My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Belajar dari Pengalaman: ROAS Iklan Produk Otomatis Shopee 32x

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya ingin berbagi pengalaman tentang iklan. Saya jarang sekali 'flexing' atau pamer, karena memang tidak banyak yang bisa dipamerkan. Sebagai penjual, saya tahu betul bahwa boncos (rugi) adalah bagian dari keseharian kita. Kali ini, saya ingin memamerkan hasil yang bagus. Yang jelek tentu saja banyak, dan itu tidak perlu saya tunjukkan. Itulah kenyataannya.

Saya ingin memamerkan hasil iklan dari satu produk. Dalam satu bulan terakhir, saya berhasil mendapatkan ROAS 32. Angka ini tentu sangat 'segar'. Apakah ini karena harganya murah? Jangan salah. Produk ini adalah sepatu pantoffel untuk sekolah.

Saya menjualnya dengan harga sekitar dua kali HPP. Produknya adalah sepatu sekolah 'Fovel' untuk anak perempuan. Harga pokok produksinya (HPP) paling mahal adalah Rp117.000, dan saya menjualnya di harga Rp160.000.

Dengan ROAS sebesar ini, silakan Anda hitung sendiri apakah angkanya kecil atau besar. Secara persentase, saya katakan ini besar, meskipun secara rupiah relatif. Apa yang saya lakukan? Sejujurnya, saya tidak mengklaim ini karena saya 'jago'. Saya tidak merasa demikian. Saya hanya mengikuti tren, dan mengikuti tren itu sangat mudah.

Maksud saya, Anda bisa mengetahui tren, tetapi kuncinya adalah bagaimana keluar dari zona nyaman. Produk ini memang sedang tren saat musim 'back to school' di akhir Juni lalu. Jika melihat data, di awal-awal mungkin ada boncosnya, tapi dalam satu bulan terakhir, dari akhir Juni hingga akhir Juli sekarang, performanya sangat baik. Memang di awal Juli hingga menjelang akhir Juli mulai sedikit melempem, tapi dengan angka ROAS segini, bagi saya ini sudah sangat bagus.

Coba hitung sendiri dengan HPP Rp117.000, misalkan ada beberapa pembatalan. Saya sudah menghitungnya dan hasilnya memuaskan. Yang menarik, saya sudah mencoba berbagai jenis iklan untuk produk ini, mulai dari iklan individual hingga iklan produk otomatis. Ternyata, iklan produk otomatis memberikan hasil yang sangat bagus. Ini benar-benar di luar dugaan saya. Bahkan, saya sampai menghapus produk-produk lain dari iklan produk otomatis, kecuali yang memang sedang tren untuk Agustusan seperti bendera atau umbul-umbul.

Produk sepatu pantoffel sekolah putri ini saya iklankan dengan ROAS target 25 dan budget Rp22.000. Budget ini tidak saya tambah karena beberapa alasan. Pertama, di pertengahan Juni saya sedang sangat sibuk dengan tren Piala Dunia. Mengurus penjualan jersey Piala Dunia bersama sindikat dropship, merekap data, dan meng-upload produk dengan cepat itu benar-benar menyita waktu. Jadi, ketika saya sadar bahwa iklan sepatu ini bagus, saya biarkan saja karena fokus saya sedang di Piala Dunia.

Alasan kedua, ada satu waktu di mana stok dari supplier sempat habis. Mungkin hanya sekitar 2-3 hari. Ketiga, tren produk ini sudah mulai habis. Saat saya berpikir untuk melakukan scale-up, saya sadar bahwa ini sudah di penghujung Juli dan trennya akan mereda.

Mungkin nanti menjelang Agustusan trennya akan naik lagi, dan saat itu mungkin saya akan menaikkan budgetnya. Dengan budget iklan lama yang hanya Rp22.000, saya bisa mendapatkan omset Rp15 juta dengan pengeluaran iklan Rp430.000. Ini adalah sebuah 'flexing' sederhana, namun ada beberapa pelajaran penting yang bisa Anda ambil.

Pelajaran Penting (Takeaways)

  1. Produk Tren Itu Mudah

    Teori ini masih belum terpatahkan. Berjualan produk yang sedang tren, khususnya di Shopee, itu mudah. Namun, ada catatan penting sekarang: masalah boncos atau tidak. Dulu, saya berani memasang iklan otomatis tanpa batasan budget untuk produk tren. Tetapi, pengalaman saya saat tren Piala Dunia menunjukkan bahwa meskipun produknya mudah terjual, iklan bisa saja boncos. Jadi, berjualan produk tren itu mudah, tetapi boncos juga bisa terjadi. Bagi Anda yang baru memulai atau penjualan sedang seret, cobalah untuk melihat tren di kategori produk Anda. Saya percaya, teori bahwa produk tren mudah dijual ini masih berlaku di Shopee hingga sekarang.

  2. Tamak Pangkal Boncos

    Saat itu, ketika saya sibuk dengan Piala Dunia, saya berpikir jika saya terlalu serakah untuk scale-up iklan sepatu ini, kemungkinan besar akan boncos. Dari pengalaman saya, keinginan untuk mendapatkan profit sebesar-besarnya di mana-mana seringkali berujung pada boncos. Meskipun terkadang ketamakan bisa tetap menghasilkan untung, saya merasa selisihnya tidak akan terlalu jauh dibandingkan jika saya bermain lebih defensif. Namun, jika saya melakukan scale-up dengan tamak, saya akan pusing dan kerepotan mengurusnya. Manfaat yang saya dapatkan adalah waktu. Ini hanya kebijaksanaan pribadi saya, yang tidak bisa saya buktikan dengan data. Selama 10 tahun terakhir berjualan online, saya merasa bahwa ketamakan seringkali berujung pada kerugian. Jadi, jika sudah untung, nikmati saja profitnya. Anda boleh tidak mempercayai ini karena memang tidak ada data konkret, ini murni hanya dari 'feeling' saya.

  3. Lakukan yang Belum

    Jenis iklan Shopee sekarang semakin banyak dan tidak sesimpel dulu. Setelah iklan manual dihapus, saya justru merasa lebih sederhana, tapi sekarang kembali menjadi kompleks. Ada iklan grouping, individual, produk otomatis, iklan Live, dan berbagai settingan lainnya seperti akselerasi performa, auto, atau ROAS target tertentu. Jika Anda terus-menerus boncos dengan satu settingan, cobalah settingan lain, alias 'lakukan yang belum'. Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk iklan, tetapi juga dalam hidup. Melakukan hal yang sama berulang kali namun mengharapkan hasil yang berbeda adalah sebuah kekonyolan.

    Jika Anda merasa strategi Anda stagnan, penjualan tidak kunjung naik, atau terus-menerus berputar antara boncos dan tidak, cobalah untuk melakukan hal yang belum pernah Anda coba. Alhamdulillah, saat ini pembukuan saya lebih sering di antara profit tipis dan profit tebal, jarang sekali boncos. Jadi, jika hasil Anda begitu-begitu saja dan Anda berharap perubahan dengan cara yang sama, coba lakukan yang berbeda. Jangan takut hasilnya akan lebih buruk, cobalah saja. Intinya adalah eksperimen. Dalam dunia iklan, terutama belakangan ini, produk dan jenis iklan itu seperti 'jodoh-jodohan'.

    Tidak ada satu formula 'iklan ini pasti bagus' atau 'iklan itu pasti jelek'. Dulu, dengan iklan manual, kita bisa mengatakan bahwa iklan kata kunci spesifik yang luas cenderung bagus. Tapi sekarang, ada toko yang sukses dengan iklan grouping, ada yang tidak. Ada yang sukses dengan iklan individual, ada yang tidak. Seperti yang saya pamerkan tadi, iklan produk otomatis saya sangat bagus untuk produk sepatu itu, namun untuk toko lain dengan produk berbeda, hasilnya tidak selalu sama, padahal saya melakukan hal yang serupa. Jadi, ini memang seperti 'jodoh-jodohan'. Silakan bereksperimen sendiri. Jangan percaya saya, jangan percaya orang lain. Percayalah pada data Anda sendiri. Jika hasilnya bagus, lanjutkan!

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda. Jika Anda tertarik untuk bergabung dengan sindikat dropship kami, kunjungi ghanirozaqi.com. Seperti yang saya ceritakan tadi, berjualan jersey Piala Dunia bersama-sama itu jauh lebih seru dan mudah, saya pun tidak berani melakukannya sendiri. Mari, sikat saja peluangnya! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Belajar dari Pengalaman: ROAS Iklan Produk Otomatis Shopee 32x"

Posting Komentar