Alhamdulillah, ini adalah vlog panen raya yang keenam. Setelah 6 minggu, toko saya akhirnya pecah telur! Saya sangat senang, karena pecah telur selalu menjadi momen yang sangat menggembirakan. Entah itu toko baru atau produk baru, rasanya senang sekali saat pecah telur.
Mungkin ada yang bertanya, 6 minggu baru pecah telur itu bagus atau tidak? Sebenarnya relatif. Saat ini adalah low season untuk produk muslim. Jadi, menurut saya ini wajar. Jujur, rekor saya pecah telur itu hanya sehari setelah produk diunggah, terjadi saat saya berjualan jersey Piala Dunia. Upload hari ini, besoknya langsung pecah telur. Rasanya senang sekali!
Vlog ini benar-benar merekam 90% dari apa yang saya kerjakan. Sisa 10% adalah hal-hal kecil yang mungkin tidak sempat atau tidak perlu saya rekam, seperti mengganti nomor HP atau tugas remeh-temeh lainnya. Jadi, jika suatu saat nanti berhasil, Anda bisa menapak tilas perjalanan ini. Jika gagal, semoga tetap ada wawasan yang bisa diambil.
Video-video di vlog ini memang panjang, berbeda dari vlog-vlog sebelumnya. Jika suatu saat berhasil, mungkin Anda akan pusing menapak tilasnya karena setiap vlog bisa berdurasi dua jam hingga vlog ke-20 atau ke-25. Jadi, lebih baik ikuti saja perkembangannya!
Pecah Telur di Minggu Keenam!
Alhamdulillah, saya akhirnya pecah telur di vlog keenam ini, setelah lebih dari sebulan. Ini adalah momen yang sangat menggembirakan, apalagi untuk toko baru seperti ini, atau saat meluncurkan produk baru. Dan yang lebih hebat, ini adalah pembelian prepaid, bukan COD atau pembelian impulsif. Harganya lumayan tinggi. HPP (Harga Pokok Penjualan) sekitar Rp10.000-an, terjual di Rp413.000, dengan harga yang dibayar pelanggan Rp380.000.
Ini terjadi di toko Greya, untuk produk dengan angle jumbo. Saya tidak pernah menggunakan strategi FOFO (Fake Order Fake Order). Saya paham betul manfaat FOFO, tapi sampai saat ini, saya belum pernah melakukannya. Jadi, ini juga sekaligus menjawab pertanyaan teman-teman, apakah harus FOFO dulu agar pecah telur? Tidak, tidak harus. Buktinya, saya pecah telur tanpa FOFO.
Produk ini diunggah 13 hari lalu dan hari ini pecah telur. Sempat ada kebingungan dengan harga yang tertera Rp550.000 di PC, padahal seharusnya tidak semahal itu dan semua varian sudah didiskon. Kemungkinan itu adalah error. Yang pecah telur ternyata adalah produk Kansa Broken White. Lumayan sekali!
Awalnya saya tidak berencana merekam momen ini, tetapi karena pecah telur, saya merasa harus segera merekamnya mumpung masih teringat. Jadi, sekalian saja dalam rekaman ini saya akan mengunggah produk lain. Karena Greya dengan angle jumbo sudah pecah telur, saya ingin melakukan scale out untuk produk abaya cupro ke toko Greya.
Strategi Produk dan Bantuan AI
Saya sering salah antara Greya dan Graya, yang seringkali merepotkan diri sendiri. Oke, kita akan fokus ke Greya dengan main angle jumbo-jumboan. Saya menggunakan ChatGPT, yang kini semakin bagus dalam membuat gambar, berbanding terbalik dengan Gemini yang malah kualitasnya menurun. Saya akan mengubah cover produk untuk angle jumbo.
Target saya adalah mengunggah 10 produk Greya. Saya memanfaatkan ChatGPT untuk membuat foto produk baru dengan latar belakang kafe dan logo Greya, memastikan modelnya full body dan berukuran big size jumbo (sekitar 100 kg). Saya juga membuat deskripsi produk dengan brand Greya sebagai spesialis abaya jumbo.
Hal menarik lainnya adalah perilaku pelanggan Shopee saat ini. Pembeli tidak banyak melakukan chat sebelum membeli. Dulu, chat hampir wajib. Makanya, saya agak heran masih ada penjual yang mencantumkan ‘tanyakan dulu via chat’ di deskripsi produk. Sekarang, orang malas chat karena jika produk tidak sesuai harapan, mereka tinggal mengembalikannya dengan mudah tanpa banyak kerugian, selain waktu. Jadi, ini adalah buktinya, saya pecah telur bahkan tanpa chat dari pembeli.
Saya juga menggunakan Gemini untuk membuat judul produk yang SEO friendly untuk Shopee, dimulai dengan ‘abaya cupro’, tanpa kata hubung, dan mengecualikan kata-kata tertentu. Ini karena Gemini, sebagai produk Google, seharusnya lebih baik dalam hal SEO.
Evaluasi Mingguan dan Tindakan Lanjut
Setiap minggu, saya melakukan evaluasi performa toko dengan data dari Shopee. Untuk Greya yang kemarin pecah telur (meskipun ternyata pesanan dibatalkan), saya mengecek status pencairan dan performa produk. Saya mengunduh data, membersihkannya, lalu mengunggahnya ke Google Drive dan Gemini Notebook untuk analisis. Saya memeriksa CTR, ATCR, dan performa iklan yang masih sangat minimalis. Untuk toko baru tanpa ulasan, CTR dan ATCR yang saya dapatkan cukup lumayan. Jika dibandingkan dengan toko lain, metriknya mirip, menandakan bahwa performa sudah cukup optimal.
Berdasarkan rekomendasi Gemini dan Shopee, saya fokus pada peningkatan konversi. Saya menambahkan keterangan LD (Lingkar Dada) pada deskripsi produk dan memperkuat visual unique selling point (USP). Misalnya, saya mengubah varian pertama agar sesuai dengan cover produk, yaitu Amara Black Gold. Saya juga menambahkan foto-foto fokus pada fitur utama produk, seperti bordir payet dan resleting depan busui friendly, dengan panah dan tulisan tanpa perlu zoom in, agar terbaca jelas di HP. Harapan saya, tingkat ATCR untuk etalase ini bisa naik mencapai 10%.
Untuk toko Graya, yang juga baru pecah telur, performa ATCR-nya masih rendah, sekitar 1,8%. Saya mengarsipkan produk-produk dengan CTR 0%. Masalah utamanya adalah konversi: banyak orang datang melihat produk, tapi tidak jadi membeli, menandakan ada kesenjangan antara ekspektasi dan realita. Gemini menyarankan untuk memisahkan grouping produk menjadi individual SKU dan menerapkan mode ROAS khusus, namun saya memilih pendekatan yang berbeda untuk Graya.
Saya memutuskan untuk membuat infografik yang menonjolkan USP produk Graya, seperti ukuran jumbo, payet, dan bordir. Saya menggunakan ChatGPT untuk membuat poster mobile-friendly dengan 3-5 poin utama yang mudah dibaca di HP. Saya juga mengubah urutan varian produk Graya berdasarkan varian terlaris yang paling banyak di-ATC (Add-to-Cart), yaitu Farah Black Gold. Ini membuktikan bahwa pelanggan cenderung mencari varian yang sama dengan foto cover produk. Saya juga menambahkan informasi LD di depan varian ukuran.
Terakhir, untuk toko Grabaya, saya melihat adanya spark organik; traffic organik berjalan dengan baik, bahkan tiga kali lipat dari traffic iklan. Namun, toko ini masih boncos dan belum ada penjualan sama sekali. ATCR-nya juga sangat kecil, 1,75%. Sama seperti Graya, saya mengubah urutan varian berdasarkan produk terlaris di-ATC, yaitu Farah Black Gold, dan menambahkan LD di varian ukuran. Saya tidak melakukan tindakan lain untuk Grabaya sampai ada hasil dari perubahan di Greya.
Saya masih kuat untuk menanggung keboncosan ini, terutama di low season. Angka Rp175.000 untuk panen raya dalam seminggu masih bisa saya ikhlaskan. Memang, di era GMV Max Shopee saat ini, berjualan produk mahal relatif lebih mudah dibandingkan era iklan manual, meskipun tantangannya berbeda. Semoga evaluasi selanjutnya menunjukkan peningkatan ATCR di setiap etalase.

0 Response to "Perjalanan Pecah Telur Pertama Toko Baru: Evaluasi Mingguan dengan Bantuan AI"
Posting Komentar