Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pada sesi ini, saya akan mencoba menjawab berbagai pertanyaan dan curhatan dari teman-teman seputar strategi bisnis online, khususnya di platform Shopee. Saya berharap jawaban-jawaban ini bisa membantu dan memberikan pencerahan bagi Anda semua.
Sebelum kita mulai, saya ingin mengingatkan bahwa minggu depan kami akan mengadakan webinar pajak spesial sebelum Lebaran. Ini adalah acara krusial, karena lebih baik kita menyiapkan diri sekarang daripada tegang nanti saat liburan karena surat pajak. Informasi lebih lanjut akan saya bagikan melalui grup.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Strategi Shopee
1. Pengaruh Mematikan COD terhadap Traffic Non-COD
Seorang teman bernama Mas Fatoni bertanya, "Jika kita mematikan opsi COD (Cash On Delivery) di toko, apakah itu akan memengaruhi traffic untuk penjualan non-COD juga, atau hanya memengaruhi yang COD saja? Karena biasanya toko jadi langsung sepi."
Saya menjelaskan bahwa hal itu tentu saja berpengaruh pada semua listing produk, bukan hanya yang spesifik COD. Algoritma Shopee tidak memilah mana yang COD dan mana yang tidak, sehingga dampaknya akan terasa secara keseluruhan pada traffic toko Anda.
2. Pendaftaran Toko Shopee Melalui Perusahaan (NIB)
Pertanyaan berikutnya datang dari Mas Adityya Mahakarya mengenai pendaftaran toko Shopee melalui perusahaan (menggunakan NIB). Ia menanyakan plus minusnya dan apakah ada tutorialnya.
Saya menyampaikan bahwa materi ini ada di bootcamp 'Ternak Toko' yang akan kembali dibuka sekitar akhir Maret atau awal April, dengan format bootcamp 8 minggu, 8 modul, dan 8 pertemuan. Saat ini, kami sedang membuka batch ke-13 atau ke-14.
Secara spesifik, saya menjawab bahwa menggunakan NIB memang menguntungkan karena kita bisa memiliki hingga lima toko per NIB. Saya sendiri memiliki tiga PT, yang berarti potensinya 15 toko, dan saat ini saya sudah mengelola 11 toko. Namun, penting untuk diingat bahwa memiliki banyak toko harus diiringi dengan pengelolaan yang baik, jika tidak, hasilnya akan sama saja.
3. Menanggapi Tawaran Pengiriman Kilat dari Shopee
Mas Soni Ramadan bercerita bahwa ia menerima permintaan dari Shopee untuk mengirimkan stok produknya ke gudang ekspedisi Shopee agar bisa mendapatkan layanan 'Pengiriman Kilat'. Awalnya diminta dua, laku, lalu diminta empat. Ia ingin tahu pandangan saya.
Saya menjelaskan dua hal penting:
- Sinyal Bagus: Jika produk Anda mendapatkan tawaran pengiriman kilat, itu adalah sinyal bagus. Ini berarti produk Anda sedang disukai algoritma dan direkomendasikan. Jangan ragu untuk 'menggas' iklan Anda.
- Perlukah Mengirimkan Stok?: Secara pribadi, saya sudah tidak lagi mengirimkan stok. Sebagai dropshipper, konsep pengiriman stok ke gudang pihak ketiga membuat saya merasa seperti menyetok barang sendiri di gudang orang lain. Namun, jika Anda memiliki stok yang tebal, Anda bisa mencobanya. Produk Anda akan kembali jika tidak terjual atau rusak bisa dikomplain. Kuncinya adalah ketersediaan stok yang tebal. Jika stok Anda terbatas, lebih baik tidak perlu mengirimkannya.
4. Kesulitan Menaikkan Target ROAS Iklan
Mbak Pesona Indonesia mengalami kesulitan saat mencoba menaikkan target ROAS (Return on Ad Spend) iklannya dari 6,2 menjadi 15, yang justru menyebabkan penjualan menurun.
Saya menjelaskan bahwa ini adalah fenomena yang wajar. Saya menganalogikan ini seperti sistem bid di masa lalu; jika mayoritas seller membidik di angka ROAS 5 atau 6, dan kita tiba-tiba memasang 15, algoritma Shopee tidak akan memberikan traffic karena tidak menguntungkan baginya. Ini adalah dilema yang sering membingungkan.
Jika saya berada di posisi tersebut, saya memilih untuk tidak terjebak dalam dilema ini dan lebih baik 'exit' dari produk tersebut. Sebagai dropshipper, saya lebih fleksibel untuk mencari produk lain yang persaingannya memungkinkan ROAS 10 atau 15, daripada terus bertarung di ROAS 5 atau 6.
5. Perhitungan Keuntungan di BigSeller (Inbound vs. Averaging)
Mas Fadil menanyakan mengenai BigSeller dan bagaimana saya menghitung keuntungan, khususnya terkait input pembelian. Ia beranggapan bahwa untuk menghitung keuntungan, input inbound (stok masuk) adalah keharusan.
Saya meluruskan bahwa inbound lebih untuk perhitungan stok, sedangkan untuk keuntungan, kita bisa langsung mencantumkan harga referensi. Saya pribadi menggunakan metode averaging untuk HPP (Harga Pokok Penjualan). Jadi, berapapun inbound yang masuk, saya cukup memasukkan harga rata-rata, misalnya Rp5.000, dan semua pesanan akan dihitung dengan HPP tersebut.
Mas Fadil kemudian menjelaskan ia menginput pembelian secara detail agar harganya mengikuti metode FIFO (First In, First Out). Saya berpendapat bahwa untuk UMKM, terlalu kompleks mengurus hal se-detail itu di era sekarang. Lebih baik fokus pada aspek lain yang lebih berdampak. Dengan metode averaging, akurasi memang sedikit berkurang (mungkin 90%), namun kita bisa menghemat banyak waktu untuk hal-hal lain yang lebih penting.
6. Parameter Iklan yang Bagus
Mas Ban bertanya tentang parameter iklan yang bagus. Jawaban saya simpel: iklan yang bagus adalah yang konsisten, dan tentu saja, konsisten tidak boncos (rugi).
7. Menggas Iklan dengan Budget Terbatas untuk Pengiriman Kilat
Mas Bonbon menindaklanjuti bahasan pengiriman kilat, ia bertanya bagaimana 'menggas' iklan jika budget Rp100.000 hanya terpakai Rp40.000.
Saya menyarankan untuk menambah budget saja. Algoritma akan menggunakan budget sesuai kebijakannya, yang terpenting adalah jangan sampai 'tercekik' atau terlalu dibatasi. Berikan kelonggaran pada budget iklan.
8. Menaikkan Anggaran Iklan vs. Menaikkan ROAS untuk Omset
Mas Hasan bertanya, jika ingin meningkatkan omset, apakah lebih baik menaikkan anggaran iklan atau ROAS? Saya menegaskan bahwa jika tujuan utamanya adalah menaikkan omset, maka fokuslah pada menaikkan budget iklan.
Namun, perlu diingat, seperti kasus Mas Bonbon, akan ada titik di mana budget yang diset mungkin tidak terpakai sepenuhnya oleh algoritma.
9. Mengelola Diskon dan Iklan Saat Stok Menipis di Musim Panen
Mas Liberty Shop bercerita bahwa di masa 'panen raya' ini, stoknya menipis. Ia sudah mematikan Flash Sale dan mengurangi bahkan mematikan iklan, namun penjualan tetap tinggi. Ia berencana mematikan diskon produk dan khawatir akan dampaknya setelah Lebaran.
Saya mengakui ini dilema yang membingungkan. Jika saya di posisinya, saya akan tetap menjalankan iklan, meskipun dengan budget minimal, dan mengurangi diskon produk secara bertahap, tidak mematikannya sekaligus. Saya punya kekhawatiran jika penjualan tanpa iklan menjadi tidak realistis untuk jangka panjang.
Setelah Lebaran, mindset saya adalah 'restart' bisnis. Dulu saat masih punya gudang besar, saya bahkan bisa berhenti iklan sebulan untuk beres-beres dan menunggu pasokan baru. Jadi, intinya, jangan matikan diskon, tapi kurangi persentasenya sedikit demi sedikit.
10. Terpaku pada ROAS atau Profit?
Mas Adil kembali bertanya apakah saya terpaku pada ROAS dalam menganalisis iklan. Saya menjelaskan bahwa untuk iklan, tentu saja ROAS adalah parameter penting (begitu juga ACOS, yang merupakan kebalikannya, jadi itu hanya preferensi).
Namun, 'Northstar' atau panduan utama saya adalah profit. Profit tidak hanya dipengaruhi oleh ROAS atau iklan semata, melainkan kombinasi berbagai strategi seperti upload produk, strategi iklan, dan banyak lagi. Jadi, yang paling utama bagi saya adalah profitabilitas keseluruhan.
Demikian diskusi kita hari ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. Anda bisa mendapatkan lebih banyak insight di ghanirozaqi.com. Sampai jumpa di sesi berikutnya! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Kiat Efektif Jualan di Shopee: Mengelola Iklan, Stok, dan Strategi Bisnis Ala Ghani Rozaqi"
Posting Komentar