My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Efektif Iklan Shopee GMV Max: ROAS, Budgeting, dan Produk Winning

Halo teman-teman, salam sejahtera untuk kita semua. Saya Ghani Rozaqi, dan hari ini saya akan berbagi panduan seputar strategi iklan Shopee, berdasarkan diskusi harian yang saya adakan. Sebelum kita masuk ke pembahasan utama, saya ingin mengingatkan bahwa minggu depan akan ada webinar pajak. Ini penting sekali untuk teman-teman agar tidak kerepotan saat mendekati batas waktu pelaporan SPT Tahunan di 31 Maret. Persiapan lebih awal tentu akan sangat membantu agar tidak ada masalah di kemudian hari. Informasi link pendaftaran webinar akan saya sampaikan di grup atau bisa dicek di ghanirozaqi.com.

Strategi ROAS untuk Seller Dropship & Banyak Produk

Seorang teman bertanya mengenai efektivitas iklan GMV Max di Shopee, terutama untuk seller dropship yang melakukan testing produk secara masif. Menurutnya, GMV Max kurang "friendly" untuk strategi tersebut. Ia menanyakan apakah saya menerapkan sistem ROAS (Return On Ad Spend) langsung untuk mengidentifikasi produk *winning*, tanpa harus melakukan *testing* mendalam sebelumnya. Saya menjelaskan bahwa saat ini, itulah yang saya lakukan. Strategi iklan otomatis (auto ads) dengan budget Rp25.000 per hari per produk, untuk saya pribadi, sudah terlalu mahal dan tidak efisien untuk pembelian data. Jadi, logikanya memang lebih baik fokus pada ROAS untuk menemukan peluang produk *winning* secara efisien, terutama jika memiliki banyak produk.

Menentukan Budget Iklan Optimal untuk Toko Baru

Pertanyaan lain datang dari seller baru yang menanyakan tentang strategi *budgeting* iklan Shopee setelah mencoba iklan berbayar dan organik. Mereka ingin tahu berapa *budget* iklan optimal yang harus disiapkan untuk jangka waktu seminggu atau sebulan. Saya menjelaskan, pada dasarnya, jika kita bermain dengan iklan GMV Max di Shopee, iklan seharusnya tidak akan *boncos*. Jika kita mengatur ROAS 10, sistem akan berusaha keras mencapai angka tersebut. Dalam kondisi ideal, *spending* Rp100 juta bisa menghasilkan Rp1 Miliar, atau Rp1 Miliar bisa menghasilkan Rp10 Miliar. Jadi, idealnya, *budgeting* bisa fleksibel.

Namun, kita tahu kondisi pasar tidak selalu ideal, apalagi dengan dominasi GMV Max saat ini. Strategi *budgeting* yang saya terapkan adalah "2x 2x 2x". Saya percaya pada sistem GMV Max bahwa ia tidak akan membuat kita *boncos* parah. Jika *boncos*, iklan akan otomatis melambat atau berhenti tayang sehingga tidak terlalu merugikan. Namun, jika produk memang *winning*, iklan akan kembali naik. Saran saya, jika saat ini iklan berjalan dengan *budget* Rp25.000 per hari dan *winning*, kita bisa melipatgandakan *budget* tersebut (2x) secara bertahap. Bisa seminggu sekali, atau bahkan setiap 3 hari sekali, terutama jika sedang momentum yang bagus. Namun, saya tidak menyarankan kenaikan *budget* harian, karena kadang ada *force positive* atau keberuntungan sesaat yang bisa menyesatkan. Ketika *budget* dinaikkan terlalu cepat, bisa jadi iklan menyasar target market yang kurang tepat. Perlu diingat, angka Rp25.000 per hari itu berlaku untuk satu produk.

Mengatasi Iklan yang Tidak Berjalan Karena ROAS Tinggi

Selanjutnya, ada pertanyaan dari Mas Reza mengenai dilema *setting* ROAS. Ia menjelaskan bahwa ROAS idealnya, katakanlah 20, seringkali membuat iklan tidak berjalan bahkan selama dua minggu, meskipun *budget* sudah diatur tidak terbatas. Ia bertanya kapan sebaiknya ROAS diturunkan. Ini adalah dilema yang sangat umum di kalangan *seller*. Saya pribadi tidak ingin berlarut-larut dalam kondisi seperti ini. ROAS ideal memang berbeda untuk setiap *seller* tergantung HPP mereka. Kita mungkin ideal di angka 20, tapi kompetitor mungkin sudah untung di angka 5, sehingga mereka semua memasang ROAS 5. Wajar jika iklan kita "dinomorsekiankan" oleh sistem.

Untuk mengatasi ini, daripada menurunkan ROAS yang tidak ideal untuk kita, saya lebih memilih untuk mencari produk lain atau jika sangat percaya pada produk tersebut (misal baju muslim yang sedang tren), saya akan coba *reupload* produk tersebut. Mungkin saja etalase atau *listing* sebelumnya sedang "apes" atau kurang beruntung.

Mas Reza juga menanyakan mengapa kompetitor dengan produk yang sama, bahkan mengambil barang dari sumber yang sama, bisa mendapatkan penjualan ratusan hingga ribuan per hari, sementara produknya "diam saja". Ini sama sekali tidak aneh. Memang ada indikasi "giliran" atau momentum yang berbeda. Saya tidak bisa membuktikan ini secara data, tetapi yang jelas, tidak semua produk masuk ke *funnel* yang sama. Ada faktor *timing* saat masuk pasar, keberuntungan dalam menjangkau pelanggan yang tepat, dan momentum yang pas. Jadi, sangat wajar jika produk yang sama tidak selalu menghasilkan performa yang sama. Sederhananya, jika saya *reupload* produk yang sama hari ini, belum tentu performanya akan sama dengan produk Mas Reza yang sudah berjalan, karena butuh waktu bagi algoritma untuk belajar.

Mas Reza juga bertanya tentang pengaruh video dan dekorasi toko di Shopee. Video memang cukup berpengaruh, dan saya sendiri baru akan mencoba optimasi ini bulan ini. Untuk dekorasi toko, pengaruhnya tergantung pada *traffic* dan *cross-sell*. Jika *cross-sell* toko buruk (artinya sedikit pembeli yang membeli produk lain setelah membeli satu produk), dekorasi toko sebagus apapun akan percuma. Namun, tidak ada salahnya juga untuk memperbagus dekorasi toko, meskipun saya pribadi tidak terlalu fokus pada hal ini karena memiliki banyak toko. Foto sampul produk juga sama, tidak ada salahnya untuk diperbagus.

Arah Shopee: Produsen vs. Dropshipper

Saya kembali mengingatkan tentang webinar pajak yang akan datang. Jangan sampai kita terlena dan kebingungan mengurus SPT Tahunan di detik-detik terakhir libur Lebaran, apalagi sampai menerima "surat cinta" dari kantor pajak. Sangat disarankan untuk mengikuti webinar tersebut. Ada pertanyaan menarik tentang arah Shopee saat ini. Dengan kondisi di mana seller dropship pun bisa mendapatkan margin hingga 50% dan memiliki ruang kesalahan dalam *budget* iklan, apakah Shopee lebih mengarahkan platformnya untuk produsen dengan HPP sangat rendah? Saya pribadi tidak tahu persis jawaban resminya. Namun, yang jelas, Shopee cenderung mengapresiasi seller yang mampu menjual dengan harga murah. Masalah keuntungan atau kerugian setiap seller adalah dapur masing-masing, Shopee tidak peduli. Yang penting, jika seller mampu menjaga performa pengiriman saat diberi *traffic*, mereka akan terus didukung.

Iklan Otomatis vs. GMV Max Auto untuk Toko Baru dengan Banyak SKU

Pertanyaan terakhir datang dari Mas Wda Fendy, yang memiliki toko baru berumur tiga minggu dengan 100 SKU. Ia menanyakan apakah sebaiknya menggunakan iklan otomatis atau GMV Max auto. Saya menyarankan, jika ada *budget*, iklan otomatis (auto) adalah pilihan terbaik. Dengan auto, kita bisa lebih cepat mengetahui produk mana yang berpotensi menjadi *winning product* dan mana yang tidak. Namun, jika *budget* terbatas, iklan produk otomatis (yang mungkin ia maksud GMV Max auto) bisa menjadi alternatif.

Demikian rangkuman diskusi kita kali ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. Sampai jumpa di lain kesempatan!

0 Response to "Strategi Efektif Iklan Shopee GMV Max: ROAS, Budgeting, dan Produk Winning"

Posting Komentar