Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kali ini saya ingin berbagi tentang strategi penetapan harga, terutama dalam kaitannya dengan kompetitor. Ini adalah topik yang sering membuat para pebisnis, terutama pemula, kebingungan.
Saat ini, saya pribadi sudah jarang sekali melihat kompetitor untuk urusan penetapan harga. Bagi saya, setelah menemukan harga ideal untuk margin profit yang saya inginkan, ya sudah. Jika laku, alhamdulillah. Jika tidak laku, tidak mengapa. Toh, saya selalu menemukan produk yang meskipun dihargai mahal, tetap laku. Saya berani mengatakan, selalu.
Gaya saya ini memang tidak umum karena tidak semua orang bisa mengganti barang dengan cepat. Namun, saya bisa, alhamdulillah, karena saya kini full dropship dan memiliki banyak supplier. Jika Anda tertarik untuk bergabung dengan Sindikat Dropship, silakan cek di ghanirozaki.com. Di sana Anda akan dibimbing selama 2 bulan di bootcamp Ternak Toko sebelum bergabung dengan Sindikat Dropship.
Kapan Harus Melihat Kompetitor?
Meskipun saya sudah tidak terlalu terpaku pada kompetitor, jika Anda masih perlu melihat mereka, ini yang saya sarankan:
1. Siapa Kompetitor Anda?
Jangan langsung menganggap kompetitor adalah penjual nomor satu yang terlaris dan termurah. Apalagi jika Anda adalah seller baru, atau brand Anda belum terlalu dikenal, jangan langsung menargetkan yang nomor satu. Apa yang Anda lihat hanyalah puncaknya, Anda tidak tahu proses di baliknya. Itu tidak adil atau tidak head-to-head.
2. Kompetitor yang Head-to-Head
Kompetitor yang sebenarnya adalah mereka yang head-to-head dengan Anda, baik dari sisi fitur produk, sisi penetapan harga, atau keduanya. Anda perlu melakukan pengecekan mendalam.
Contoh Head-to-Head dari Sisi Fitur:
Misalkan kita ambil produk komoditas seperti jilbab kaos atau kaos polos warna hitam. Pembeda antara kaos polos mungkin tidak terlalu jauh. Ada range harga mahal, ada range harga murah, dan seterusnya. Kita bisa menakar, kita menjual produk apa.
Misalnya, Anda menjual kaos polos dengan bahan linen. Maka, carilah kompetitor yang juga menjual kaos linen. Jangan melihat penjual kaos combat 20s, 30s, atau cardet. Mengapa? Karena itu tidak head-to-head. Jangan juga berharap bisa merebut pasar orang yang mencari kaos combat 20s, karena itu beda segmen dan akan sulit bagi Anda untuk bertarung di sana. Jadi, fokuslah pada kaos polos linen jika itu produk utama Anda.
Contoh Head-to-Head dari Sisi Pricing:
Jika Anda sudah tahu harga pokok produksi (HPP) Anda dan berencana bermain di segmen harga tertentu, jangan melihat kompetitor yang menjual jauh di bawah HPP Anda. Karena Anda nyaris tidak mungkin bisa bersaing di harga tersebut. Jadi, lihat kompetitor di segmen harga yang relevan dengan Anda. Misalnya, Anda ingin bermain di angka Rp200.000. Carilah produk kaos polos tadi yang harganya sekitar Rp200.000-an. Itulah kompetitor Anda. Dari sana, Anda baru bisa menganalisis berapa harga yang tepat untuk produk Anda.
Praktik Analisis Harga dengan Data
Dalam praktiknya, setelah Anda menentukan siapa kompetitor head-to-head Anda, contohnya Anda ingin menjual tas sekolah di harga Rp150.000 ke atas. Jika saya menggunakan tools GR RND, akan langsung keluar analisis harga seperti ini. Data menunjukkan bahwa jika saya bermain di Rp150.000 ke atas, lebih masuk akal jika saya menjual di kisaran Rp198.000 sampai Rp210.000, dibandingkan Rp170.000, meskipun Rp170.000 lebih murah. Ini karena data dari seluruh produk menunjukkan distribusi terlaris ada di rentang Rp198.000 hingga Rp210.000.
Ingat, jangan selalu terpaku pada mindset "murah, murah, murah". Murah memang teknik yang paling mudah dan gampang dicerna, tapi pada kenyataannya, tidak selalu produk termurah yang paling laku. Data ini adalah buktinya.
Contoh lain, jika kita melihat kaos linen. Setelah dianalisis menggunakan tools, bermain di angka Rp28.000 sampai Rp33.000 lebih masuk akal dibandingkan Rp14.000 atau Rp60.000 di "kolam" yang sama. Jika saya filter harga di atas Rp100.000, tools saya akan menunjukkan bahwa lebih baik bermain di Rp114.000 sampai Rp129.000 berdasarkan data.
Gunakan Tools GR RND untuk Analisis Cepat
Itulah strategi pricing yang bisa Anda terapkan. Apakah harus menggunakan tools saya? Tidak harus. Anda bisa saja menyalin harga satu per satu ke Google Sheet atau Excel, lalu membuat analisis frekuensi seperti yang saya contohkan. Tapi, agar lebih cepat dan efisien, menggunakan tools saya akan sangat membantu. Harganya juga sangat terjangkau, hanya Rp500.000 untuk seumur hidup.
Di tempat lain, dengan fitur yang mungkin mirip (bahkan saya rasa fitur yang sama persis belum ada), biasanya biayanya bulanan dan lebih mahal. Ini Rp500.000 seumur hidup. Langsung saja cek di ghanirozaki.com. Di sana, Anda bisa menemukan "Tools Pembungkas Seller", pilih yang GR RND. Harganya Rp500.000 seumur hidup, bebas pakai, dan Anda akan mendapatkan update jika ada pembaruan.
Demikian artikel ini tentang strategi penetapan harga jika Anda memutuskan untuk melihat kompetitor. Namun, sekali lagi, untuk saya pribadi, saya sudah tidak pernah melihat kompetitor untuk strategi harga. Jika tidak laku, tidak mengapa. Jika laku, syukur alhamdulillah. Masih banyak produk lain, dan saya selalu menemukan produk yang dijual mahal dan tetap laku. Jika Anda ingin mencapai posisi seperti ini, saya sangat menyarankan untuk bergabung dengan Sindikat Dropship.
Sekian, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Strategi Harga Produk: Memahami Kompetitor yang Tepat (dan Kapan Mengabaikannya)"
Posting Komentar