My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Membasmi Modus Retur Fiktif: Pertemuan Saya dengan JNE untuk Ekosistem Bisnis yang Lebih Sehat

Hari ini, saya menghadiri pertemuan penting di kantor JNE, tepatnya di warehouse besar mereka di Gede Bage, Bandung. Pertemuan ini membahas maraknya modus retur fiktif dari pembeli yang sangat merugikan para penjual, di mana pengiriman retur ini seringkali melalui JNE.

Beruntungnya, saya memiliki kenalan di JNE Bandung yang dengan sigap merespons dan mengajak saya untuk berdiskusi. Ini menunjukkan betapa pedulinya JNE terhadap para penjual seperti kami. Sungguh luar biasa, JNE memang peduli pada seller!

Singkat cerita, belakangan ini banyak sekali kasus retur dari pelanggan Shopee yang mengeluhkan barang dengan memberikan foto ulasan, bukan foto asli dari paket mereka. Ketika penjual mengajukan banding, seringkali ditolak oleh Shopee dengan alasan tidak sesuai, padahal paket yang dikembalikan berisi barang-barang aneh seperti baju bekas atau barang yang tidak relevan sama sekali. Ini jelas tidak benar.

Saya sangat bersyukur JNE mau mengajak kami rapat teknis terkait masalah ini. Saya berharap modus ini bisa diberantas hingga ke akar-akarnya, karena JNE seharusnya memiliki data pengirim, agen pengiriman, dan bisa melacaknya. Ada banyak korban retur fiktif yang datang ke pertemuan ini, menunjukkan betapa seriusnya masalah ini bagi para seller kecil seperti kami. Mudah-mudahan ini menjadi langkah terbaik bagi kami dan seller-seller lain agar tidak mengalami kejadian serupa.

Salah satu korban adalah Bu Uli, seorang seller senior yang turut hadir. Bu Uli menjelaskan bahwa pengembalian barang berbeda dengan pengiriman yang tidak sampai. Jika barang sudah diterima pembeli dan dibayar, statusnya seharusnya selesai. Namun, Shopee memberi waktu sekitar dua minggu bagi pembeli untuk mengembalikan barang dengan alasan apapun. Masalahnya, barang yang dikembalikan seringkali bukan milik penjual, melainkan barang bekas.

"Ini yang dikembalikan itu barangnya barang bekas," jelas Bu Uli. "Ketika kami banding, kadang menang, kadang kalah. Kalau kalah, kami rugi dua kali: rugi ongkir, rugi barang, rugi iklan yang sudah dibayar, bahkan rugi bayar afiliasi jika pakai sistem afiliasi. Padahal, status transaksinya sudah selesai. Jadi, kerugiannya sangat banyak. Jangan dikira penjual itu untungnya banyak."

Bu Uli juga memaparkan bahwa modus saat ini sebetulnya mirip dengan yang sudah ada. Dulu ramai di TikTok menggunakan J&T, sekarang pindah ke Shopee dan menggunakan JNE. Kami mengumpulkan barang bukti, dan tipenya sama persis: kresek hitam, posisi label pengembalian barang dari JNE tercetak sama, meskipun dikirim dari Kabupaten Bandung, Cianjur, atau Tasikmalaya. Seharusnya, pengembalian dari pembeli itu tidak akan ada yang sama karena tipikal pembeli berbeda-beda, mereka pakai kantong seadanya di rumah. Pembeli tidak mungkin punya pola yang sama.

Yang paling menyebalkan, menurut Bu Uli, adalah saat barang dikembalikan ke pembeli, isinya seringkali hanya legging atau singlet bekas. "Ini baju bekas saya bawa sebagai bukti," katanya sambil menunjukkan tumpukan barang aneh yang ia terima. Semuanya dari JNE, dan polanya mirip.

Modus terbaru yang saya lihat adalah pembeli mengambil bukti foto dari ulasan orang lain. "Betul, jadi nyomot dari ulasan," Bu Uli mengiyakan. "Saya bahkan sempat kalah banding di Shopee karena saking seringnya, saya hanya bilang bahwa saya sudah kirim sesuai bukti, padahal saya punya bukti video packing. Tapi tetap saja ditolak. Admin Shopee seolah tidak membaca keluhan kami."

Ada juga kejadian yang lebih parah, di mana paket retur berisi baju bayi bekas yang sudah basah dan bau, sampai-sampai admin enggan memegangnya.

Yah, begitulah. Hari ini kami berikhtiar. JNE sangat koperatif dan baik sekali. Karena retur fiktif ini belakangan seringnya melalui JNE, seharusnya JNE bisa melacak dan memberantasnya. Modus ini bisa tergolong tindakan kriminal dan pidana, karena secara tidak langsung juga merugikan pihak JNE yang nama baiknya disalahgunakan, dan mereka juga dikenakan biaya setiap pengiriman. Jadi, rugi dua-duanya.

Saya bahkan sempat memposting keluh kesah saya tentang situasi ini. Alhamdulillah, Bu Uli baru selesai bertemu dengan orang JNE, dan mereka sangat koperatif serta baik. Harapan kami bukan sekadar mencari paket yang datang untuk diganti, tetapi agar ekosistem bisnis menjadi lebih sehat. Kami berharap para korban dan seller-seller lain dapat terbantu dengan usaha kecil kami ini.

Hasil meeting ini akan saya bahas di tulisan atau video terpisah agar tidak terlalu panjang. Yang jelas, mudah-mudahan upaya ini bisa membantu para seller menghadapi ekosistem yang lebih sehat dengan dukungan JNE. Terima kasih JNE, memang lebih pro-seller!

Salam hangat dari saya, Ghani Rozaqi, dan kunjungi blog saya di ghanirozaqi.com untuk tips dan informasi seputar bisnis online.

0 Response to "Membasmi Modus Retur Fiktif: Pertemuan Saya dengan JNE untuk Ekosistem Bisnis yang Lebih Sehat"

Posting Komentar