My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Bertahan Seller Online Bandung: Mengapa Komunitas Lebih Penting dari Sekadar Algoritma

Strategi Bertahan Seller Online Bandung: Mengapa Komunitas Lebih Penting dari Sekadar Algoritma

Kota Bandung sejak lama dikenal sebagai kota yang hidup karena komunitasnya. Di era digital saat ini, saya melihat semangat berkomunitas tersebut juga menular kuat ke dalam ekosistem para penjual (seller) online. Di tengah ketatnya persaingan e-commerce, saya dan rekan-rekan seller Bandung membuktikan bahwa bertahan di dunia bisnis digital tidak harus dilakukan sendirian, melainkan melalui kolaborasi, edukasi bersama, dan jaringan pertemanan yang solid.

Lahirnya MBGR: Dari Edukasi Gratis Menjadi Wadah Solidaritas

Salah satu tonggak penting pergerakan seller online di Bandung yang ingin saya ceritakan adalah lahirnya MBGR (Mentoring Bisnis Gratis). Diinisiasi oleh Ghani Rozaqi, seorang pengusaha dan content creator, MBGR berawal dari wadah diskusi dan pemecahan masalah praktis secara online via Zoom setiap Jumat sore yang sering saya ikuti.

Seiring berjalannya waktu, saya memperhatikan MBGR berevolusi dari sekadar forum online menjadi komunitas offline yang rutin mengadakan "Kopdar" (kopi darat) bulanan di berbagai titik di Bandung Raya, seperti Cileunyi, Soreang, dan Cibaduyut. Komunitas ini menjunjung tinggi semangat kesukarelaan dan memiliki semboyan yang selalu kami gaungkan:

"Sukses dan berkembang sama-sama"

Tantangan Berat Seller Online Saat Ini

Saya dan para seller di Bandung menyadari bahwa berjualan online di tahun-tahun ke depan terasa semakin berat. Beberapa tantangan utama yang sering saya temui dan menjadi keluhan bersama meliputi:

  • Kenaikan Biaya Admin: Potongan biaya admin marketplace yang terus merangkak naik (bahkan mencapai belasan persen) sangat menggerus margin keuntungan penjual seperti saya.
  • Perang Harga dan Monopoli: Gempuran produk impor murah, produsen yang langsung berjualan ke konsumen (end user), hingga hadirnya toko yang dikelola langsung oleh platform marketplace membuat persaingan harga menjadi tidak sehat.
  • Biaya Iklan (Ads) yang Membengkak: Biaya untuk mendatangkan traffic melalui iklan—seperti fitur GMV Max—semakin mahal dan kerap berujung boncos jika tidak dioptimasi dengan keahlian khusus.

Kolaborasi sebagai Kunci Bertahan Hidup

Menghadapi tantangan-tantangan di atas, saya melihat seller Bandung memilih jalan kolaborasi dibandingkan sekadar berkompetisi. Kami menyadari bahwa menekan ego dan bekerja sama adalah kunci untuk menekan biaya operasional. Beberapa bentuk kolaborasi konkret yang dilakukan antara lain:

  1. Berbagi Sumber Daya (Resource Sharing): Menyiasati biaya yang tinggi, para seller didorong untuk patungan. Misalnya, satu admin chat bisa dipekerjakan untuk melayani 10 seller sekaligus dengan sistem gaji urunan.
  2. MBGR Shop (Toko Palugada): Komunitas kami juga sempat membuat proyek eksperimental berupa "MBGR Shop", yaitu sebuah toko palugada di marketplace. Toko ini diisi dari produk-produk milik anggota komunitas, dikelola bersama, dan diiklankan melalui dana hasil patungan.

Puncak Solidaritas: "Bandung Lautan Seller"

Semangat gotong royong ini mencapai puncaknya melalui inisiasi acara akbar bertajuk Bandung Lautan Seller. Acara ini dirancang murni dari seller untuk seller sebagai ruang nongkrong akbar, sharing session, dan networking. Diselenggarakan pada 15 Januari 2026 di RM Ponyo Cileunyi, acara ini menjadi simbol perlawanan dan kebangkitan UMKM untuk mencari strategi bersama dalam menyambut panen raya, serta memperkuat jaring pengaman melalui relasi bisnis.

Kesimpulannya, bagi saya, seller online Bandung memberikan contoh nyata bahwa di tengah badai algoritma dan biaya layanan marketplace yang mencekik, membangun jaringan (networking) adalah investasi leher ke atas yang paling berharga untuk tetap tegak di dunia bisnis digital.

0 Response to "Strategi Bertahan Seller Online Bandung: Mengapa Komunitas Lebih Penting dari Sekadar Algoritma"

Posting Komentar