Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kali ini, saya ingin membahas sebuah konsep. Ini adalah definisi pribadi saya. Saya sudah mencoba mencari definisi bakunya, apakah secara umum orang menggunakan definisi ini? Menurut AI, sepertinya tidak. Ini murni definisi saya.
Saya melihat ada dua hal yang sering disamakan, yaitu profit dan benefit. Jika kita merujuk kamus, keduanya sama-sama diartikan sebagai keuntungan. Namun, saya mendefinisikan profit sebagai uang, sedangkan benefit bisa berupa waktu, kesehatan, mental, atau apa pun yang menguntungkan kita namun bentuknya bukan uang.
Lalu bagaimana dengan barang? Menurut saya, barang pun sebetulnya bisa dibilang profit karena merupakan representasi uang. Dalam pembukuan pajak, kelebihan inventori juga disebut untung. Meski bukan dalam bentuk uang tunai, barang adalah aset yang memiliki nilai, sama seperti uang.
Hati-hati Jika Profit Kecil tapi Segalanya Terganggu
Saya ingin membahas ini lebih dalam, karena kita perlu berhati-hati. Jika profit kecil, waktu habis, kesehatan terganggu, dan mental pun ikut terganggu, ini indikasi ada yang salah dengan bisnis yang Anda jalankan.
Untuk apa waktu habis sampai tidak bisa bersama orang-orang terkasih seperti pasangan atau anak, sementara profit juga kecil? Pasti ada yang keliru. Namun, kesalahan di sini bukan berarti Anda gagal. Merintis bisnis memang seringkali melewati fase ini: profit kecil, waktu habis, kesehatan dan mental terganggu. Itu adalah fase wajar.
Kalau dibilang pebisnis baru, sebenarnya tidak juga. Saya mulai full time di bisnis baru pada tahun 2016, tapi dari kecil saya sudah terbiasa berjualan. Sekarang, saya benar-benar menimbang antara profit dan benefit. Khususnya dalam jualan online, saya lebih memilih profit yang sedikit lebih kecil—bukan kecil sekali, tapi sedikit lebih kecil—namun saya punya waktu. Saya bisa menghabiskan waktu dengan keluarga. Misalnya, jika tiba-tiba anak libur sekolah, saya bisa langsung mengajaknya bermain ke taman kota, hiking, atau aktivitas lainnya. Waktu saya bukan sepenuhnya bebas, tapi fleksibel.
Tentu saja, fleksibilitas ini saya "bayar" dengan bekerja di malam hari atau dini hari untuk mengejar visi saya. Intinya, waktu saya fleksibel, dan itu adalah benefit besar bagi saya.
Dampak pada Kesehatan dan Mental
Selanjutnya, kesehatan. Jika fokus mengurus profit, iklan, ROAS, dan target omset ternyata sampai mengganggu kesehatan Anda, ini pertanda ada yang tidak beres.
Dan yang tak kalah penting, mental. Ini yang saya alami: ketika anak saya yang masih kecil mengajak saya bicara, namun saya sudah tidak fokus, saya merasa mental saya sudah terganggu. Saya malah sibuk memikirkan bisnis, sementara anak saya bercerita tentang sekolahnya dan saya hanya merespons ala kadarnya. Itu indikasi mental yang tidak sehat bagi saya. Pepatah parenting yang mengatakan "Anda akan menyesal jika anak sudah besar dan tidak mau lagi bicara dengan Anda" sangat membekas di pikiran saya. Saya tahu saya akan menyesal dan waktu tidak bisa diputar kembali. Setiap orang mungkin memiliki definisi dan batas kewarasan mental yang berbeda, namun bagi saya, kondisi seperti itu adalah lampu kuning.
Jadi, saya sekarang benar-benar mempertimbangkan keseimbangan antara profit dan benefit. Saya bisa saja mengejar profit besar, tapi jika itu berarti waktu saya habis, kesehatan dan mental saya terganggu, saya akan berpikir ulang.
Idealnya, tentu saja kita ingin profit besar, waktu luang ada, kesehatan terjaga—masih bisa berolahraga, tidur cukup, makan teratur—dan mental pun sehat. Itu adalah skenario terbaik. Namun, saya rasa mayoritas pebisnis, apalagi yang bisnisnya belum terlalu besar, pasti akan merasakan juggling antara profit dan benefit.
Bagaimana dengan Anda?
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda lebih memilih mengejar profit sebesar-besarnya namun tanpa benefit yang saya sebutkan, atau sebaliknya?
Yang paling gawat adalah ketika kita sudah bekerja mati-matian, paket menumpuk, iklan besar, cash flow mandek, profit kecil, waktu habis, kesehatan terganggu, dan mental pun ikut terganggu. Ini adalah situasi yang berbahaya. Saya harap Anda tidak termasuk dalam kategori ini, karena saya sudah melihat beberapa kasus penjual online yang mengalaminya, dan menurut saya itu tidak sehat untuk jangka panjang.
Namun, perlu diingat, jika Anda masih dalam tahap merintis, kondisi ini wajar dan tidak apa-apa. Tapi jika sudah 2, 3, 4, bahkan 5 tahun dan masih berada di fase yang sama, saya sarankan untuk berhati-hati.
Ini hanyalah sebuah konsep yang saya bagikan, semoga bermanfaat.

0 Response to "Keseimbangan Profit dan Benefit dalam Bisnis: Mana yang Lebih Penting?"
Posting Komentar