My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Iklan Shopee, Harga, dan ROAS: Tanya Jawab Bersama Ghani Rozaqi

Selamat datang di sesi Forum Harian saya. Setiap hari saya mencoba menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman seputar strategi bisnis online, khususnya di platform Shopee. Semoga jawaban yang saya berikan bisa membantu teman-teman semua.

Pembahasan Iklan CPM Shopee dan Bootcamp Tenak Toko

Sebelum kita masuk ke sesi tanya jawab, ada dua informasi penting yang ingin saya sampaikan. Pertama, bagi teman-teman yang berdomisili di Bandung, besok ada kesempatan untuk berkumpul dan membahas lebih dalam mengenai iklan CPM, yaitu format iklan Shopee terbaru yang berbasis impression. Mungkin masih banyak yang belum memahami bagaimana sistem charge by impression ini bekerja, serta di mana peluangnya. Saya akan mempresentasikan secara langsung di pertemuan offline tersebut.

Kedua, mengenai Bootcamp Tenak Toko. Ternyata masih banyak pertanyaan terkait Batch 15 yang belum memiliki tanggal pasti. Jika ingin mendaftar, saat ini bisa mendapatkan diskon sebesar satu juta rupiah. Tanggalnya memang belum diumumkan karena saya masih fokus dengan dua batch yang sedang berjalan. Jadi, kami akan menunggu batch tersebut selesai terlebih dahulu.

Tanya Jawab Seputar Iklan dan Strategi Penjualan di Shopee

Kasus 1: Iklan Produk Baru dan Penjualan Minim

Seorang peserta bertanya tentang produk baru yang iklannya sudah diatur sesuai kalkulator ideal, namun baru menghasilkan dua penjualan. Sementara itu, beberapa produk lain telah menghabiskan budget iklan hingga Rp2.000 tapi belum ada penjualan sama sekali. Ia menanyakan apakah perlu menunggu hingga seminggu penuh.

Saya menyarankan untuk tetap membiarkannya dulu. Jika mengiklankan empat produk, itu sudah cukup. Kuncinya adalah bersabar. Empat produk sudah cukup, tidak perlu lebih. Walaupun bisa mengiklankan lebih banyak, namun tidak realistis jika mengharapkan semua produk laris. Biasanya, dari sekian banyak produk yang diiklankan, saya sudah sangat bersyukur jika bisa mendapatkan dua atau tiga produk yang laris. Di awal memang tidak mungkin langsung winning. Jika nanti ada satu yang winning, jangan berharap semua produk akan winning juga, karena itu tidak realistis.

Kasus 2: Dampak Kenaikan Harga Terhadap Iklan

Seorang peserta lain mengalami penurunan drastis pada spend iklan setelah terpaksa menaikkan harga produk dari Rp150.000 menjadi sekitar Rp200.000 karena kebijakan baru untuk seller. Iklan yang biasanya bisa menghabiskan lebih dari Rp300.000 per hari, kini sulit mencapai Rp50.000. Ia meminta saran agar iklan bisa kembali "lahap" tanpa harus menurunkan ROAS.

Saya menyarankan untuk mencoba memberikan diskon dalam bentuk voucher. Kenaikan harga sebesar 33% (dari Rp150.000 ke Rp200.000) adalah lonjakan yang cukup besar dan bisa membuat calon pembeli "syok". Ini terutama berlaku untuk mereka yang sudah memasukkan produk ke keranjang (ATC) namun belum checkout. Mereka mungkin akan terkejut dengan harga baru. Saya mengusulkan untuk memainkan voucher daripada diskon langsung. Tujuan voucher ini adalah untuk memicu iklan agar kembali "spike" atau menghabiskan anggaran. Setelah iklan kembali normal, harga bisa kembali ke harga standar. Saya biasanya mengeluarkan satu voucher per hari sampai iklan mencapai spending yang diinginkan.

Kasus 3: Iklan Tidak Menarik Klik atau Impression

Pertanyaan berikutnya datang dari seorang peserta yang tokonya sudah dua hari iklannya tidak berjalan optimal, bahkan tidak ada impression atau klik sama sekali padahal budget harian sudah diisi. Sementara itu, di toko lain iklannya menyerap budget tapi tidak ada konversi atau penjualan.

Untuk kasus iklan tidak menarik klik atau impression, saya menyarankan untuk memeriksa beberapa hal non-teknis terlebih dahulu: stok produk (pastikan tidak habis atau ada varian yang tidak bisa diklik), fitur COD (apakah aktif), dan berat produk (jangan sampai salah input atau berubah). Jarang terjadi perubahan tiba-tiba oleh sistem, biasanya karena kesalahan admin. Selain itu, periksa histori iklan, karena Shopee kadang mengubah setelan iklan secara otomatis. Jika semua sudah dicek dan tidak ada yang aneh, coba beralih ke iklan otomatis (auto).

Peserta menemukan adanya tanda pentung di iklan, dengan saran untuk menurunkan target ROAS. Menurut saya, mengikuti saran penurunan ROAS dari Shopee tidak terlalu saya rekomendasikan, karena Shopee hanya peduli agar iklan berjalan, bukan keuntungan kita. Untuk iklan yang terus menyerap budget namun tidak ada konversi, kasusnya sama dengan yang pertama: jika ROAS sudah diatur dengan benar, bersabar saja. Iklan biasanya akan berusaha menebus dosanya sendiri.

Kasus 4: Keikutsertaan Program Shopee

Ada yang bertanya apakah saya mengikuti semua program Shopee, khususnya Gratis Ongkir Ekstra dan Promo Ikut.

Saya menjawab bahwa untuk kedua program tersebut, saya mengikutinya di semua toko yang saya miliki.

Kasus 5: Penyesuaian ROAS Menjelang Perubahan Algoritma Iklan

Seorang peserta berencana menaikkan harga dan mengoptimalkan ROAS, namun ada kabar mengenai perubahan algoritma iklan Shopee pada 7 Mei. Ia bertanya apakah itu momen yang tepat untuk mengatur ROAS atau menaikkan harga terlebih dahulu.

Perubahan pada 7 Mei adalah perubahan yang cukup besar karena menyangkut fundamental, dari charge by click menjadi charge by impression. Jika ada perubahan besar seperti ini, sikap saya adalah memantau dan tidak agresif. Saya akan mengamati testimoni dan pengalaman orang lain di forum-forum seperti ini sebelum membuat keputusan besar. Oleh karena itu, jika ingin melakukan perubahan, lebih baik lakukan sekarang daripada nanti setelah 7 Mei. Mengenai kapan waktu yang tepat untuk mengubah ROAS, saya pribadi sangat ketat dengan ROAS yang sudah saya pasang. Jika sudah dihitung idealnya 10, saya akan set 10 dan membiarkannya, lalu mencari cara lain, bukan mengotak-atik ROAS. Kelemahan dari cara ini adalah iklan seringkali tidak berjalan. Maka dari itu, saya sering menyarankan untuk menggunakan "friend order" yang menurut saya lebih masuk akal daripada menaikkan turunkan ROAS terus-menerus, apalagi jika memiliki banyak toko, itu tidak realistis.

Kasus 6: Memasukkan Produk ke Program Harga Termurah

Pertanyaan terakhir adalah tentang strategi untuk memasukkan produk ke program harga termurah, apakah harus ada penjualan dulu atau bagaimana.

Pertama dan paling penting, teman-teman harus bisa menghitung dengan cermat sebelum mengikuti program garansi harga terbaik ini. Banyak kasus di mana peserta malah merugi setiap hari karena tidak melakukan perhitungan yang benar. Kedua, dari sisi Shopee, syaratnya adalah kesamaan dengan produk terlaris. Produk kita harus mirip dengan yang terlaris, baik dari segi judul, foto, nama varian, dan lain sebagainya. Program ini memang bisa meningkatkan orderan, namun harganya kadang menjadi tidak masuk akal. Saya menyarankan untuk tidak ikut jika harga yang diminta tidak masuk akal. Saya juga menjelaskan bahwa kita tidak bisa "mengakali" sistem dengan menaikkan harga dulu lalu berharap bisa masuk promo harga termurah, karena Shopee akan tetap berpegang pada harga yang mereka inginkan.

Penutup

Terima kasih teman-teman atas partisipasinya. Mudah-mudahan jawaban yang saya berikan bisa membantu, meskipun dalam bisnis tidak ada jurus jitu 100%. Kalau ada, saya pasti tidak akan membuat forum seperti ini. Untuk teman-teman di Bandung, jangan lupa besok ada pertemuan offline untuk membahas iklan baru Shopee. Acaranya gratis, tapi bantu ramaikan kedai bakso saya ya! Sampai jumpa lagi di kesempatan berikutnya. Selalu kunjungi ghanirozaqi.com untuk informasi bisnis lainnya.

0 Response to "Strategi Iklan Shopee, Harga, dan ROAS: Tanya Jawab Bersama Ghani Rozaqi"

Posting Komentar