My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Tanya Jawab Seputar Shopee: Gratis Ongkir, Iklan, Traffic, dan Peluang 2026

Bismillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman. Selamat datang di forum harian kita, sesi 15 menit setiap hari. Saya harap bisa menjawab pertanyaan teman-teman dan semoga jawaban ini bermanfaat. Kalau tidak berhasil, saya hanya bisa meminta maaf.

Masalah Gratis Ongkir Ekstra Shopee

Pertanyaan pertama datang dari Mas Rian. Ia bertanya, "Kang, saya membuat toko baru di Shopee, tapi belum bisa mengaktifkan gratis ongkir. Padahal, saya melihat di pusat promosi ada pilihan gratis ongkir trial. Saya sudah daftar, dan sudah ada tiga orderan, tapi promo gratis ongkirnya tidak aktif. Bagaimana ini, Kang?"

Saya bertanya balik, "Gratis ongkir ekstra atau gratis ongkir biasa?"

Mas Rian menjawab, "Gratis ongkir ekstra, Kang. Benar."

Saya juga merasa bingung dengan fitur ini. Video yang saya unggah tadi malam juga mengalami masalah serupa, sering keluar sendiri dan pendaftarannya sulit. Saya tidak yakin apakah itu error atau memang disengaja oleh Shopee. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus mencoba mendaftar. Mengenai syarat, saya rasa jika sudah ada orderan dan bukan toko baru, seharusnya sudah memenuhi. Sejujurnya, saya tidak tahu solusi pastinya.

Mas Rian melanjutkan, "Kang, masih tentang gratis ongkir. Dulu, toko pertama saya bisa langsung daftar gratis ongkir dan langsung aktif. Sekarang, saya sudah sebulan ini kurang memantau iklan. Bukan kurang memantau, tapi memang tidak evaluasi karena penalti toko sudah besar." Saya menimpali, "Oh, itu namanya menyerah." Ia tertawa, "Penalti saya sudah sembilan, Kang, jadi sudah pasrah."

Ia melanjutkan, "Saya juga belum sempat menonton video Kang Ghani. Apakah program gratis ongkir ini sekarang ada kaitannya dengan iklan di Shopee? Maksudnya, kalau iklan rutin, nanti bisa dapat subsidi atau bagaimana?"

Saya menjawab, "Iya, betul. Kalau iklan kita mencapai persentase tertentu dari GMV (Gross Merchandise Volume), sekitar 3% atau 1,5%, kita bisa mendapatkan diskon admin fee pada komponen gratis ongkir. Setahu saya begitu, tapi detailnya saya kurang ingat."

Mas Rian menimpali, "Iya, Kang. Saya sudah baca tapi belum mengerti. Saya menunggu Kang Ghani menjelaskan biar lebih paham." Saya tertawa dan menjelaskan, "Sebenarnya simpel. Di bagian iklan, ada bar indikator, kalau tidak salah 3% atau 1,5%. Jika kita memenuhi target itu, kita akan mendapatkan diskon admin fee. Saya tidak tahu pasti apakah itu diskon admin fee untuk komponen gratis ongkir atau promo ekstra gratis ongkir, saya tidak terlalu detail tentang itu."

Mas Rian memastikan, "Berarti itu diskon admin fee, bukan subsidi untuk customer, ya, Kang?"

Saya tegaskan, "Bukan, bukan. Kalau subsidi untuk customer itu berbeda lagi."

Mas Rian mengerti, "Oh, beda lagi. Oke, siap Kang. Terima kasih, Kang."

Dampak Kenaikan Harga pada Traffic

Selanjutnya, Mas Waluyo bertanya, "Kang, saya jualan celana. Ukuran 33 sampai 34 sedang kosong. Kalau saya naikkan harganya untuk mengurangi checkout, apakah itu akan memengaruhi traffic toko?"

Saya jelaskan, "Tentu saja akan berpengaruh. Menaikkan harga memang seringkali menjadi momok. Logikanya begini, teman-teman. Ketika kita menaikkan harga hari ini, pembeli hari ini belum tentu hanya melihat produk hari ini. Mereka mungkin sudah melihat 3 hari, 7 hari, bahkan 30 hari yang lalu. Jika 30 hari lalu mereka menambahkan produk ke keranjang dengan harga Rp100.000, lalu hari ini saat mau checkout harganya sudah Rp125.000 (contoh ekstrem), mereka bisa saja batal beli. Ini tidak langsung memengaruhi traffic, melainkan membuat calon pembeli enggan melanjutkan pembelian. Dalam sistem online seperti Shopee, TikTok, atau Instagram, mereka sangat mengapresiasi conversion rate. Jadi, jika conversion rate menurun, algoritma platform tidak akan menyukainya."

Mas Waluyo menanggapi, "Oke, berarti lebih baik dibiarkan saja, ya, Kang?" Saya menambahkan, "Sejujurnya, stok yang habis saja sudah menurunkan conversion rate. Bahkan, justru lebih baik jika harganya diturunkan agar conversion rate tetap terjaga, sampai nanti ukuran 33-35 kembali tersedia."

Mas Waluyo mengerti, "Oke, siap Akang. Terima kasih, Kang."

Menonaktifkan Jasa Pengiriman Instan

Lalu, Mas Iqbal Maulana bertanya, "Kang, kemarin saya melihat konten Kang Ghani tentang apakah meliburkan toko berpengaruh pada traffic. Nah, bagaimana jika yang dimatikan adalah jasa pengirimannya, Kang? Misalnya, saya sedang keluar kota dan tidak bisa menggunakan pengiriman instan, jadi saya matikan opsi instannya."

Saya bertanya, "Berapa persen kontribusi pengiriman instan untuk tokomu?" Mas Iqbal menjawab, "Sebenarnya kontribusinya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan yang lain." "Sampai 10%?" tanyaku. "Tidak sampai." "Oh, aman kalau begitu. Kurir aman," saya menyimpulkan.

Mas Iqbal memastikan, "Berarti kalau saya sedang keluar, saya matikan, lalu saat kembali saya aktifkan lagi, tidak masalah, ya?" Saya menjawab, "Tidak apa-apa."

Saya tambahkan, "Bahkan untuk pengiriman instan, teman-teman, toko yang mengaktifkannya dan sedang ramai pun terkadang ada opsi untuk menjeda pengiriman instan. Hal ini karena di lapangan seringkali kurir sulit didapatkan atau sistem pengiriman seperti SPX atau Gojek mengalami masalah. Seharusnya, Shopee tidak memberikan penalti untuk hal semacam ini, karena dari sistem mereka sendiri terkadang pengiriman instan bermasalah."

Menghadapi Marketplace 2026 dan Pentingnya Iklan

Selanjutnya, Mas Amilin mengajukan pertanyaan: "Bagaimana menghadapi marketplace 2026? Apakah bagi peternak toko wajib beriklan, tidak bisa lagi mengandalkan penjualan organik?" Ia mencoba menambahkan pertanyaan kedua, "Apa yang Kang Ghani lakukan setelah event 6.6?" Saya memintanya untuk fokus pada satu pertanyaan karena ada antrean. Ia tertawa.

Menjawab pertanyaan Mas Amilin tentang 2026, saya melihatnya sebagai peluang emas, terutama bagi saya yang ‘beternak toko’. Banyak yang mulai takut untuk melakukan hal ini, mulai dari kesulitan KTP, pendaftaran rekening, hingga isu NIB yang memang sulit. Meskipun demikian, karena saya sudah terlanjur ‘nyemplung’ dan tahu manfaatnya, saya akan menghadapinya. Bahkan jika nanti pendaftaran NIB mengharuskan membuat 50, saya akan lakoni. Hal ini juga akan menyaring para ‘seller siluman’. Seharusnya, dengan NIB, pendaftar harus WNI, tidak sekadar KTP. Jadi, seller siluman dari Cina sana akan lebih sulit mendaftar. Bagi saya, kesulitan dalam ‘beternak toko’ ini adalah peluang emas.

Dan mengenai iklan, realistisnya sekarang memang harus beriklan, terlepas dari apakah kita ‘beternak toko’ atau tidak. Meskipun begitu, memang ada juga toko-toko yang masih berjalan tanpa iklan.

Mas Amilin merespons, "Oke, siap. Terima kasih. Untuk pertanyaan yang satu lagi, besok saja, ya." (tertawa). "Soalnya ada antrean. Kalau tidak antre tidak apa-apa."

Kode Iklan yang Tidak Berfungsi

Berikutnya, Mas Bandung bertanya, "Kang, pertanyaan saya simpel. Kode iklan yang sering Kang Ghani bagikan, kenapa tidak bisa digunakan?"

Saya kaget, "Oh, tidak bisa? Sudah pernah pakai sebelumnya?"

Mas Bandung menjawab, "Belum. Setiap kali Kang Ghani kasih, saya langsung coba di akun, tapi tidak pernah berhasil."

Saya mengatakan, "Oh, begitu. Saya juga belum cek. Baiklah, nanti saya cek dulu."

Pengiriman Kilat

Selanjutnya, Mas Alko Aiko bertanya, "Assalamualaikum, Kang. Untuk pengiriman kilat, apakah masih diaktifkan, Kang?"

Saya menyarankan, "Oh, matikan saja. Itu tidak ada untungnya bagi seller. Menurut saya, itu zalim. Apa untungnya coba?"

Mas Alko Aiko mengeluh, "Untuk menonaktifkannya tidak bisa, Kang. Saya sudah chat CS juga." Saya menenangkan, "Tidak usah diproses saja, aman. Tidak usah diproses."

Mengoptimalkan Penjualan Toko Baru

Mas Nemo Custom kembali bertanya tentang iklan: "Om, kami baru membuka toko. Pengunjung sudah tembus 14.000, tapi penjualannya masih nol. Bagaimana caranya untuk meningkatkan penjualan?" Ia melanjutkan, "Kemarin kami sudah membuat iklan untuk beberapa produk. Pengunjungnya banyak, tapi penjualannya kurang efektif. Masalahnya bagaimana cara menaikkan penjualan?"

Saya menjawab, "Saya tidak tahu bagaimana 'menaikkan' penjualan secara langsung. Kita mengikuti sistem dan mengoptimalkan ROAS (Return On Ad Spend). Pastikan produknya sudah benar. Maksudnya, ketika iklan berjalan, apakah ada yang melihat dan menambahkan ke keranjang (ATC)? Jika tidak ada yang ATC, jangan berharap ada pembelian. Itu berarti ada masalah, entah di upload produk, foto, judul, atau aspek lainnya. Cek itu dulu, lalu optimasi. Kalau sekadar 'menaikkan' penjualan, saya tidak tahu. Mungkin mentor lain tahu. Saya hanya tahu cara mengoptimalkannya sehari-hari, bukan 'menaikkan' secara instan."

Efektivitas Program Promo Extra Plus

Terakhir, Mas Juragan Sekam bertanya, "Kang, saya mau bertanya. Untuk yang ikut program Promo Extra Plus, apakah orderan dan keuntungan tokonya meningkat?"

Saya menjawab, "Saya ikut program itu, dan menurut saya, biasa saja. Yang saya dengar, program itu bagus saat Ramadan. Tapi untuk saat ini, saya belum mendengar testimoni positif lagi karena Promo Extra Plus."

Baiklah, terima kasih teman-teman. Insyaallah besok kita bertemu lagi. Bagi teman-teman di Bandung, jangan lupa setiap Selasa ada mentoring offline dan praktik langsung. Ini bukan sekadar bicara, tapi konkret dan praktik. Jika berminat, bisa kunjungi ganirozaki.com/keleketek untuk informasi kelas konkret kami. Terima kasih semuanya. Assalamualaikum.

0 Response to "Tanya Jawab Seputar Shopee: Gratis Ongkir, Iklan, Traffic, dan Peluang 2026"

Posting Komentar