My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Pengalaman Mencari Cuan dari Kurban 2006: Gagal Total Namun Ada Hikmahnya

Beberapa waktu lalu, saya mencoba peruntungan mencari 'cuan' di momen Kurban tahun 2006. Bisa dibilang upaya saya ini campur aduk antara gagal total dan ada berhasilnya sedikit. Berikut adalah cerita saya.

Upaya Pertama: Investasi Penggemukan Domba (Gagal)

Sekitar 60 hari setelah Lebaran, saya mulai mencari-cari peluang investasi. Saat itu saya punya sedikit rezeki lebih dan berpikir untuk menginvestasikannya ke sektor penggemukan domba atau sapi, atau bentuk investasi kurban lainnya. Tawarannya cukup menarik, return 3-4% dalam waktu hanya 2 bulan.

Namun, dua tawaran yang saya ajukan ditolak. Bukan karena orangnya jahat atau tidak mau menerima, melainkan karena sudah banyak yang ingin berinvestasi kepada mereka. Para peternak ini sudah kelebihan investor atau bahkan sudah memiliki modal sendiri. Ini menjadi kontradiksi menarik. Di satu sisi, pemerintah menyatakan ekonomi membaik, sementara banyak pebisnis mengeluh ekonomi lesu. Buktinya, dalam investasi kurban ini, banyak yang menolak tawaran investasi karena sudah 'kelebihan uang'.

Saya pribadi melihat fenomena ini, bahwa jurang kesenjangan sosial makin lebar; yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Di sinilah peran penting kita sebagai UMKM. Kita berada di tengah-tengah, berusaha untuk memperkaya diri dan sekaligus mengangkat mereka yang berada di bawah. Berbeda dengan korporat yang cenderung mempekerjakan orang-orang yang sudah berpendidikan dan bergaji besar, kita di UMKM memiliki potensi besar untuk menjadi pahlawan ekonomi. Jadi, upaya pertama saya untuk berinvestasi di penggemukan hewan kurban berakhir dengan penolakan. Ini adalah kegagalan pertama di Kurban 2006.

Upaya Kedua: Jualan Langsung dan Bikin Konten (Gagal)

Selanjutnya, saya mencoba menjual hewan kurban secara langsung. Saya punya teman yang memang jagoan dalam hal ini. Dari H-30 Kurban, dia sudah banyak pembeli. Saya salut dengan beliau. Saya pun mencoba peruntungan ini.

Awalnya, saya berencana membuat blog atau konten tentang kurban. Namun, ide ini tidak tereksekusi dengan baik. Memang niche 'kurban from home' (misalnya kurban di Bandung tapi disembelih di Tasik) saat itu belum terlalu populer. Saya berpikir, jika saya membuat blog dengan target yang luas, mungkin kurang relevan. Jika saya membuat blog yang sangat spesifik, misalnya 'kurban di Bandung' (karena saya di Bandung), saya khawatir target pembacanya terlalu kecil.

Akhirnya, saya maju-mundur dan tidak jadi mengeksekusi ide ini. Padahal, jika saat itu saya membuat blog, kontennya bisa evergreen. Ibadah kurban insyaallah akan ada terus sampai kiamat, sehingga artikel blog tersebut akan relevan dan dibaca bertahun-tahun ke depan. Berbeda dengan konten video pendek yang mungkin harus dibuat ulang setiap tahunnya.

Kegagalan ini terjadi karena saya terlalu banyak menimbang-nimbang, maju-mundur, dan akhirnya tidak ada eksekusi yang signifikan. Saya hanya mencoba menawari secara personal dan tidak ada closing. Jadi, upaya kedua ini juga gagal.

Upaya Ketiga: Investasi Mikro Domba (Berhasil!)

Inilah bagian yang saya sebut berhasil. Saya melakukan investasi mikro yang sebenarnya sudah dimulai dari tahun lalu. Pasca Kurban tahun lalu, saya langsung membeli dua domba bayi dari seorang Pak Ustaz yang sangat dipercaya oleh almarhum orang tua saya. Domba-domba ini kemudian digemukkan di Garut.

Saya membeli dua domba ini dengan total harga Rp 3,4 juta, atau sekitar Rp 1,7 juta per ekor. Setelah setahun digemukkan, kedua domba ini sudah siap untuk dikurbankan.

Berikut adalah rincian hasilnya:

  • Domba A: Berhasil saya jual seharga Rp 3 juta di Garut. Ini berarti saya mendapatkan profit Rp 3 juta (harga jual) dikurangi Rp 1,7 juta (modal awal) = Rp 1,3 juta.
  • Domba B: Saya pilih untuk dikurbankan sendiri. Ada biaya transportasi sebesar Rp 500 ribu untuk membawanya dari Garut ke Tasik. Selain itu, ada biaya kepengurusan untuk santri yang merawat domba selama setahun, yaitu Rp 500 ribu per ekor. Biaya ini menurut saya sangat murah, kurang dari Rp 50 ribu per bulan. Terakhir, ada biaya DKM untuk penyembelihan sebesar Rp 300 ribu. Jika domba B ini dinilai berdasarkan harga pasar di Bandung, harganya bisa mencapai Rp 5 juta. Namun, saya akan mengambil nilai yang lebih konservatif yaitu Rp 3 juta. Jadi, nilai domba ini bertambah Rp 3 juta (nilai pasar) dikurangi Rp 1,7 juta (modal awal) = Rp 1,3 juta.

Secara total, keuntungan yang saya dapatkan adalah Rp 1,3 juta (dari penjualan Domba A) ditambah Rp 1,3 juta (peningkatan nilai Domba B) = Rp 2,6 juta. Dari modal awal Rp 3,4 juta, saya mendapatkan profit yang luar biasa, sekitar 76%! Ini tentu sangat menarik.

Namun, bisnis ini tidak mudah untuk diskalakan. Jika saya ingin membeli 50 atau 100 domba, Pak Ustaz mungkin akan menolak karena keterbatasan santri dan sumber daya. Biaya perawatan yang murah juga karena basisnya adalah kepercayaan dan sukarela, bukan model bisnis profesional. Ada pula risiko tinggi seperti domba stres, mati, atau dicuri, dan saya belum pernah survei langsung ke Garut. Jika saya harus datang survei, itu akan menambah biaya dan mengurangi profit.

Jadi, meskipun profitnya tinggi, ini lebih banyak karena faktor keberuntungan dan kepercayaan. Profitabilitasnya mungkin tidak akan sama jika diskalakan lebih besar. Ini hanyalah berbagi pengalaman saya. Silakan teman-teman yang memiliki ide serupa untuk mengeksekusinya.

Selamat berkurban dan selamat berhaji bagi yang menjalankannya. Semoga bermanfaat.

0 Response to "Pengalaman Mencari Cuan dari Kurban 2006: Gagal Total Namun Ada Hikmahnya"

Posting Komentar