My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Misteri Lonjakan Penjualan Organik Toko Shopee Saya

Saya tiba-tiba melihat performa organik toko saya meningkat drastis. Ini mengejutkan, mengingat saya sedang dalam fase testing iklan dengan budget minimal. Tiba-tiba, toko saya yang biasanya sepi mendapatkan 57 orderan, padahal iklan hanya berjalan dengan budget Rp22.000.

Iklan yang saya jalankan memang boncos, dengan ROAS 0,8. Saya tidak berharap banyak dari iklan ini, namun lonjakan 57 paket terjadi. Hal serupa juga terjadi di toko lain saya, dengan spending iklan Rp52.000 dalam seminggu terakhir dan ROAS 1,14, menghasilkan 14 paket hari ini. Uniknya, produk yang ramai adalah perangkap tikus, padahal toko ini disiapkan untuk gamis.

Saya mulai menyelidiki. Awalnya saya menduga ada lonjakan dari fitur AMS (Affiliate Marketing Solution) Shopee, namun data menunjukkan penjualan hari ini mencapai Rp1,9 juta dengan tingkat konversi luar biasa, 6,5% dari halaman produk, dan bukan dari affiliate. Impression iklan untuk produk gamis (yang sebenarnya jadi fokus toko) tiba-tiba melonjak tinggi, bahkan setelah iklan berhenti di jam 10 pagi. Ini jelas indikasi adanya trafik organik.

Meski awalnya terlihat bukan dari affiliate, saya tetap memeriksa lebih lanjut. Ternyata, ada kontribusi sekitar Rp400.000 dari affiliate, namun masih ada Rp900.000 yang belum jelas asalnya. Komisi yang dibayarkan pun standar, 9%.

Kecurigaan selanjutnya adalah adanya voucher Shopee yang 'merusak' harga. Saya melakukan cek acak pada beberapa pesanan. Ternyata, pembeli membayar harga normal atau menggunakan voucher toko sendiri, dan voucher Shopee yang signifikan tidak ditemukan. Jadi, harga tidak dihancurkan oleh Shopee.

Dengan iklan yang sudah berhenti namun impression terus meningkat tajam, penjualan mencapai Rp1,3 juta dengan CTR 5,7% dan conversion rate 14%, saya mulai bertanya-tanya. Saya memiliki dua dugaan awal: adanya 'bom COD' atau supplier kompetitor kehabisan stok sehingga pembeli beralih ke toko saya. Setelah memeriksa, transaksi COD masih dalam batas wajar, sekitar setengah dari total pesanan.

Toko saya yang kedua juga menunjukkan pola serupa, dengan penjualan Rp300.000 hari ini. Setelah memeriksa AMS, terlihat bahwa sekitar setengah dari penjualan (Rp135.000) berasal dari affiliate. Artinya, affiliate memang berkontribusi signifikan. Saya berasumsi, entah karena affiliate mendorong organik saya menjadi bagus, atau karena organik yang bagus membuat para affiliate menemukan dan mempromosikan produk saya. Menariknya, produk perangkap tikus ini bukanlah produk yang sedang tren.

Saya juga kembali memeriksa pesanan dari toko kedua, memastikan tidak ada harga yang dihancurkan oleh Shopee, dan tidak ada voucher yang menolkan harga produk. Voucher Shopee yang digunakan pun nominalnya kecil.

Jadi, lonjakan organik ini mengerucut pada dua dugaan kuat: habisnya stok supplier kompetitor atau 'bom COD'. Saya masih bingung mana yang benar, tetapi saya sangat bersyukur. Saya memutuskan untuk tidak menambah budget iklan karena jelas bukan iklan saya yang mendorong impression tertinggi. Produk gamis masih memiliki impression tertinggi, jadi dari mana trafik ini datang, saya jujur masih bingung. Saya akan memantau stabilitasnya dalam beberapa hari ke depan sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.

Hari Kedua Pemantauan

Dua hari kemudian, saya kembali memantau. Saya tidak melakukan perubahan apa pun pada iklan. Penjualan hari ini turun drastis menjadi Rp19.000. Saya mulai curiga apakah produk saya masuk ke kategori 'Termurah di Shopee', namun saya belum sempat memeriksanya.

Saya tidak ikut garansi harga terbaik Shopee. Dalam seminggu terakhir, produk ini hanya mendapatkan 73 klik dari iklan, dan yang 'tiba-tiba' viral hanya 29 klik. Namun, volume performa produk selama seminggu terakhir menunjukkan penjualan Rp2 juta dari 109 pembeli dan 680 pengunjung. Ketika saya bandingkan klik iklan dengan impression keseluruhan, impression produk mencapai 17.000, yang berarti 99% berasal dari organik! Ini sangat aneh. Impression di toko lain juga melonjak hingga 28.000, sementara iklan hanya menyumbang ratusan impression. Saya juga mengecek ulasan, tetapi produk ini belum memiliki ulasan sama sekali. Hari ini, impression organik masih dua kali lipat dari iklan, meskipun penjualan cenderung rendah.

Tingkat konversi tetap stabil di angka tinggi, sekitar 12-14%. Saya membandingkan produk yang diklik (800) dengan pengunjung (680), yang awalnya mengindikasikan bukan dari affiliate. Namun, setelah memeriksa data affiliate selama seminggu terakhir, penjualan mencapai Rp1 juta dengan komisi Rp47.000. Ini berarti sekitar 30-50% penjualan berasal dari affiliate, sisanya organik. Sumber viralnya mayoritas dari Facebook, kemungkinan dari promotor eksternal.

Saya mendapatkan trafik organik ini, dan saya terus mencoba memahami mengapa. Penting bagi saya untuk tahu penyebab lonjakan penjualan agar bisa menduplikasi strategi di masa depan. Namun, dugaan saya, penyebab di toko ini berada di luar variabel kontrol langsung saya. Meskipun bingung, saya menikmati profitnya. Profit per produk memang kecil, namun total profit kotor setelah dikurangi biaya admin dan iklan dari toko ini mencapai Rp200.000. Saya menggunakan BigSeller untuk melacak keuntungan, yang sangat membantu. Saya penasaran berapa lama 'durian runtuh' ini akan bertahan. Dugaan saya, hanya sekitar seminggu, dan saya tidak berniat menggeber iklan.

Kesimpulan Akhir

Tiga hari kemudian, saya kembali memantau. Sekali lagi, saya tidak mengubah pengaturan iklan apa pun. Impression organik yang awalnya saya kira akan terus menurun, justru naik lagi! Mencapai Rp34.000, sementara iklan hanya menyumbang Rp3.800. Penjualan harian juga kembali meningkat. Saya akhirnya mencapai kesimpulan kuat: kemungkinan besar lonjakan organik ini disebabkan oleh affiliate.

Data affiliate selama 7 hari terakhir menunjukkan penjualan Rp1,8 juta, stabil di sekitar setengah dari total penjualan. Artinya, affiliate memang mendorong organik saya. Sumbernya kebanyakan dari link eksternal, seperti Facebook (51%) dan Instagram (35%). Ini mengindikasikan bahwa affiliate eksternal mampu mendorong algoritma Shopee untuk meningkatkan visibilitas organik produk. Berbeda dengan paid traffic yang memiliki risiko biaya tinggi, sistem affiliate adalah success fee, di mana saya hanya membayar setelah penjualan terjadi. Total komisi yang dikeluarkan hanya Rp81.000 untuk penjualan Rp1,8 juta, yang jauh lebih efisien dibandingkan beriklan sendiri. Kesimpulan saya, lonjakan organik ini adalah hasil dari aktivitas affiliate eksternal yang tinggi. Meskipun ini terjadi saat Payday dan saya menduga efeknya tidak akan bertahan lama, saya berharap bisa terus mendapatkan berkah ini.

0 Response to "Misteri Lonjakan Penjualan Organik Toko Shopee Saya"

Posting Komentar