My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Demonetisasi YouTube: Pelajaran Pahit dari Perjalanan YouTube Shorts dan AI Slop

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman. Kali ini saya akan berbagi cerita dari perjalanan YouTube Shorts saya, yang sudah memasuki vlog keenam. Sejak awal, saya berusaha keras untuk bisa menghasilkan uang dari YouTube Shorts. Jujur saja, impian untuk mendapatkan penghasilan dari mengunggah konten pendek memang sangat menggiurkan bagi banyak orang, karena sekilas terlihat mudah.

Namun, kenyataannya sangat berbeda. Saya ingin mengingatkan teman-teman, terutama bagi yang belum pernah menonton vlog sebelumnya, bahwa perjalanan saya ini belum banyak membuahkan keberhasilan dalam hal pendapatan. Meski begitu, dari sisi proses, saya belajar banyak hal baru dan itu sangat berharga.

Vlog keenam ini saya beri judul yang cukup menguras emosi: Demonet Lagi. Ya, saya kena demonetisasi lagi, bahkan suspend lagi. Ini adalah kali kedua saya mengalaminya. Dulu, di vlog kedua, saya pernah kena demonet karena apa yang disebut sebagai AI Slop.

Apa itu AI Slop? Ini adalah istilah untuk konten yang dibuat secara mentah dari AI, tanpa sentuhan editing atau penambahan nilai yang signifikan. Membuat video menggunakan AI memang sangat mudah sekarang, bahkan bisa menghasilkan konten yang lucu, aneh, dan menarik. Namun, di balik kemudahannya ada kendala, seperti biaya token untuk setiap proses generate dan keterbatasan fitur gratis.

Parahnya, YouTube tidak menyukai konten semacam ini. Mereka menyebutnya inauthentic content atau konten yang tidak otentik. Saya masih sangat kesal hingga saat ini, karena ini menyebabkan dua channel saya kena demonetisasi.

Channel pertama adalah Dance Gaming. Awalnya saya pikir tidak masalah, karena penghasilannya sekitar Rp150.000 per bulan dan itu konsisten selama dua tahun terakhir, bahkan tanpa upload konten baru. Jadi, ketika kena demonet, saya masih bisa menerimanya.

Namun, 3 hari yang lalu, channel saya yang lain, Tong Tips, juga kena demonet. Padahal, channel ini sama sekali tidak menggunakan AI. Saya membuat konten seperti video ini, tapi dalam versi Bahasa Inggris, dengan wajah saya di dalamnya. Kenapa bisa kena? Rupanya, demonetisasi ini terjadi karena statusnya sebagai related channel dari Dance Gaming yang bermasalah tadi.

Ini benar-benar menyebalkan! Tong Tips ini adalah channel yang sudah menghasilkan pendapatan pasif yang lumayan, sekitar Rp1,4 juta hingga Rp1,7 juta per bulan dalam 28 hari terakhir. Pendapatan ini cukup konsisten dan sulit turunnya. Artinya, saya sudah berhasil membangun passive income, sebuah hal yang saya kejar melalui berbagai channel YouTube. Kehilangan pendapatan ini gara-gara 'dosa kecil' AI Slop di channel lain sangat merugikan.

Lalu, mengapa YouTube bisa melakukan ini? Setelah mencari informasi dan berdiskusi, saya menemukan gambaran besar kebijakan mereka. YouTube tahu bahwa satu kreator bisa memiliki banyak channel. Mereka ingin memberikan efek jera bukan hanya pada channel yang bermasalah, tetapi pada kreatornya langsung. Mereka bisa melacaknya melalui email dan akun AdSense yang sama.

YouTube tidak suka AI Slop, dan jika mereka hanya men-suspend satu channel, kreator bisa dengan mudah membuat channel baru. Oleh karena itu, mereka memberikan hukuman ke kreatornya. Meskipun saya sudah tidak mengunggah konten AI Slop lagi di channel Dance Gaming, dampaknya tetap mengenai saya sebagai kreator, dan berimbas ke channel Tong Tips.

Yang lebih membuat saya gemas, channel Tong Tips baru bisa di-monetisasi lagi jika channel Dance Gaming (yang bermasalah) sudah di-monetisasi kembali. Dan apesnya, channel Dance Gaming ini masih membutuhkan 2.400 jam tayang untuk bisa masuk program monetisasi YouTube (YPP) lagi. Mencapai 2.400 jam tayang itu bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk channel eksperimen seperti itu.

Pengalaman ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Eksperimen untuk menghasilkan uang dari AI, yang saya kira mudah, justru malah kontraproduktif dan mengurangi penghasilan. Saya bahkan mengeluarkan biaya untuk karyawan dan token AI di awal, yang ternyata malah berujung pada kerugian.

Oleh karena itu, kemungkinan besar perjalanan YouTube Shorts saya akan saya cut loss, alias dihentikan sementara atau bahkan selamanya. Ini adalah vlog terakhir yang membahas progres YouTube Shorts. Ada beberapa alasan kuat untuk keputusan ini:

  1. Kontraproduktif: Alih-alih mendapatkan penghasilan tambahan, saya justru kehilangan.
  2. Saran dari Teman: Seorang teman dekat, Lembar Tekno, yang juga seorang YouTuber sukses di Jepang, menyarankan untuk tidak melanjutkan YouTube Shorts. Dia memiliki channel tentang gadget, sesuatu yang dulu menjadi impian saya.
  3. Fokus pada Bisnis Utama: Bisnis utama saya di Shopee (jualan online) kembali menunjukkan sinyal positif dengan tren back to school. Ini adalah momentum yang tidak bisa saya lewatkan, sehingga saya perlu mencurahkan fokus penuh ke sana.

Jadi, pelajaran penting bagi teman-teman yang ingin mendapatkan uang dari YouTube Shorts: sangat tidak mudah! Saya sangat menyarankan untuk jangan sok-sokan membuat konten full AI. Jika pun ingin menggunakannya, pastikan ada proses editing dan penambahan nilai. Lebih jauh lagi, jika Anda terpaksa menggunakan AI, pisahkan akun AdSense dan Gmail untuk channel AI dengan channel utama Anda yang sudah monetize.

Begitulah cerita dan pelajaran yang bisa saya bagikan. Seperti dalam bisnis lainnya, kegagalan adalah bagian dari proses. Saya sudah ratusan kali mengalami kegagalan, dan saya yakin semua pebisnis juga begitu. Tanpa kegagalan, tidak akan ada keberhasilan.

Jika teman-teman ingin berdiskusi lebih lanjut tentang bisnis atau Shopee, Anda bisa bergabung dengan grup WhatsApp saya di ghanirozaqi.com. Di sana, kami mengadakan daily call singkat setiap hari. Terima kasih banyak atas perhatiannya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Demonetisasi YouTube: Pelajaran Pahit dari Perjalanan YouTube Shorts dan AI Slop"

Posting Komentar