My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi 'Ternak Toko' di Shopee: Mengapa Penting dan Bagaimana Bootcamp Kami Membantu

Selamat datang di artikel ini. Bersama Mas Soni, saya akan berbagi strategi ternak toko yang telah kami terapkan di *marketplace* dan memperkenalkan program Bootcamp Ternak Toko kami.

Mengapa 'Ternak Toko' Menjadi Krusial?

Bagi Anda yang mungkin belum memiliki *budget* atau niatan untuk memperluas bisnis, saya harap artikel ini memberikan *insight* berharga. Anda bisa praktik sendiri, atau jika ingin belajar dan praktik bersama, saya dan Mas Soni siap membimbing, karena kami sudah lebih dulu terjun di dunia *ternak toko*.

Saat ini, saya memiliki 53 toko—bertambah tiga saat mudik Lebaran kemarin. Mas Soni sendiri sudah mencapai 105 toko! Mas Soni menjelaskan bahwa penambahan jumlah toko tidak terlalu drastis belakangan ini, karena 100 toko pertamanya sudah ada sejak tahun lalu. Jadi, dalam lima bulan terakhir, dia hanya menambah lima toko, sehingga totalnya menjadi 105 toko.

Efektivitas 'Ternak Toko' Menurut Mas Soni

Mungkin ada yang bertanya, 'Apakah *ternak toko* efektif?' Mas Soni menjelaskan alasannya memiliki 105 toko:

  1. Diversifikasi Produk: "Alasan pertama, saya menjual berbagai kategori produk, seperti *fashion* anak dan dewasa, serta banyak kategori lainnya."
  2. Mitigasi Risiko Penalti: "Kedua, saat momen seperti puasa atau Lebaran, penjualan memang memuncak. Namun, tak jarang toko kita terkena penalti—baik 3, 5, atau 10 poin—karena kendala seperti pengiriman yang membludak atau stok kosong. Untuk mengantisipasi hal tersebut, saya membuat banyak toko. Jadi, jika satu toko terkena penalti, toko lain masih bisa beroperasi. Setelah Lebaran, *demand* pasar pasti turun. Jika toko kita juga terkena penalti, performa akan menurun drastis, sehingga kerugian bisa berlipat ganda. Dengan banyak toko, performa toko yang lain tetap terjaga, sehingga penurunan tidak terlalu dalam."

Alasan Saya Memilih 'Ternak Toko'

Lalu, mengapa saya sendiri memutuskan untuk memiliki 53 toko? Saya melihat ada batasan untuk satu toko di Shopee. Mencapai konsumsi *budget* iklan puluhan juta sehari untuk satu produk sangatlah sulit. Ada titik di mana kita mentok, meskipun di luar bulan Ramadan, saya jarang sekali mencapai batas *budget*.

Namun, saat Lebaran kemarin, meskipun saya sudah *setting budget* tidak terbatas, hanya Rp2-3 juta yang terpakai per hari. Ini menunjukkan adanya limit. Dengan menambah toko baru, saya menciptakan *revenue stream* atau sumber omset baru. Menurut saya, itulah strategi yang relevan saat ini.

Berbeda dengan zaman iklan manual dulu, di mana kita bisa 'gas' terus. Sekarang, meskipun kita sudah memasang *budget* tak terbatas saat produk sedang *winning*, terkadang iklan tidak mau berjalan optimal. Oleh karena itu, untuk keamanan, saya memperbanyak toko. Mas Soni pun setuju dengan pandangan ini.

Saya dan Mas Soni mungkin lebih dulu terjun ke *ternak toko*, tapi bukan berarti kami yang paling jago. Ada yang saya dengar memiliki 200-300 toko—luar biasa!

Jika Anda setuju dengan alasan *ternak toko* tadi—untuk keamanan dari penalti (seperti kata Mas Soni) dan untuk mendobrak limit penjualan (seperti alasan saya)—maka strategi memperbanyak toko ini sangat relevan.

Bootcamp Ternak Toko Angkatan ke-13

Jika Anda ingin mengikuti strategi ini, saya dan Mas Soni sedang membuka Bootcamp Ternak Toko Angkatan ke-13. *Bootcamp* ini bukan sekadar kelas teori. Kami mengadakan sesi *Zoom* delapan kali. Format *bootcamp* kami memungkinkan Anda mempelajari modul terlebih dahulu, kemudian praktik mandiri, bertanya via WhatsApp, lalu *Zoom* untuk membahas kendala, dan seterusnya. Ada *milestone* yang terpantau selama prosesnya.

*Bootcamp* ini berlangsung selama 2 bulan. Untuk informasi harga dan pendaftaran, silakan kunjungi website kami di sindikatdropship.ghanirozaki.com.

Setelah menyelesaikan *bootcamp* hingga bulan kedua, Anda berkesempatan bergabung dengan Sindikat Dropship. Saya pribadi saat ini 99% fokus pada *dropship*, hanya ada sedikit sisa stok lama. Mas Soni, bagaimana dengan persentase *dropship* dan stok Anda?

Mas Soni menjawab, "Sejak tahun 2024, sekitar 70% bisnis saya berfokus pada stok sendiri, sisanya masih *dropship*. Meskipun dari segi keuntungan bisa mirip jika kita jago *dropship*, namun *effort* waktu untuk stok sendiri sangat besar. Mulai dari mengurus karyawan *packing*, berhubungan dengan konveksi (untuk produk *fashion*), hingga mengelola *supplier* lain. *Dropship* jauh lebih simpel; saya hanya perlu mengirim resi atau PDF ke *supplier*, tanpa perlu *packing*, membeli peralatan, atau melatih karyawan. Itulah mengapa komposisi saya saat ini 30% *dropship* dan 70% stok sendiri."

Omset Dropship Saat Lebaran

Memang ada plus minusnya. Saya ingin berbagi pengalaman, berapa omset *dropship* saya dari skema *ternak toko* saat Lebaran kemarin. Saya berhasil mendapatkan omset sekitar 800 jutaan. Ini sepenuhnya dari *dropship* dengan hanya dua karyawan yang bekerja dari rumah. Tentu saja omset tersebut tidak terbagi rata di 50 toko saya. Ada toko yang menyumbang omset besar (200-130 juta), tetapi ada juga yang hanya 50 ribu atau bahkan nol. Ini mengikuti prinsip Pareto, namun secara keseluruhan, strategi ini membuat saya lebih aman.

Saat memeriksa laporan kesehatan toko, terlihat ada beberapa toko saya yang terkena penalti 3-5 poin. Namun, saya tidak terlalu pusing karena toko-toko lain masih aman beroperasi. *Ternak toko* bukan berarti mengharapkan omset besar dari semua toko. Bagi saya pribadi, mendapatkan satu orderan per hari dari satu toko saja sudah sangat saya syukuri. Fokus saya adalah pada konsistensi, bukan semata-mata omset besar dari setiap toko.

Mas Soni melanjutkan, "Saya juga memiliki pengalaman dengan toko *dropship*, terutama saat momen-momen tertentu. Di *Sindikat Dropship*, kami memang menyediakan produk-produk tren. Saya bermain di kategori *fashion* Muslim, khususnya baju koko. Toko baju koko ini saya mulai pada Desember, dengan pesanan pertama sekitar 10 Desember. Jadi, dalam waktu 1-2 bulan sebelum puasa (yang dimulai sekitar 20 Februari), saya sudah menemukan *supplier* dan mulai membangun toko. Di Januari, omsetnya sudah menunjukkan kenaikan, mencapai Rp2 juta.

Puncaknya terjadi di Februari. Omset baju koko saya yang biasanya sekitar 900 ribu (pernah mencapai 2 juta saat momen 2.2) sudah mulai naik bahkan sebelum puasa. Puncak penjualan terjadi hingga 28 Februari. Namun, di bulan Maret, penjualan sudah turun drastis pada tanggal 6. Ini berarti penjualan sudah menurun di minggu kedua puasa. Saya merasa puasa tahun ini penjualan di minggu kedua sudah mulai menurun. Ini adalah pengalaman saya dengan *dropship* baju koko, yang sepenuhnya tanpa stok."

Saya juga mengalami hal serupa. Di minggu kedua puasa, produk sarung saya yang sedang laris kehabisan stok, dan trafik produk lain juga menurun. Saya merasa terkena *double hit*: stok habis dan *traffic* turun. Saya tidak yakin apakah ini karena kondisi pasar atau masalah stok.

Mas Soni berpendapat, "Stok *bestseller* saya masih ada, namun penjualan tetap menurun. Saya rasa ini tergantung jenis produknya. Baju koko mungkin lebih banyak dibeli sebelum Lebaran untuk dipakai salat Tarawih, bukan untuk salat Id, sehingga permintaannya menurun di minggu kedua puasa."

Pengalaman Mas Soni dengan satu toko *dropship* baju koko menunjukkan potensi omset yang signifikan. Namun, seperti yang dia sebutkan, tidak semua dari 100 toko akan memiliki omset sebesar itu; ada juga yang mungkin 'hanya' 5 juta. Namun, jika ada 10 toko yang masing-masing menghasilkan 5 juta, itu sudah menambah 50 juta. Ini menunjukkan kekuatan dari strategi *ternak toko*.

Testimoni dari Member Bootcamp: Koh Daniel

Untuk memberikan gambaran lebih lanjut, saya mengundang salah satu anggota *bootcamp* kami, Koh Daniel, untuk berbagi testimoninya. Jika Anda ragu untuk bergabung, ceritanya mungkin bisa memberikan pencerahan. Anda bisa mencoba sendiri, namun *bootcamp* menawarkan percepatan dan dukungan belajar bersama.

Ada yang menyinggung peraturan baru tentang KTP dan rekening yang harus sama. Mas Soni membenarkan bahwa peraturan ini memang lebih rumit, namun akan menyeleksi para 'peternak toko' yang tidak profesional. Karena sudah 'terjun basah', kami akan terus 'gas'. Bersama-sama, kami tidak perlu takut menghadapi kendala seperti ini. Jika sendirian, ini bisa memusingkan. Tapi jika bersama, kami akan mencari solusinya bersama.

Di *bootcamp* ini, terutama jika Anda bergabung dengan *Sindikat Dropship*, kami tidak akan meninggalkan Anda sendiri. Kami rutin mengadakan rapat koordinasi, bahkan setiap minggu selama Lebaran, untuk membahas masalah, tampilan produk, *supplier*, dan lainnya. Kami bekerja sama. Koh Daniel, salah satu anggota *bootcamp* kami, hadir untuk berbagi pengalamannya.

Saya bertanya kepada Koh Daniel tentang pengalamannya di Lebaran kemarin. Dia mengaku awalnya ragu karena belum pernah berjualan *fashion* Muslim seperti gamis. Namun, dengan formula yang ia pelajari dari *bootcamp*, ia berhasil dan bahkan berani untuk *restock* besar-besaran, menarget pasar di area Bandung Raya. Ia menambahkan, "Jika tidak ikut *bootcamp*, saya mungkin tidak akan berani terjun ke *niche* Lebaran ini. Saya akan seperti katak dalam tempurung, hanya tahu usaha sendiri. Padahal, ada potensi keuntungan besar di kategori lain." Menurutnya, berdiskusi dan berjuang bersama di *bootcamp* saat puasa, meskipun ada tarik-menarik stok, itu sangatlah seru.

Koh Daniel menjelaskan, "Strategi saya adalah menjaga kedekatan dengan *supplier*. Ketika menemukan *produk hero*, saya langsung mengamankan stok. Setelah menghitung potensi keuntungan dan mempertimbangkan risiko barang tidak terjual setelah dipotong biaya iklan, saya berani mengambil stok dalam jumlah besar." Saya kagum dengan keberaniannya untuk menyetok.

Mas Soni bertanya berapa jumlah toko Koh Daniel sebelum dan sesudah *bootcamp*. Jawabannya, dari 4 toko menjadi 16 toko, penambahan 12 toko. Mas Soni juga menanyakan apakah Koh Daniel mencoba berjualan kategori lain selain *fashion* anak dan tas setelah bergabung, seperti produk musiman.

Koh Daniel menjawab, "Saat musim hujan, saya berani mencoba berjualan jas hujan. Cukup lumayan untuk pengalaman pertama. Tahun depan, saya berencana memperdalam ilmu dari *bootcamp* dan komunitas ini, serta menghitung kebutuhan *supply* karena komunitas akan semakin besar."

Mas Soni menanyakan tentang persentase kenaikan omset. Koh Daniel mengungkapkan bahwa setelah bergabung, omsetnya naik 'lumayan banget'. Dia bahkan berhasil mendapatkan 1.300 resi dalam tiga hari di akhir Maret, setelah Lebaran, untuk penjualan tas. Sebuah angka yang luar biasa, bahkan saya sendiri belum pernah mencapai sebanyak itu.

Sebagai fasilitator, saya dan Mas Soni bukan berarti omset kami yang paling besar. Kami berbagi pengalaman dan membantu mengidentifikasi kesalahan. Koh Daniel melanjutkan, "Dalam *bootcamp*, kami diajarkan untuk mempersiapkan produk musiman jauh-jauh hari. Misalnya, saat Mas Ferdian menginformasikan tren tas *fashion* anak dengan gambar tertentu, saya langsung cek ke teman-teman di industri tersebut. Setelah memvalidasi, saya langsung membuat desain dan menerapkan teknik dari komunitas *Sindikat Dropship* jauh sebelum musim puasa. Hasilnya, 1.300 resi keluar. Jadi, ketika orang lain masih fokus pada gamis dan berebut stok, saya beralih ke tas, karena produksi gamis sudah kewalahan. Dari pengalaman ini, saya juga belajar untuk mempersiapkan produk jauh sebelum momen seperti Agustusan."

Saya sempat memiliki ide untuk menginisiasi koperasi di mana kami bisa menyetok produk seperti kaos polos atau bendera, lalu melakukan *dropship* bersama. Gudang Koh Daniel sepertinya cocok untuk menghandle volume besar. Saya membandingkan profit Agustusan tahun lalu dan Lebaran kemarin—keduanya menghasilkan profit yang sama. Namun, Lebaran kemarin terasa lebih nyaman karena semua bisa saya handle via HP, tanpa drama konveksi atau pusing lainnya. Saya sangat puas dengan profit dan kenyamanan Lebaran tahun ini.

Koh Daniel ini unik karena selain sebagai *dropshipper*, dia juga *supplier*. Jika Anda bergabung dengan *Sindikat Dropship* dan ingin menjadi *supplier*, Anda bisa menawarkan produk ke anggota lain. Produk Koh Daniel, terutama tas untuk *back to school*, konsisten laris. Dia juga menjelaskan bahwa setelah Lebaran, penjualan tas cenderung naik karena perputaran uang di Jawa besar dan anak-anak banyak yang membeli tas setelah menerima THR. Berdasarkan pengalamannya bekerja di grosir sejak 2011, dia tahu momen tersebut. Tahun lalu, dia melihat potensi pada gambar produk baru sebelum puasa, yang kemudian laris di iklan dan diterima pasar. Dengan ilmu dari *bootcamp*, ia berani menggenjot produksi saat banyak bengkel libur puasa, dengan harapan stoknya habis setelah Lebaran.

Saya pribadi sudah tidak ingin pusing dengan pola pikir produksi. Koh Daniel memberikan pesan untuk yang ragu bergabung *bootcamp*: "Awalnya saya ingin ikut gelombang pertama tapi penuh. Setelah ngobrol dengan Ghani Rozaqi, saya sadar ilmu saya masih minim, apalagi dengan perubahan tren jualan dari era Corona hingga sekarang. Bergabung dengan komunitas yang bisa diajak diskusi setiap hari sangat penting untuk menambah pengetahuan dan kesempatan belajar. Ikut *bootcamp* tidak akan rugi karena banyak *benefit*, seperti *update* ilmu (bahkan sebelum AI merajalela, kami sudah mempelajarinya). Kami dibimbing dua mentor dengan sudut pandang berbeda, jadi kita bisa memilih atau mengombinasikan ilmu yang paling cocok. Yang penting, orderan terus masuk."

Profit dan omset memang menjadi tujuan utama, apalagi jika ada kenaikan biaya admin. Koh Daniel juga berbagi pengalaman saat saldo di akun toko barunya tidak bisa ditarik karena nama KTP dan rekening berbeda—masalah yang banyak dialami. Dengan mencoba solusi dari teman, ia akhirnya bisa menarik saldo tersebut. Saya sendiri masih kesulitan dengan masalah ini, namun Koh Daniel menemukan solusinya dengan menggunakan rekening pribadi yang belum pernah dipakai transaksi. Solusi detailnya tentu akan kami bahas di dalam *bootcamp*.

Kekuatan Komunitas Kami

Ini menunjukkan kekuatan komunitas kami. Seperti yang saya katakan, kami bukan yang paling jago; kami hanya fasilitator. Saya bahkan baru mendapatkan *insight* baru dari Koh Daniel tentang penarikan saldo. Banyak anggota kami yang omsetnya jauh lebih besar dari kami. Bedanya *Sindikat Dropship* dan *Bootcamp Ternak Toko* dengan kelas lain adalah kami berjualan bersama-sama.

Di kelas lain, dukungan mungkin ada, tapi praktik bisa berbeda karena produk yang dijual pun berbeda. Di *Sindikat Dropship*, kami bahkan saling *scrap* foto produk. Pernah ada toko yang *scrap* foto saya dan ternyata lebih laris; saya tidak masalah, saya tinggal *scrap* balik fotonya. Dukungan di sini bukan hanya *update* atau teman diskusi, tetapi kami berjualan bersama sebagai *partnership*. Jika anggota banyak mengirim resi, kami bisa mendapatkan harga lebih baik dari *supplier*.

Struktur Modul Bootcamp

Mas Soni menambahkan, "Selain komunitas yang kuat, *Bootcamp Ternak Toko* memiliki delapan modul yang *to the point*. Kami telah meracik kurikulum yang esensial, berbeda dengan kelas lain yang mungkin memiliki ratusan video yang tidak semuanya relevan. Kami menyajikan delapan modul paling penting yang bisa langsung Anda praktikkan."

Kedelapan modul ini adalah hasil praktik kami berdua, dan kami berbagi apa yang benar-benar berhasil.

Materi kami bukan sekadar teori atau kutipan dari AI, melainkan murni dari pengalaman praktik kami. Yang menarik, delapan modul ini disajikan selama delapan pekan. Meskipun judul setiap modul sama, saya dan Mas Soni menyajikan materi dari dua sudut pandang berbeda (mazhab saya dan mazhab Mas Soni) tanpa berkoordinasi isi. Ini bukan untuk membingungkan, justru ini kelebihannya. Dengan dua perspektif, Anda akan lebih dewasa dan bijak dalam berbisnis, bahkan bisa menciptakan 'mazhab' Anda sendiri. Mas Soni memberikan contoh perbedaan kami dalam strategi iklan: 'Saya dulu menguji iklan dengan produk otomatis, sementara Mas Soni langsung ke JMV Auto. Modul 5 tentang iklan akan membahas kedua teknik ini. Tidak ada yang pasti benar, semuanya harus diuji. Anda akan mendapatkan dua perspektif yang berbeda.'

Untuk bergabung, kunjungi sindikatdropship.ghanirozaki.com. *Bootcamp* ini berlangsung 2 bulan, namun Anda bisa mencoba bulan pertama dulu. Jika tidak melanjutkan ke bulan kedua, itu opsional. Banyak yang merasa kewalahan di bulan pertama karena ritme yang intens, dengan pertemuan dan praktik setiap minggu. Setiap modul berupa video (minimal dua perspektif dari saya dan Mas Soni), diikuti praktik mandiri, lalu sesi *Zoom* untuk diskusi. Proses ini berlanjut hingga 8 pekan. *Bootcamp* ke-13 akan dimulai Jumat ini pukul 20.00 WIB dan akan diadakan setiap Jumat selama 8 pekan.

Survei Kepuasan Member Sindikat Dropship

Mengenai testimoni Koh Daniel, dia memang belum mengungkapkan nominal omset secara spesifik karena itu adalah privasi. Namun, pencapaian 1.000 resi setelah Lebaran, saat sebagian besar penjualan cenderung menurun, sudah menunjukkan keberhasilan yang luar biasa.

Saya ingin berbagi hasil survei kepuasan member *Sindikat Dropship*. Perlu diingat, semua member *Sindikat Dropship* adalah member *bootcamp*, tetapi tidak semua member *bootcamp* bergabung dengan *Sindikat Dropship*. Dari sekitar 170 orang dalam 12 *batch*, sekitar separuhnya bergabung dengan *Sindikat Dropship*, sisanya merasa cukup dengan materi bulan pertama.

Dari 70-an anggota *Sindikat Dropship*, 23 di antaranya mengisi survei. Jumlah toko mereka bervariasi, dari 3 hingga 87 (Mas Soni masih di puncak dengan 105 toko). Kami menyadari bahwa tidak semua member bisa mengikuti semua sesi *Zoom* formal, mengingat kesibukan dan gaya belajar yang berbeda, serta kendala tak terduga. Namun, tidak perlu khawatir, karena kami menyediakan modul dan rekaman sesi, serta *Zoom* lanjutan, terutama di *Sindikat Dropship*.

Mengenai ritme belajar (satu sesi per minggu), 74% responden merasa tidak terlalu cepat, meskipun ada sebagian yang kewalahan, dan itu sangat wajar. Dari segi praktik, 87% member mengaku sudah mempraktikkan minimal 50% materi teknis. Meskipun ada 37% toko ternakan yang belum 'pecah telur', mayoritas lainnya sudah berhasil mendapatkan penjualan.

Yang paling menggembirakan, 80% member merasa investasi biaya *bootcamp* ini *worth it* dengan ilmu yang didapat, 13% menjawab 'mungkin', dan 0% yang menjawab 'tidak'. Alhamdulillah.

Mengenai balik modal dari hasil *dropship* di *Sindikat Dropship*, 47% member sudah berhasil balik modal, dan 43% lainnya sedang dalam proses. Ini menunjukkan kekuatan *partnership* dan komunitas kami yang terus berkembang. Jika Anda ingin membaca laporan lengkap survei ini, silakan hubungi saya via WhatsApp melalui link di live chat.

Mas Soni kemudian menjelaskan detail delapan modul *bootcamp* kami:

Seperti yang saya sebutkan, *bootcamp* ini berdurasi 2 bulan. Jika Anda ingin mencoba dulu, bisa bergabung untuk bulan pertama (empat modul) dan jika merasa cocok, Anda bisa melanjutkan ke bulan kedua.

  1. Modul 1: Fundamental Ternak Toko
    Membahas *mindset* dan teknik dasar yang perlu dipahami, karena mengelola banyak toko berbeda dengan hanya satu toko.
  2. Modul 2: Setup Infrastruktur Ternak Toko
    Mencakup pemilihan *browser* khusus, *setup proxy* untuk perbedaan IP, dan panduan membuat toko.
  3. Modul 3: Upload dan Push Produk (A to Z)
    Mengajarkan cara *upload* dan *push* produk yang berbeda untuk banyak toko, mulai dari gambar, judul, hingga strategi *push*.
  4. Modul 4: Promosi Non-Iklan
    Membahas fitur-fitur promosi Shopee yang efektif, seperti *voucher*, *combo* hemat, *chat broadcast*, garansi harga terbaik, atau *flash sale*, berdasarkan pengalaman praktik kami. Empat modul ini sudah cukup menjadi bekal awal Anda dalam *ternak toko*.

Jika Anda ingin ilmu yang lebih lengkap, Anda bisa melanjutkan ke bulan kedua:

  1. Modul 5: Sindikat Dropship (A to Z tentang komunitas kami)
    Meskipun hanya komunitas, ini adalah salah satu bentuk *after-sales* kami. Kami tidak meninggalkan member setelah *bootcamp* selesai; kami rutin mengadakan *Zoom* (minimal sebulan sekali, bahkan seminggu sekali saat puasa) untuk *after-sales* dan diskusi.
  2. Modul 6: Super New Iklan Shopee
    Shopee selalu memperbarui fitur iklannya (dulu tidak ada iklan produk baru, sekarang ada, dan ada iklan khusus Shopee Mall yang belum bisa kami *spill*). Modul kami akan selalu *update* mengikuti perkembangan Shopee.
  3. Modul 7: Strategi Ternak Toko
    Kami akan membagikan *hack* dan strategi dari pengalaman kami selama bertahun-tahun dalam *ternak toko*. Saya dengan 53 toko dan Mas Soni dengan ratusan toko telah menemukan banyak *insight* yang akan kami bagikan di sini.
  4. Modul 8: Laporan Keuangan Simpel dan Akurat
    Ini sangat penting. Kami tidak hanya mengajarkan cara mendapatkan penjualan, tetapi juga cara membuat laporan keuangan agar Anda tahu profit sebenarnya. Dengan biaya admin yang terus naik, omset besar saja tidak cukup. Banyak yang mengalami minus karena iklan yang terus menyedot *budget* atau ikut *campaign* otomatis. Contohnya, seorang teman yang berjualan *sparepart* otomotif mengalami minus Rp150 juta karena pengeluaran iklan lebih besar dari omset, dan setelah dikurangi HPP, keuntungannya sangat minim, bahkan minus. Anda harus tahu profit Anda, dan modul ini akan membantu. Selain modul, Anda juga mendapatkan dukungan *Zoom* 2 jam setiap minggu untuk diskusi dan memecahkan kendala praktik.

Mas Soni telah menjelaskan detailnya. Yang menarik adalah meskipun judul delapan modul sama, kami menyajikan materi dari dua sudut pandang yang berbeda. Saya akan membuat modul saya, Mas Soni dengan modulnya, tanpa saling mengetahui isinya. Bisa jadi beririsan atau bahkan bertolak belakang. Ini bukan untuk membingungkan, justru ini kelebihannya. Dengan dua perspektif, Anda akan lebih dewasa dan bijak dalam berbisnis, bahkan bisa menciptakan 'mazhab' Anda sendiri. Sekarang, mari kita lanjutkan ke pertanyaan.

Sesi Tanya Jawab

Ada yang bertanya apakah produk Baju Yulia itu *dropship*. Saat ini, 100% Baju Yulia memang adalah *dropship*. Pengalaman saya di dunia jualan *online* cukup lengkap: dari zaman Kaskus-BBM, membangun *brand* dengan orientasi *awareness* dan komunitas, punya produksi sendiri, hingga sekarang sepenuhnya berdagang dengan *dropship* dan mengejar tren. Dengan beragam perspektif ini, saya merasa lebih bijak. Saya memahami betul mengapa orang memilih produksi sendiri, serta kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu, saya tidak akan menyarankan untuk berhenti produksi dan beralih ke *dropship* begitu saja.

Ada pertanyaan tentang rata-rata profit *dropship*. Baik *dropship* maupun produksi sendiri, saya tidak mau bermain di bawah 1.9 kali HPP, atau rata-rata minimal 2 kali HPP. Di bawah itu, saya tidak akan ambil karena merasa tidak *worth it*.

Mas Soni menjawab, "Profit tergantung produk dan strategi harga. Untuk *dropship* baju koko kemarin, saya jual lebih mahal dari *supplier*, dan *Net Profit Margin* (NPM) mencapai 10%. Angka ini cukup besar, mengingat ada produk lain yang NPM-nya hanya 3%. Saya sangat bersyukur dengan NPM 10% dari baju koko ini."

Saya menambahkan, "NPM 15% saya dapatkan di Lebaran kemarin. Namun, jika tidak ada tren, kadang saya mengalami minus, bahkan harus menombok gaji karyawan. Sekarang, beban saya hanya gaji; iklan bisa saya pilih. Tapi kemarin, 15% itu bagus sekali."

Selanjutnya, ada pertanyaan teknis mengenai *ternak toko*: 'Bagaimana cara mengatur SIM *card* untuk nomor HP? Apakah butuh banyak HP, mengingat satu toko membutuhkan satu SIM *card*?' Saya menegaskan, "HP tidak perlu banyak." Itulah sedikit *spill* dari saya. Mas Soni menambahkan, "Untuk menghindari nomor hangus, kita bisa mengaktifkan login via *email*, sehingga tidak perlu OTP SMS. Detailnya akan kami bahas di *bootcamp*."

Ada yang masih kesulitan dengan *testing* iklan karena produknya bakso produksi sendiri, dengan kendala HPP dan jenis produksi yang tidak menentu. Saya memahami pola pikir 'aku bisanya ini, jadi aku harus jual ini'. Namun, di Shopee saat ini, strategi 'push' (menjual apa yang kita bisa produksi) tidak lagi relevan untuk berdagang. Jika ingin *branding*, perlu nafas panjang dan modal kuat. Dengan mental berdagang seperti saya, strategi 'push' itu berat. Sekarang, saya lebih melihat apa yang sedang ramai di pasar, lalu mencoba menjualnya. Ini membuat *traffic* datang secara 'tarik' dan iklan pun tidak pusing.

Contohnya kaos Indomie yang sempat viral, orderan saya mungkin sedikit, tapi tidak ada rasa pusing karena trennya langsung habis. Mas Soni justru masih memiliki 5.000 resi per hari untuk baju *fullprint* (PO), meskipun yang terkirim tidak sebanyak itu karena masalah produksi. Ia mengatakan, "Demand-nya masih banyak, bahkan sekarang yang ramai bukan lagi gambar makanan, tetapi gambar uang pecahan 2 ribu, 5 ribu, 50 ribu, serta baju *fullprint* dengan gambar masjid atau tema Idul Fitri. Orderan saya masih ribuan."

Saya merasa arah bisnis memang menuju ke sana. Dengan AI, desain menjadi sangat mudah. Anda bisa melihat tren, mendesain dengan AI, lalu tinggal mencetak. Saya bahkan terpikir untuk membeli *3D printer*. Dulu saya ragu karena desainnya rumit, tapi sekarang dengan AI, 15 menit sudah bisa selesai. Ini lebih ke hobi saat ini, belum rencana serius.

Banyak yang bertanya tentang Baju Yulia. Alhamdulillah, *brand* tersebut berhasil. Dulu, saya menargetkan komunitas tertentu, tapi sekarang tidak lagi. Ada pertanyaan tentang perbandingan masa kejayaan Baju Yulia dengan *dropship* saat ini, mana yang lebih menguntungkan. Saya menjawab, "Dulu jauh lebih menguntungkan. Kompetisi dan biaya iklan sekarang jauh berbeda. Produksi sendiri dulu memberikan profit lebih besar, biaya admin kecil, dan iklan lebih murah. Sekarang, saya beralih ke *dropship* karena beradaptasi dengan kondisi pasar, menjaga kewarasan, dan *overhead* yang lebih rendah. Ini adalah dua opsi yang berbeda."

Ada juga pertanyaan tentang spesifikasi perangkat minimum untuk *ternak toko*. Kami merekomendasikan penggunaan *Omni Channel*, sehingga *laptop* dengan harga 3-7 juta sudah cukup. Kita tidak perlu membuka banyak *browser* sekaligus, karena *Omni Channel* memudahkan pengelolaan.

Penutup

Jika Anda tertarik bergabung dengan *Bootcamp Ternak Toko* dan *Sindikat Dropship* (jika bergabung 2 bulan), kunjungi sindikatdropship.ghanirozaki.com. Anda juga bisa menghubungi saya via WhatsApp jika ingin bertanya lebih lanjut atau membaca laporan survei kepuasan member kami.

Tanpa *bootcamp* pun Anda bisa *ternak toko*, namun *bootcamp* ini menawarkan percepatan. Daripada menghabiskan waktu berbulan-bulan mencoba sendiri, investasi di awal akan membuat Anda belajar dari *end-to-end* dalam 2 bulan. Ini adalah *time hacking* yang bernilai.

Mas Soni menutup, "Menurut saya, ada dua keunggulan utama *Bootcamp Ternak Toko* dan *Sindikat Dropship*. Pertama, modulnya *to the point*. Delapan modul yang kami susun sangat esensial untuk *ternak toko*, tidak bertele-tele seperti 100 video yang membuang waktu. Jika lulus, Anda akan sangat paham tentang *ternak toko*. Kedua, *after-sales* dan komunitas kami sangat solid. Banyak anggota kami yang omsetnya jauh lebih besar dari kami, dan mereka aktif berdiskusi di grup. Ini membuat komunitas kami sangat mendukung."

Satu kata kunci dari Mas Soni untuk para *seller* ke depannya: 'Adaptasi.' Ini penting untuk menghadapi perubahan biaya admin, pasar, dan lain sebagainya. Dari saya, kuncinya adalah AI. Jika Anda belum memanfaatkan AI, berhati-hatilah.

Terakhir, silakan langsung saja klik link di live chat jika ingin bergabung dengan Bootcamp Ternak Toko saya dan Mas Soni. Sesi *Zoom* pertama hari Jumat ini pukul 20.00 WIB dan akan terus diadakan setiap Jumat di *Batch* 13 ini sampai 8 pekan ke depan.

Sekian saja, terima kasih banyak. Mohon maaf atas segala kesalahan kami berdua. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Strategi 'Ternak Toko' di Shopee: Mengapa Penting dan Bagaimana Bootcamp Kami Membantu"

Posting Komentar