Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Setiap hari, saya berusaha meluangkan waktu sekitar 15 menit untuk mengobrol santai dan menerima curhatan dari teman-teman pelaku bisnis online. Harapan saya, jawaban yang saya berikan bisa bermanfaat dan membantu Anda dalam menghadapi berbagai tantangan.
Sebelum kita memulai diskusi utama, saya ingin menginformasikan bahwa akan ada webinar pajak pada tanggal 16 nanti. Bagi yang tertarik untuk memperdalam pemahaman mengenai pajak, Anda bisa bergabung di grup khusus. Selain itu, kami juga sedang membuka pre-open batch 14 untuk bootcamp Ternak Toko. Ada diskon menarik sebesar Rp1 juta karena tanggal pastinya belum ditetapkan, kemungkinan di akhir April atau awal Mei. Jangan lewatkan kesempatan ini jika Anda ingin meningkatkan penjualan toko Anda.
Dalam sesi ini, berbagai pertanyaan menarik muncul, mulai dari strategi iklan hingga kendala logistik. Mari kita bahas beberapa di antaranya:
Strategi Iklan Efektif
1. Menaikkan Budget Iklan Saat ROAS Stabil
Salah satu pertanyaan datang dari seorang penjual yang budget iklannya cepat habis, bahkan setelah dinaikkan dari Rp25.000 menjadi Rp30.000. Namun, ROAS (Return on Ad Spend) produk utamanya tetap stabil di angka 10. Ia bertanya apakah sebaiknya menaikkan budget secara bertahap atau langsung besar. Saya menyarankan untuk memanfaatkan momentum yang baik ini dengan menaikkan budget iklan langsung ke angka yang lebih tinggi, misalnya Rp100.000 atau Rp200.000. Saat iklan sedang "dimakan" oleh algoritma dan memberikan ROAS yang bagus, jangan ragu untuk lebih agresif. Mumpung ada momennya, lebih baik langsung optimalkan!
2. Mengatasi Iklan yang Tidak 'Dimakan' Algoritma
Kebalikan dari kasus sebelumnya, ada juga penjual yang mengeluhkan saldo iklannya tidak terpakai, padahal sebelumnya iklan mereka berjalan baik. Ini memang sering terjadi. Solusi paling efektif yang saya temukan adalah dengan metode "friend order" atau "memancing" iklan. Caranya, Anda bisa meminta teman atau saudara untuk mencari produk Anda di marketplace dan memasukkannya ke keranjang. Tidak perlu sampai checkout atau membayar. Tujuannya agar algoritma marketplace mendeteksi aktivitas pada produk tersebut dan mendorong iklan untuk kembali aktif. Ini adalah salah satu cara 'memancing' agar iklan Anda kembali 'nendang'.
3. Promo Isi Saldo Iklan: Perlukah Diikuti?
Pertanyaan berikutnya adalah tentang paket promo isi saldo iklan yang sering ditawarkan marketplace (misalnya, potongan persentase tertentu). Penjual bertanya apakah promo ini berpengaruh untuk "memancing" algoritma agar iklan lebih aktif. Saya menegaskan bahwa promo tersebut tidak berpengaruh pada performa iklan, melainkan hanya diskon belaka. Saya juga memperingatkan bahwa promo semacam ini bisa membuat penjual ketagihan, jadi hati-hati dalam penggunaannya.
4. Optimalisasi Waktu Beriklan
Seorang penjual lain mengeluhkan saldo iklannya (Rp100.000, lalu Rp30.000) cepat habis dalam sehari, meskipun mendapatkan beberapa orderan dengan ROAS 4 (target ROAS 5). Keuntungan yang didapat pun tipis. Saya menyarankan untuk menaikkan target ROAS agar budget tidak terlalu cepat terserap. Dengan ROAS yang lebih tinggi, volume orderan mungkin berkurang, tetapi profitabilitas akan meningkat. Mengenai waktu terbaik untuk beriklan, saya pribadi tidak terlalu fokus pada jam-jaman tertentu dan membiarkan iklan berjalan terus-menerus. Namun, Anda bisa memeriksa data jam orderan terbanyak Anda untuk menentukan waktu yang optimal. Penting diingat, tidak semua orang langsung membeli setelah melihat iklan; ada yang melihat sekarang dan baru membeli nanti. Intinya, jika iklan sedang bekerja dengan baik, isi terus saldonya dan jangan biarkan habis.
Menentukan Harga di Tengah Kenaikan Biaya
Ada pertanyaan mengenai kenaikan harga bahan baku, seperti plastik, yang membuat bingung dalam menentukan harga jual. Kompetitor hanya menaikkan harga sedikit, sementara biaya produksi meningkat signifikan. Saya menyarankan untuk langsung menaikkan harga sesuai dengan margin yang Anda anggap layak, tanpa terlalu terpaku pada harga kompetitor. Lebih baik menaikkan harga agar tetap profit, daripada perlahan-lahan merugi karena memaksakan harga yang sama dengan rival. Di era sekarang, dengan algoritma JMP (Jangkauan Maksimal Otomatis), menjual dengan harga yang lebih tinggi justru lebih memungkinkan dan mudah daripada di era iklan manual atau berbasis kata kunci, karena target audiens tidak lagi hanya berfokus pada harga terendah.
Mengenai alasan mengapa banyak penjual masih enggan menaikkan margin keuntungan, meskipun biaya operasional terus meningkat, saya berpendapat bahwa ini kemungkinan besar karena mereka memiliki stok barang yang banyak dengan harga lama. Mereka mungkin harus menghabiskannya terlebih dahulu sebelum menaikkan harga jual.
Mengatasi Kendala Logistik dan Pengiriman
1. Masalah Pengiriman Cairan dengan J&T
Seorang penjual menghadapi masalah dengan ekspedisi J&T. Pengiriman produk cair ke luar pulau sering mengalami status "pengantaran gagal" dan barang dikembalikan karena dianggap berbahaya, padahal sebelumnya lancar. Pihak J&T sendiri menyatakan ini "hoki-hokian". Saya tidak memiliki solusi spesifik untuk masalah ini, namun saya berkomentar bahwa memang sistem ekspedisi seringkali tidak konsisten dan terasa "hoki-hokian". Saya mencontohkan kasus perbedaan ongkir untuk pengiriman produk serupa ke tujuan yang sama. Saya juga menyarankan untuk tidak mematikan SPX jika memungkinkan, karena banyak yang orderannya turun setelah mematikan SPX.
2. Risiko Ongkir Retur COD Ditanggung Seller
Ada kekhawatiran mengenai kebijakan baru tentang ongkir retur COD yang kabarnya akan ditanggung sebagian atau seluruhnya oleh penjual mulai 1 Mei. Hal ini dinilai berisiko, namun mematikan COD juga berpotensi menurunkan orderan. Saya belum memiliki solusi pasti untuk masalah ini dan menganggapnya semakin menyeramkan. Namun, berdasarkan informasi yang saya dapat, biaya ongkir retur tidak akan ditanggung sepenuhnya oleh penjual, melainkan hanya sebagian, misalnya Rp3.000, sisanya ditanggung ekspedisi.
3. Dilema Mematikan SPX untuk Produk Elektronik
Seorang penjual elektronik dengan produk berbobot sekitar 4 kg mengeluhkan seringnya terjadi retur saat menggunakan SPX untuk pengiriman ke luar Jawa, sehingga memutuskan untuk mematikan SPX. Saya berpendapat bahwa SPX, meskipun ada masalah, masih menjadi salah satu opsi terbaik untuk jualan online, dan ekspedisi lain mungkin memiliki masalah yang lebih parah. Saya juga memperingatkan bahwa mematikan SPX dapat berpengaruh pada orderan, meskipun ada kasus di mana penjual berhasil mematikannya. Berdasarkan pengalaman teman-teman saya, orderan cenderung turun setelah mematikan SPX, jadi pertimbangkan dengan matang jika Anda ingin mematikannya.
4. Mengaktifkan Semua Jasa Pengiriman: Perlukah?
Ada pertanyaan apakah mengaktifkan semua jasa pengiriman akan memengaruhi jumlah orderan. Saya menjawab bahwa untuk pengiriman reguler, mengaktifkan semua opsi seperti SPX, Anteraja, atau ID Express tidak berpengaruh pada penjualan. Pilihan ini lebih untuk fleksibilitas operasional penjual, karena setiap penjual mungkin memiliki akses yang lebih mudah ke ekspedisi tertentu. Dari sisi algoritma, menurut saya tidak akan adil jika hal ini berpengaruh, meskipun saya mengakui bahwa di marketplace seringkali tidak ada yang benar-benar adil.
Demikian obrolan kita hari ini. Semoga insight yang saya bagikan ini bermanfaat untuk perkembangan bisnis online Anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai strategi bisnis online, Anda bisa mengunjungi ghanirozaqi.com.

0 Response to "Insight Penjual Online: Mengatasi Tantangan Iklan, Harga, dan Logistik"
Posting Komentar