Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saya ingin berbagi pengalaman yang saya alami. Mungkin Anda juga pernah mengalaminya, yaitu modus pembeli yang nakal. Modus ini setidaknya sudah saya alami dua kali dan benar-benar membuat kesal. Modusnya seperti apa?
Jadi, pembeli tersebut memesan dalam jumlah banyak, lalu mengeluh bahwa barang yang diterima kurang, dan meminta uangnya dikembalikan sepenuhnya. Misalnya, seseorang membeli 20 unit, namun kemudian mengklaim hanya menerima 19 unit dan meminta seluruh uangnya dikembalikan. Secara logika, jika memang hanya kekurangan satu unit dari dua puluh, seharusnya bisa dikirimkan satu unit lagi atau cukup mengembalikan harga satu unit tersebut. Namun, mereka justru meminta komplain dan pengembalian dana penuh untuk semua barang.
Kejadian ini sudah saya alami dua kali. Awalnya, saya berpikir mungkin ada kesalahan hitung pada pesanan pertama. Padahal, saya selalu memastikan kepada supplier bahwa pesanan sudah lengkap dan benar. Apalagi untuk pesanan dalam jumlah besar, saya sangat hati-hati dalam packing. Jadi, ini adalah modus pembeli nakal: mereka memesan banyak, misalnya 20 unit. Kita mengirimkan 20 unit, lalu mereka mengklaim kurang satu dan meminta pengembalian dana penuh untuk semua barang. Satu unit yang diklaim kurang itu kemungkinan besar mereka ambil tanpa membayar, karena uang mereka kembali penuh.
Saya berharap modus ini tidak terulang lagi. Pesanan besar seperti jutaan rupiah sangat berarti bagi saya, apalagi sebagai seorang dropshipper. Sebagai dropshipper, saya tidak menyimpan stok barang. Jadi, jika ada 19 unit yang dikembalikan, itu menjadi masalah bagi saya karena tidak bisa langsung saya jual kembali. Stok saya seharusnya nol, hanya untuk retur jika ada masalah. Ketika ada pengembalian sebanyak ini, tentu saja sangat menjengkelkan.
Dalam sistem dropship yang saya jalankan, termasuk di Sindikat Dropship, akad atau perjanjiannya adalah saat resi keluar, barang secara otomatis menjadi milik saya, meskipun saya belum membayarnya kepada supplier (sistem hutang). Contohnya, jika ada pesanan 20 unit, saya akan meneruskan pesanan itu ke supplier dan mengeluarkan resi. Saat resi keluar, 20 unit itu otomatis saya beli dan menjadi milik saya, bukan milik supplier. Akibatnya, jika ada retur, barang tersebut menjadi stok saya. Masalahnya, sebagai dropshipper, saya tidak bisa menjual barang secepat supplier, dan tidak semua supplier mau melakukan buyback. Jadi, 19 unit yang dikembalikan itu menjadi stok saya, padahal saya tidak memiliki ritme penjualan yang secepat itu. Intinya, saya merasa kesal karena sudah senang mendapatkan pesanan besar dan beriklan ke mana-mana, ternyata ada pembeli nakal yang mengembalikan 19 unit dan "mengambil" satu unit tanpa membayar. Beginilah.
Memang, begitulah lika-liku berjualan online. Bagaimana dengan pengalaman Anda? Pernahkah Anda mengalami hal serupa? Jika Anda tertarik untuk belajar dropship seperti yang saya lakukan, Anda bisa mengunjungi ghanirozaqi.com atau sindikatdropship.ghanirozaqi.com.
Demikianlah pengalaman singkat ini. Semoga bermanfaat. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Waspada Modus Baru Pembeli Nakal di Jualan Online: Pengalaman Seorang Dropshipper"
Posting Komentar