memang sempat turun drastis, meskipun kini ada indikasi akan mulai naik kembali. Inilah mengapa saya belum bisa memberikan kesimpulan yang kuat dari kasus ini. Penurunan penjualan mungkin saja terjadi karena memang tidak ada penjualan, bukan semata-mata karena voucher spesial toko dimatikan.

Namun, yang jelas saya berhasil menghemat pengeluaran. Sebelumnya, dari tanggal 18, iklan terus berjalan tanpa ada penjualan. Setelah saya matikan voucher, tiga hari kemudian toko 'tidur' dan tidak menemukan penjualan. Jadi, untuk kasus ini, ada dua kemungkinan: pertama, memang tidak ada penjualan, sehingga toko jadi sepi; kedua, memang karena voucher spesial toko dimatikan. Mungkin saja jika saya tidak mematikannya, iklan akan terus menghabiskan sekitar 5.000 hingga 10.000 rupiah per hari tanpa hasil. Namun, saya masih belum yakin sepenuhnya.

Eksperimen pada Iklan Produk

Eksperimen kedua saya lakukan pada level iklan produk. Setelah saya mematikan voucher spesial toko, iklan produk ini juga sempat 'tidur' atau tidak ada pengeluaran signifikan. Namun, sekarang perlahan mulai naik kembali. Saya mematikannya di hari yang sama, sekitar tanggal 26.

Sebelum tanggal 26, iklan terus menghabiskan sekitar 15.000 hingga 6.000 rupiah setiap hari. Angka ini mungkin terlihat kecil, tetapi bayangkan jika terjadi di 50 toko, tentu akan memusingkan. Saat itu tidak ada penjualan sama sekali. Tiba-tiba, ada beberapa penjualan terjadi. Kemudian, saya mematikan voucher spesial toko, dan pengeluaran iklan mulai menurun. Saya tidak melakukan perubahan apa pun pada pengaturan iklan selama 30 hari terakhir, kecuali mematikan voucher spesial toko. Kebetulan, saya mematikannya di hari saat ada penjualan.

Kesimpulan Sementara

Sekali lagi, ini belum bisa ditarik kesimpulan yang pasti. Memang benar, tiga hari setelah saya matikan, pengeluaran sempat turun, namun sekarang ada indikasi akan naik lagi. Seharusnya, untuk validitas eksperimen, saya mematikan voucher spesial toko saat tidak ada penjualan sama sekali. Hal ini membuat hipotesis saya menjadi kurang valid.

Jadi, itulah laporan hasil eksperimen saya. Apakah Anda akan melanjutkan penggunaan voucher spesial toko atau tidak, itu kembali ke keputusan masing-masing. Yang jelas, dari dua kasus yang saya amati, mematikan voucher spesial toko tidak terlalu berpengaruh, toko tetap saja sepi.

0 Response to "Eksperimen Voucher Spesial Toko Shopee: Apakah Benar Biang Kerok Iklan Boncos?"

Posting Komentar