My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Jualan Online ala Ghani Rozaqi: Ternak Toko, Perbanyak Varian, dan Pentingnya Komunitas

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman semua. Kembali lagi di sesi forum hari ini bersama saya, Ghani Rozaqi. Kali ini, saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan dan curhatan dari Anda semua seputar dunia bisnis online. Semoga apa yang saya sampaikan bisa memberikan wawasan dan solusi, dan jika ada kekurangan, mohon dimaafkan.

Sebelum kita mulai, saya ingin mengingatkan bagi teman-teman yang berdomisili di Bandung, mari bergabung dengan komunitas kami. Kami rutin mengadakan pertemuan offline seminggu sekali untuk membahas hal-hal yang konkret seputar bisnis. Menurut saya, ini adalah investasi jangka panjang yang sangat saya rekomendasikan, karena dengan bergabung, kita bisa membangun ekosistem yang kuat bersama-sama. Menjalankan bisnis sendirian itu berat, jadi mari kita kumpul dan berkolaborasi.

Memaksimalkan Penjualan Produk Parfum: Varian atau Duplikasi?

Pertanyaan pertama datang dari Mas Sony Ramadan. Beliau memiliki delapan SKU parfum, dan setelah setahun berjalan, empat di antaranya menunjukkan performa bagus, sementara empat lainnya berbeda tema. Mas Sony ingin mengembangkan empat SKU yang bagus ini untuk meningkatkan volume penjualan.

Mas Sony bertanya apakah sebaiknya menduplikasi produk yang sudah ada atau memperbanyak varian. Saran saya, coba cek kompetitor. Apakah ada produk sejenis yang laku? Jika ada, perhatikan varian mereka. Paling mudah memang mengikuti apa yang sudah terbukti di pasar. Misalnya, jika ada parfum aroma mangga yang laris di kompetitor, itu bisa jadi petunjuk.

Jika tidak ada kompetitor dengan produk serupa yang laris, mungkin pasar sudah jenuh. Namun, jika ada, ini adalah masalah penetrasi pasar. Saya pribadi lebih suka 'ternak toko' atau menciptakan toko-toko lain yang seolah-olah kompetitor saya sendiri, terutama di platform seperti Shopee. Ini adalah solusi omni-channel yang efektif untuk terus berpenetrasi di pasar yang kompetitif.

Mengenai pilihan antara memperbanyak varian atau menduplikasi produk, saya cenderung menyarankan untuk menambah varian. Dari pengalaman saya, memperbanyak varian seringkali dapat meningkatkan konversi, meskipun belum tentu langsung ke volume. Sebagai contoh, saat saya mencari jersey bola, awalnya ingin membeli jersey Portugal, tapi kemudian melihat jersey Argentina yang juga menarik. Akhirnya, saya mungkin membeli keduanya. Ini menunjukkan bahwa dengan lebih banyak varian, pembeli yang punya niat 'sekalian beli' bisa lebih terakomodir. Jadi, menambah varian adalah langkah yang bagus, Mas Sony.

Mas Sony juga bertanya apakah menjadikan toko sebagai 'mall' berpengaruh pada volume penjualan. Menurut saya, saat ini dampaknya sama saja. Tidak ada salahnya jika ingin menjadikan toko sebagai 'mall'.

Peluang Reseller di E-commerce dan Pentingnya Komunitas

Selanjutnya, ada pertanyaan dari Mas Ali Syahroni. Beliau bertanya apakah masih ada peluang untuk reseller di e-commerce. Saya tegaskan, ada! Bahkan peluangnya masih sangat luas.

Meskipun kompetitor bisa jadi adalah 'bos-bos' langsung, menurut saya itu tergantung produk yang dijual. Saya sendiri adalah seorang dropshipper (yang dalam tanda kutip 'lebih rendah' dari reseller), dan bisnis saya masih berjalan baik. Omset memang mungkin tidak fantastis, tapi profit saya berani diadu. Jadi, peluang itu pasti ada.

Mas Ali juga menyinggung tentang banyaknya orang yang menjual akun bisnis mereka di media sosial, seolah-olah menyerah. Memang, makin ke sini makin banyak yang merasa kesulitan. Ini menegaskan satu poin penting: jangan sendirian. Saran saya, carilah komunitas. Seperti yang saya tawarkan, jika Anda di Bandung, bergabunglah dengan komunitas Keletek.

Bergabung dalam komunitas sekarang ini adalah sebuah keharusan. Saat kondisi bisnis sedang bagus, mungkin tidak terasa. Namun, ketika sedang menurun, barulah kita menyadari betapa pentingnya dukungan dan strategi bersama. Jadi, intinya, peluang untuk reseller masih ada, tapi kuncinya adalah jangan berjalan sendiri dan bangun jaringan di ghanirozaqi.com.

Strategi Iklan untuk Produk Musiman: Auto atau Manual?

Pertanyaan selanjutnya datang dari Mas Aiko. Beliau berjualan produk musiman seperti pernak-pernik Piala Dunia, dan sudah mengunggah banyak postingan produk. Mas Aiko bertanya mengenai strategi iklan, apakah menggunakan iklan grup atau per katalog.

Menurut saya, kalau produk sedang tren, apa pun iklannya bisa jalan. Saya pribadi tidak terlalu pusing soal detail iklan saat sedang tren. Yang penting iklannya jalan, pantau profit, dan terus bereksperimen. Jika tiba-tiba performanya turun, saya akan menggunakan mode otomatis.

Mas Aiko merasa iklannya 'tidak kemakan' atau stagnan, hanya menghabiskan sekitar Rp800.000 sehari setelah seminggu. Saya menyarankan untuk menggunakan iklan otomatis saja saat berjualan produk tren. Dalam pengalaman saya, sekitar 50% kasus, iklan otomatis sudah bagus dan tidak boncos. Kuncinya adalah mengunggah produk dalam jumlah banyak, tidak hanya sekali. Terkadang, algoritma tidak 'klop' dengan unggahan kita. Jadi, jika performa iklan stagnan, itu bisa jadi indikasi bahwa unggahan kita tidak selaras dengan algoritma.

Apa itu 'klop'? Artinya, impression-nya tinggi. Jika setelah seminggu impression hanya Rp800, kemungkinan besar itu tidak 'klop' dengan algoritma. Dalam kasus seperti ini, saya menyarankan untuk mengunggah ulang produk, bukan menghapus atau mengubah pengaturan iklan. Terkadang, masalahnya bukan pada iklan itu sendiri, melainkan pada unggahan produk yang tidak selaras dengan algoritma. Jadi, coba unggah ulang produk Anda.

CPC Versus ROAS: Mana yang Lebih Penting dalam Periklanan?

Terakhir, pertanyaan dari Mas Fadil. Beliau bertanya apakah saya masih menghitung CPC (Cost Per Click) secara manual untuk iklan. Saya katakan, tidak. Saya sudah tidak melakukan itu lagi.

Mas Fadil menyebutkan bahwa beberapa orang berpendapat jika CPC tinggi, pembeli yang didapat akan lebih berkualitas. Saya mengakui itu bisa jadi benar. Namun, bagi saya, pertanyaan utamanya adalah: jika kita sudah tahu CPC mahal dan pembeli berkualitas, lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Itu bukan variabel kontrol yang bisa kita ubah. Kita boleh saja menghitung CPC, tapi jika tidak ada tindakan konkret yang bisa diambil berdasarkan angka tersebut, maka itu menjadi tidak relevan.

Saat ini, fokus saya lebih pada ROAS (Return On Ad Spend) sebagai variabel kontrol utama. Saya tidak ingin menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak memiliki signifikansi langsung terhadap strategi atau hasil akhir.

Baik, teman-teman. Terima kasih atas partisipasi Anda semua di sesi tanya jawab kali ini. Sampai jumpa di lain kesempatan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to " Strategi Jualan Online ala Ghani Rozaqi: Ternak Toko, Perbanyak Varian, dan Pentingnya Komunitas"

Posting Komentar