Saya ingin berbagi tips produktif saya tentang mencatat. Di era digital ini, apakah mencatat masih relevan?
Saya pribadi selalu memiliki banyak catatan. Saya lebih suka mencatat menggunakan kertas fisik karena sifatnya yang modular dan mudah digeser-geser. Saya selalu menggunakan kertas berukuran A5, yang saya dapatkan dengan membagi dua kertas A4 agar pas dengan map A5 saya.
Namun, yang ingin saya bahas adalah dua jenis metode pencatatan: mencatat di kertas dan mencatat secara digital.
Mencatat di Kertas: Memetakan Pikiran & Menunjukkan Rasa Hormat
Pertama, mari kita bahas mencatat di kertas. Bagi saya, manfaat utamanya adalah membantu memetakan pikiran saya. Proses ini membuat pemikiran saya menjadi lebih jernih. Banyak teori juga mendukung bahwa mencatat dengan pulpen dan kertas bukan hanya untuk membaca kembali, melainkan untuk menata pikiran kita. Di zaman yang penuh gangguan seperti sekarang, pikiran kita mudah terpecah. Dengan mencatat di kertas, kita bisa memindahkan hal-hal yang tidak perlu terus kita ingat ke dalam tulisan, sehingga membantu memetakan dan menjernihkan pikiran.
Berbeda dengan mencatat digital, saya pribadi tidak merasa Google Sheets atau Notion efektif untuk memetakan pikiran. Mungkin ini kebiasaan saya yang berbeda dengan Anda. Saya menggunakan Notion, Google Sheets, atau Google Docs untuk keperluan lain. Namun, untuk memetakan pikiran, saya kembali lagi pada metode konvensional: pena dan kertas.
Manfaat kedua adalah menunjukkan rasa hormat. Baik saat mengikuti webinar, bertanya pada mentor, atau berinteraksi tatap muka, saya pribadi, sebagai seorang pembicara yang sering berbagi, sangat menghargai ketika audiens saya mencatat. Meskipun saya tahu catatan itu mungkin tidak selalu dibaca kembali, tindakan mencatat menunjukkan bahwa mereka menghargai dan ingin mendengarkan apa yang saya sampaikan. Ini adalah bentuk rasa hormat kepada pembicara. Saya selalu berusaha untuk melakukan hal yang sama; saat berdiskusi serius, saya mencatat. Selain untuk memetakan pikiran, ini juga menunjukkan rasa hormat saya kepada lawan bicara. Jika saya melihat seseorang mencatat di kertas, bukan di ponsel, saya akan merasa mereka benar-benar mendengarkan. Jika di ponsel, saya cenderung curiga mereka mungkin tidak sepenuhnya fokus. Jadi, mencatat dalam situasi mentoring, FGD, atau webinar adalah bentuk rasa hormat kepada pembicara.
Transisi ke Catatan Digital & Kolaborasi dengan AI
Jadi, manfaat pertama adalah memetakan pikiran, kedua adalah menunjukkan rasa hormat. Ketiga, apakah catatan ini dibaca lagi? Ya, beberapa catatan pribadi memang saya baca kembali, namun tidak semuanya. Terkadang, saat bertemu orang untuk berdiskusi, saya mencatat dengan tujuan utama menghargai dan memetakan pikiran saat itu, dan catatan tersebut belum tentu saya baca lagi di kemudian hari. Namun, jika Anda ingin catatan Anda bisa dibaca kembali dan mudah diakses, ubahlah menjadi format digital. Ini adalah praktik yang baru saya terapkan sekitar enam bulan hingga setahun terakhir, dan dampaknya luar biasa. Saya tidak perlu lagi mencari-cari catatan fisik atau menumpuk banyak kertas. Kini, semua langsung saya konversi menjadi digital.
Ini membawa kita pada catatan digital. Baik yang langsung Anda ketik di Google Sheets, Notion, atau platform lain, maupun catatan fisik yang Anda foto dan digitalisasi. Begitu menjadi digital, catatan tersebut bisa langsung terhubung dengan AI. Ini sangat luar biasa di zaman sekarang! Saya sekarang menggunakan AI untuk hampir semua catatan penting saya, mulai dari catatan kesehatan, seperti rekaman detak jantung saat berjalan kaki atau berlari, pola tidur, hingga diet (bukan membatasi makan, tapi jenis makanan). Saya memasukkan semua data itu dan berdiskusi dengan AI tentang perkembangannya. Ini berlaku untuk catatan pribadi, bisnis, bahkan evaluasi. Misalnya, saat mengevaluasi toko, saya mencatat apa yang saya evaluasi dan tindakan yang saya lakukan, agar di kemudian hari bisa saya jadikan referensi. Namun, jangan hanya dicatat, tapi juga libatkan AI.
Detailnya bisa Anda simak di vlog Panen Raya saya, yang biasanya tayang setiap Rabu pukul 19.30 WIB. Saya mencatat semua yang saya lakukan untuk toko-toko saya dan tidak perlu mengingatnya, karena saya sudah mencatatnya dan berkolaborasi dengan AI. AI akan membaca dan saya juga membaca, sehingga jika saya bingung, AI dapat memetakan informasi dan saya tinggal bertanya saja, jauh lebih cepat daripada mencari file secara manual. Jadi, catatan digital saat ini tidak hanya untuk dibaca kembali, tetapi juga untuk berkolaborasi dengan AI.
Contoh nyatanya, jika saya mencari 'catatan ini di mana?', AI bisa langsung menemukannya. Manfaat kedua adalah AI bisa membantu kita mengkonkretkan ide. Misalnya, saat saya mendapatkan masukan dari mentor (seringkali melalui Zoom), saya akan mencatatnya. Kemudian, catatan tersebut saya benturkan dengan data kondisi bisnis saya yang sudah ada. AI akan membantu mengungkap blind spot karena ia bisa melihat data-data lain yang mungkin kita lupakan. Setelah dibenturkan, AI akan memberikan saran konkret yang harus saya lakukan. Ini sangat memudahkan proses eksekusi. Memiliki catatan digital kini sangat mudah, tidak seperti dulu. Jika tidak memanfaatkan teknologi ini, Anda akan tertinggal. Prosesnya sederhana: catat, simpan, dan berinteraksi dengan AI. Bagi saya, ini telah membuat proses bisnis menjadi lebih cepat selama setahun terakhir. Lebih cepat, meskipun tidak selalu lebih mudah karena seringkali muncul banyak 'pekerjaan rumah' baru. Namun, setidaknya, kebingungan mencari catatan sudah teratasi.
Itulah beberapa tips produktif ala saya. Semoga bermanfaat.

0 Response to "Mencatat Ala Saya: Dari Kertas ke Digital, Ditemani AI"
Posting Komentar