My Sticky Gadget

Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Masalah Limbah Bisnis Fashion / Konveksi



Bisnis utama saya saat ini adalah bisnis fashion, dimana kami memproduksi sendiri produk kami, kecuali fase jahit. silakan kepoin dulu ya: Bajuyuli.

Cita2 saya adalah bikin perusahaan ZERO WASTE. Waste itu pada umumnya kebagi dua:
1. Waste activity = Non-value added activity = artinya aktivitas bisnis yang ga nambah nilai apa2, ini kehitung juga waste. ini ga akan saya bahas artikel ini, anda bisa baca ini: Buku Wajib Pebisnis: The Toyota Way

2. waste = limbah = sampah.. Secara nalar saya, ga mungkin ZERO sih, ga mungkin suatu perusahaan tanpa limbah sama sekali. Sederhananya, bungkus plastik dari barang apapun kan pasti dibuang... Tapi ya gpp, namanya juga cita-cita. Siapa tau beberapa tahun lagi sudah ada teknologi yang bisa membuat kami ZERO WASTE sepenuhnya.. Poin ini yang akan saya bahas di artikel ini.

Limbah / Kain Percah

Jadi limbah utama yang kami hasilkan adalah kain sisa sisa potongan, atau bisa juga disebut dengan kain percah.

Bahan baku kain itu dalam bentuk rol-rolan.. Dia seperti persegi panjang, yang panjang banget, lalu digulung. Kain berbentuk persegi empat itu dipotong, dengan berbagai pola, sehingga hasil potongan pola itu bisa dijahit menjadi produk fashion.. Dan potongan2 ini bentuknya macem, ada yang bulet, kotak, persegi panjang, memanjang, tali, dannn masih banyak lagi..

Area kerjanya persegi panjang, area potongnya macem2, artinya pasti ada bagian2 yang ga kepotong. perhatikan gambar di bawah:

susunan pola patrun kain potongan produk baju muslim
susunan pola patrun kain potongan produk baju muslim

Bisa dilihat, itu adalah gambar patrun / kartun pola yang disiapkan di atas kain yang akan dipotong. Banyak bagian2 yang ga terpotong, atau bukan jadi komponen suatu produk. Itulah kain majun / kain percah / limbah produksi kami.

Rasio antara area kain yang dipotong dibagi dengan area kerja kain, disebut dengan OCCUPANCY RATE. Occupancy rate kami itu rata2 di sekitar 80%-an.. katanya sih, yang bagus itu di kisaran 90%.. Kalau 100% rasnya ga mungkin.

Kasur Palembang

Sebenernya, limbah kami tersebut banyak yang mau nampung kok. Pada umumnya, limbah kain percah seperti itu dijadikan bahan baku kasur palembang. Itu loh, kasur yang ber-grenjel..

kasur palembang dari limbah kain majun / percah
kasur palembang dari limbah kain majun / percah



Jadi singkatnya seperti ini: kain percah / majun dicacah sampai super halus, sampai seperti serabut. Lalu dimasukkan ke dalam suatu kain yang sudah dijahit sedemikian rupa, sehingga akan berbentuk kasur.

Tapi prinsip dalam pengolahan limbah, semakin granual / semakin kecil bentuk fisik si limbah, artinya semakin banyak proses yang dilakukan. Artinya semakin mahal dalam menuju ke situ, artinya ada beban biaya yang mungkin saja ga ekonomis dalam segi bisnis.

Makannya kalau bisa, apapun limbahnya, kalau bisa dibentuk menjadi suatu produk sebelum menjadi cacahan, semakin baik.

Lantas apa saja yang sudah kami lakukan untuk mengurangi limbah? ini ide bagus juga buat temen2 yang punya bisnis fashion untuk diikuti..

Masker dari kain percah

masker dari limbah kain / kain percah / kain majun
masker dari limbah kain / kain percah / kain majun


Kalau bukan gara2 pandemi, mungkin ga akan ada ide ini. Ternyata potongan2 kecil sisa limbah kami bisa dijadikan masker kain! lumayan banget, bahan baku bisa dianggap gratis, paling hanya ngemodal karet dan ongkos jahit.

Gantungan Kunci dari kain percah

gantungan kunci dari limbah kain / kain percah / kain majun
gantungan kunci dari limbah kain / kain percah / kain majun


hampir semua jenis kain, bagian pinggiran-nya itu = limbah. Karena bagian2 itu hasil potongan dari pabrik, banyak benang keluar dan berserabut. Kain ini bentuknya seperti tali, dan bisa dijadikan gantungan kunci..
modal yang dibutuhkan adalah besi gantungan kunci, dan ongkos jahit.

Tas Packing dari kain percah

tas packing dari kain limbah, pengganti plastik
tas packing dari kain limbah, pengganti plastik


Kain kain percah yang bentuknya kotak, bisa dijadikan tas loh. Ini lumayan bisa mengganti plastik packing. Sebenernya jatohnya jadih lebih mahal. Plastik packing itu harganya ga nyampe 500 rupiah per pcs! mungkin cuma 100 pcs..

Tapi kalau bikin tas packing dari majun, kami membutuhkan sleting, plastik mika, dan tentu ongkos jahit. Kalau ditotal2 ongkos produksi untuk bikin tas packing seperti di atas adalah 2500 rupiah! sangat mahal jika dibandingkan beli plastik langsung..

Tapi gpp, ini demi menuju ZERO WASTE

Lap dari kain percah

lap dari kain majun / kain percah
lap dari kain majun / kain percah


ini mungkin yang paling umum. Kain percah dijadikan lap. Tapi desain lap kami sedikit berbeda, jadi potongan kain eprcah yang berbentuk kotak digabungkan jadi seperti kantong, lalu di dalemnya kami masukkan kain2 pecah yang kecil2. harapannya supaya empuk, dan bisa menyerap air lebih baik.

Kendala Utama

Meski sudah ada beberapa jenis produk dari kain limbah, limbah yang kami hasilkan masih banyak!! Kurang lebih sebulan itu bisa membuang sekitar 500kg kain! itu dari potongan2 yang super kecil..

Saya masih bingung gimana "ngabisinnya". Belum lagi, yang hasilnya sudah jelas pun (contoh2 di atas), kadang ga kami produksi, karena terkendala harga ongkos jahit.. Produk tersebut ga laku di jual, alhasil ya merugi..

--

semoga ada manfaatnya.

0 Response to "Masalah Limbah Bisnis Fashion / Konveksi"

Posting Komentar