My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Mengapa Saya Kembali ke Model Bisnis Dropship di Tahun 2026?

Mengapa Saya Kembali ke Model Bisnis Dropship di Tahun 2026?

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang perjalanan bisnis saya yang cukup unik. Jika menengok ke belakang, sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu, saya memulai segalanya dari dropship. Kemudian perlahan saya naik kelas menjadi reseller, mulai menyetok barang sendiri, hingga akhirnya masuk ke tahap produksi sendiri.

Namun, per tahun 2026 ini, saya justru mengambil langkah yang mungkin bagi sebagian orang dianggap mundur: saya kembali full dropship. Hampir 99% bisnis saya sekarang berjalan dengan model ini, dan hanya menyisakan satu artikel produk saja yang masih hasil produksi sendiri.

Apakah Dropship Masih Menarik?

Pertanyaan ini sering sekali muncul. Bagi saya pribadi, jawabannya adalah sangat menarik. Bahkan, menurut saya ini jauh lebih menarik daripada menyetok barang sendiri. Saya ingin sedikit terbuka mengenai pencapaian saya dalam 30 hari terakhir agar kita punya gambaran yang sama.

Dalam sebulan, omzet yang dihasilkan berada di angka sekitar 300 jutaan rupiah dengan keuntungan bersih (setelah dikurangi modal produk, biaya iklan, dan admin fee) berada di kisaran 22 hingga 27 juta rupiah. Saya menyebutnya sebagai GPMI atau Gross Profit Minus Iklan.

Besar atau kecil itu relatif, namun bagi saya angka ini sangat masuk akal mengingat betapa rampingnya operasional yang saya jalankan.

Struktur Bisnis yang Lean dan Ramping

Mungkin keuntungan per produk di model dropship tidak sebesar jika kita memproduksi sendiri. Orang yang memproduksi barang mungkin bisa menjual dengan margin dua hingga tiga kali lipat dari HPP. Namun, yang perlu diperhatikan adalah biaya operasional atau cost.

Saat ini, operasional saya sangat ramping (lean). Saya hanya memiliki dua karyawan yang semuanya bekerja secara remote atau WFH. Bahkan ada satu karyawan yang belum pernah saya temui secara langsung; koordinasi kami hanya lewat Zoom tanpa menyalakan kamera. Artinya:

  • Saya tidak perlu menyediakan kantor atau meja kerja.
  • Saya tidak perlu menanggung biaya sewa gudang atau kontrak tempat.
  • Biaya utilitas seperti kopi, air, dan listrik kantor tidak ada.

Dibandingkan dengan bisnis yang omzetnya sama-sama 300 jutaan tapi harus mengurus pergudangan dan tetek bengek lainnya, model dropship ini jauh lebih efisien secara biaya. Jika Anda memproduksi sendiri tapi profit akhirnya tidak jauh berbeda dengan model dropship yang ramping ini, berarti ada yang perlu dievaluasi dari bisnis Anda.

Pentingnya "Berjamaah" dalam Dropship

Satu hal yang menjadi catatan penting bagi saya: dropship itu tidak akan menarik jika dilakukan sendirian. Seringkali di platform dropship, sesama penjual justru saling sikut untuk produk yang sama. Strategi yang saya terapkan agar tetap bertahan dan menguntungkan adalah dengan melakukannya secara berjamaah.

"Dropship itu melelahkan kalau sendirian, tapi akan sangat menarik jika dilakukan bersama-sama."

Dengan model yang lebih simpel ini, saya bisa lebih fokus pada strategi penjualan tanpa harus dipusingkan oleh urusan produksi dan pengelolaan stok yang rumit. Untuk teman-teman yang ingin tahu lebih lanjut mengenai detail teknisnya, saya sering membagikan catatan lainnya di ghanirozaqi.com.

0 Response to "Mengapa Saya Kembali ke Model Bisnis Dropship di Tahun 2026?"

Posting Komentar