My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Membedah Tantangan Bisnis Online: Dari Dropshipping, Iklan, Hingga BigSeller

Halo teman-teman! Selamat datang kembali di forum diskusi saya. Setiap hari, kecuali Jumat, saya akan meluangkan sekitar 15 menit untuk mencoba menjawab berbagai pertanyaan dan keluhan dari teman-teman. Semoga apa yang saya sampaikan bisa membantu.

Banyak juga yang request agar saya mengadakan event offline lagi di Bandung. Saya akan pertimbangkan kembali, terutama karena kedai bakso saya yang dulu menjadi venue kini sudah tutup. Saya mungkin akan mengadakannya lagi, namun kali ini akan berbayar. Dulu event tersebut saya gunakan untuk mempromosikan kedai bakso saya. Sekarang, ada sisa kontrak ruko sekitar 4 bulan yang ingin saya manfaatkan. Jika ada saran untuk event offline berbayar, silakan sampaikan kepada saya, khususnya yang berdomisili di Bandung, setiap hari Selasa.

Dropshipping di Shopee dengan Resi Beda Daerah

Ada pertanyaan mengenai dropshipping madu stik. Seorang teman bercerita bahwa ia menjual madu stik, kemasan panjang seperti cokelat stik, dan biasanya hanya mengambil beberapa ratus dari supplier. Suatu hari, ia mendapatkan orderan besar hampir 2.000 stik dari pembeli MBG. Karena lokasinya berbeda (ia di Jogja, supplier di Jawa Timur), ia berniat mengirim resi Shopee ke supplier agar barang langsung dikirim dari Jawa Timur ke pembeli, tanpa melalui dirinya di Jogja. Ia bertanya apakah skema pengiriman beda daerah seperti ini akan bermasalah di Shopee.

Saya menjelaskan bahwa skema seperti itu aman saja, asalkan menggunakan kurir SPX. Jika menggunakan kurir lain seperti J&T Cargo, terkadang bisa bermasalah. Saya sendiri sering mengirim dari berbagai supplier di berbagai daerah menggunakan SPX, dan selalu aman. Namun, saya juga menyarankan agar sebisa mungkin mengarahkan pembeli ke Tokopedia agar tidak terkena biaya admin Shopee yang lumayan.

Manajemen Iklan dan Algoritma

Pertanyaan selanjutnya datang mengenai iklan: apakah algoritma iklan akan 'reset' jika budget harian habis? Saya menjelaskan bahwa habisnya budget tidak akan mereset algoritma. Ketika budget diisi kembali, iklan akan melanjutkan performa sebelumnya. Jadi, secara umum, hal ini tidak terlalu berpengaruh signifikan.

Saya menambahkan bahwa jika seseorang memiliki analisis tentang waktu-waktu terbaik untuk mengaktifkan iklan, seperti mengecek jam tertentu dan mengaktifkannya, itu sangat baik dan bisa diotomatisasi menggunakan BigSeller. Fitur 'automated rules' di Meta juga memungkinkan hal serupa. Namun, untuk saya pribadi, dengan lebih dari 50 toko, melakukan monitoring dan top-up iklan secara manual adalah hal yang mustahil. Saya pernah mencoba di masa lalu dan itu sangat melelahkan.

Legalitas BigSeller dan Fitur Salin Toko

Berikutnya, ada pertanyaan tentang legalitas BigSeller, terutama fitur 'salin toko' yang dimilikinya. Saya menegaskan bahwa BigSeller sepenuhnya legal. Mereka menggunakan API resmi dari platform marketplace seperti Shopee, TikTok, dan lainnya. API ini semacam 'kabel' penghubung yang diizinkan oleh server marketplace, sehingga tidak ada masalah legalitas.

Meskipun marketplace terkadang membatasi jumlah toko per individu, fitur cloning di BigSeller memang membuat 'ternak toko' menjadi lebih mudah. Namun, saya menjelaskan bahwa fungsi utama Omni channel seperti BigSeller adalah sebagai WMS (Warehouse Management System) untuk mengelola gudang, supplier, dan reseller agar stok terintegrasi. Fitur ini memang bisa dimanfaatkan untuk ternak toko, tapi bukan tujuan utamanya.

Saya meyakinkan bahwa penggunaan BigSeller aman. Saya telah melihat banyak toko yang memproses puluhan ribu paket menggunakan BigSeller, di mana hal itu hampir tidak mungkin dilakukan hanya dengan Seller Center biasa. Fitur seperti 'wave' di BigSeller, yang mengelompokkan SKU, sangat membantu dalam pengelolaan volume besar. Jadi, tidak perlu khawatir. Saya bahkan berbagi bahwa saya pribadi, Ghani Rozaqi, sudah berlangganan BigSeller selama 3 tahun dan tidak pernah mengalami masalah. Ini semakin memperkuat jaminan keamanan penggunaan platform tersebut.

Iklan Boncos vs. Iklan Tidak Jalan

Pertanyaan menarik diajukan: Mana yang lebih membuat saya kesal, iklan tidak jalan atau iklan jalan tapi 'boncos' (rugi)? Bagi saya, lebih pusing jika iklan tidak kemakan (tidak jalan) daripada boncos, terutama untuk iklan dengan tipe GMV Max ROAS. Ketika iklan boncos, algoritma cenderung akan 'menebus dosa' dengan mencari konversi dengan biaya yang sangat murah, menargetkan orang-orang yang sudah memasukkan produk ke keranjang. Ini bisa menjadi keuntungan.

Lalu, bagaimana jika iklan sudah jalan, CTR bagus, banyak yang menambahkan ke keranjang (ATC), tapi tidak ada yang checkout? Permasalahan ini bisa beragam, namun yang paling umum adalah harga. Seringkali, pembeli tidak jadi checkout karena voucher yang awalnya ada tiba-tiba hilang, sehingga harga terasa lebih mahal.

Mengevaluasi ROAS Iklan

Menyambung topik iklan boncos, ada pertanyaan tentang kapan waktu terbaik untuk mengevaluasi ROAS (Return on Ad Spend) jika target harian tidak tercapai. Saya menyarankan untuk memastikan target ROAS sudah benar, dengan memperhitungkan potensi galat atau selisih, dan bisa menggunakan kalkulator ROAS yang saya sediakan di grup WhatsApp. Untuk timeframe evaluasi, saya pribadi menggunakan 'last 7 days' karena saya berfokus pada produk tren. Namun, bagi teman-teman yang menjual produk harian, saya merekomendasikan untuk melihat ROAS dalam 'last 30 days' atau 30 hari terakhir.

Duplikasi Produk sebagai 'Ban Serep'

Pertanyaan berikutnya adalah tentang duplikasi produk: apakah masih efektif dan apakah produk duplikasi bisa menjadi 'winning'? Saya mengatakan bahwa duplikasi produk itu bagus, tapi tujuannya bukan untuk mengalahkan produk yang sudah winning, melainkan sebagai 'ban serep' atau cadangan. Terkadang, algoritma di JV Max bisa 'malas' mempromosikan satu etalase. Dengan adanya produk duplikasi, kita punya cadangan sehingga peluang tetap ada. Jangan berharap produk duplikasi akan mengalahkan yang sudah winning, melainkan sebagai pengaman.

BigSeller dan Suspend Akun TikTok

Seorang teman berbagi pengalaman kurang menyenangkan: akun TikTok-nya di-suspend setelah menyalin 90 SKU produk dari Shopee ke TikTok menggunakan BigSeller. Ia bingung karena saya sebelumnya mengatakan BigSeller legal. Saya menjelaskan bahwa saya tidak terlalu familiar dengan seluk-beluk TikTok, namun kemungkinan besar masalahnya bukan pada legalitas BigSeller, melainkan pada 'barbar'-nya proses upload. Menyalin 90 SKU sekaligus mungkin terdeteksi sebagai aktivitas tidak wajar oleh sistem TikTok. BigSeller sendiri legal karena menggunakan API resmi, yang berarti server marketplace mengizinkan penarikan data.

Perhitungan PNL dengan Metode Cash Basis

Terakhir, ada diskusi tentang perhitungan PNL (Profit & Loss). Saya, Ghani Rozaqi, menjelaskan bahwa saya menggunakan metode cash basis untuk pembukuan. Artinya, saya tidak terlalu memperhatikan data di Seller Center atau status pembatalan, melainkan hanya melihat rekening bank. Omset diakui ketika dana sudah masuk ke rekening.

Salah satu kelemahan cash basis adalah adanya perbedaan antara order yang masuk di Seller Center dengan dana yang sudah cair. Misalnya, jika ada order pada akhir bulan yang baru cair di bulan berikutnya, omset tersebut baru akan diakui pada bulan dana cair, bukan pada bulan order masuk. Meskipun memiliki beberapa kelemahan seperti ini (misalnya, order yang belum cair di akhir bulan 'seakan-akan hilang' dari laporan bulan tersebut), saya memilih metode ini karena sangat simpel dan praktis untuk saya.

Itu dia beberapa pertanyaan yang sempat saya jawab hari ini. Jangan lupa, jika tertarik mendaftar BigSeller, Anda bisa menggunakan link afiliasi saya untuk mendukung ghanirozaqi.com. Terima kasih banyak!

0 Response to "Membedah Tantangan Bisnis Online: Dari Dropshipping, Iklan, Hingga BigSeller"

Posting Komentar