Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kali ini saya akan membahas cara menghitung CPM (Cost Per Mile) untuk iklan. Istilah CPM ini sebetulnya adalah istilah lama dalam dunia digital marketing.
Jika Anda baru mendengar istilah CPM ini, itu menunjukkan perbedaan generasi antara mereka yang dulu berjualan di Meta (sebelumnya Facebook Ads) atau masih aktif di sana, dengan mereka yang kini fokus penuh di marketplace. Ada perbedaan generasi yang cukup terasa.
Saya sendiri sudah berjualan sejak era Kaskus belum ada fitur iklan, lalu belajar Facebook Ads, Google Ads, dan seterusnya hingga sekarang. Bagi Anda yang belum pernah mengalami era tersebut, ini memang hanya soal perbedaan generasi, bukan berarti Anda tidak lebih baik. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa ini adalah istilah lama, dan bagi sebagian orang mungkin terasa baru. Namun, jangan khawatir, konsepnya sangat sederhana.
Apa Itu CPM?
CPM adalah singkatan dari Cost Per Miles. Konsep ini menjadi penting karena Shopee, mulai 7 Mei 2026 (meskipun saya temukan ada beberapa kasus yang tidak), menyatakan bahwa setiap iklan akan dikenakan biaya berdasarkan tayangan (impression), bukan klik. Artinya, kita membayar saat iklan dilihat, bukan setelah diklik. Saya tidak akan membahas lebih detail mengenai perubahan ini, mari fokus pada CPM.
Miles di sini merujuk pada seribu, khususnya seribu tayangan atau impression. Mengapa tidak disebut 'cost per impression' saja? Karena nilai satu impression sangat kecil, jadi lebih praktis dihitung per seribu. Ada juga istilah lain seperti RPM (Revenue Per Miles). Jadi, 'miles' secara umum berarti seribu, dan konteksnya akan menyesuaikan dengan istilah tersebut.
Dalam dunia digital marketing, Cost Per Mile (CPM) berarti biaya per 1000 tayangan, atau jika di iklan Shopee, biaya per 1000 kali dilihat.
Cara Menghitung CPM
Cara menghitungnya sangat sederhana. Misalkan kita punya data biaya dan jumlah tayangan (dilihat/impression). Rumusnya adalah:
CPM = Biaya Iklan / (Jumlah Tayangan / 1000)
- Contoh 1: Jika biaya Rp 10.000 untuk 1000 tayangan, maka CPM-nya adalah Rp 10.000 / (1000 / 1000) = Rp 10.000.
- Contoh 2: Jika biaya Rp 25.000 untuk 500 tayangan, maka CPM-nya adalah Rp 25.000 / (500 / 1000) = Rp 25.000 / 0.5 = Rp 50.000.
Intinya, sesederhana itu cara menghitung CPM.
Melihat CPM di Dashboard Iklan
Mari kita lihat contoh dari dashboard iklan saya. Misalnya, dalam satu bulan terakhir, total tayangan (impression) adalah 86.200 dengan biaya iklan Rp 728.100. Untuk menghitung CPM rata-ratanya, kita lakukan perhitungan: Rp 728.100 / (86.200 / 1000) = sekitar Rp 8.400. Jadi, rata-rata saya membayar Rp 8.400 per 1000 tayangan untuk iklan di toko ini.
Untuk analisis, saya sarankan melihat data minimal 7 hari terakhir, atau bahkan 1 bulan terakhir untuk gambaran yang lebih umum. Saya pribadi sering melihat data 1 minggu terakhir karena fokus pada tren, namun untuk sebagian besar orang, data bulanan lebih representatif.
Kalkulator CPM dan Acara Ngabaso
Karena perhitungan manual bisa jadi merepotkan, saya membuat kalkulator khusus yang dapat menghitung CPM secara otomatis. Dengan alat ini, saya hanya perlu satu klik dan hasilnya langsung muncul. Misalnya, saya bisa langsung tahu CPM saya Rp 12.000, Rp 5.300, atau Rp 20.300 untuk iklan-iklan tertentu.
Kalkulator ini juga membandingkan CPM per produk dengan rata-rata CPM keseluruhan toko saya (misalnya Rp 12.700). Jadi, saya bisa langsung melihat apakah CPM suatu iklan berada di bawah atau di atas rata-rata.
Kalkulator CPM ini tidak saya jual, melainkan saya bagikan gratis kepada mereka yang menghadiri 'Ngabaso'. Ngabaso adalah acara offline yang saya adakan setiap Selasa di Bandung. Tujuan acara ini sederhana, yaitu untuk membantu kedai bakso saya agar lebih ramai dan mendapatkan pemasukan. Jadi, dengan datang, Anda tidak hanya mendapatkan alat ini dan berbagi pengalaman, tetapi juga membantu menghidupkan kembali kedai bakso saya. Maaf, alat ini hanya tersedia bagi yang datang langsung ke Ngabaso.
Apakah CPM Ini Penting?
Ini yang jauh lebih penting untuk dibahas: apakah CPM ini sebenarnya penting atau tidak? Jujur, saat ini saya sendiri belum tahu pasti seberapa penting perhitungan CPM. Karena pada akhirnya, yang terpenting adalah ROAS (Return on Ad Spend) kita. Kita tidak bisa serta merta menentukan 'saya mau CPM rendah' atau 'saya mau CPC rendah' (seperti di era sebelum CPM).
Namun, saya tetap menghitungnya karena kita sedang berada dalam masa transisi iklan Shopee dari CPC (Cost Per Click) ke CPM (Cost Per Mile). Transisi ini menurut saya bukan hal sepele dan pasti akan memengaruhi banyak hal dalam strategi beriklan. Meskipun banyak teori yang berseliweran di kepala saya, kita harus melihat praktiknya nanti.
Intinya, saya tidak ingin gagap. Saya ingin memiliki pemahaman yang baik agar saat strategi beriklan berubah, saya sudah terbiasa dengan angka-angka CPM: rata-ratanya berapa, produk apa yang biasanya memiliki CPM berapa, dan seterusnya. Saya ingin siap menghadapi era CPM ini dengan strategi yang tepat.
Saat ini, saya akui masih bingung. Oke, saya tahu CPM saya Rp 12.700. Lalu apa yang harus saya lakukan? Hampir tidak ada. Bahkan dengan fitur 'below average' atau 'above average' di tools saya, tetap saja belum ada tindakan konkret yang bisa dilakukan.
Tujuan utama saya menghitung ini sekarang adalah agar tidak gagap di kemudian hari. Ketika nanti ada banyak seller yang beriklan, dan kita mulai menemukan 'best practice' dari berbagai sharing, saya sudah familiar dengan data ini dan siap merumuskan strategi yang efektif. Untuk saat ini, saya belum tahu. Jadi, apakah penting sekarang? Mungkin belum. Tapi siapa tahu di masa depan akan sangat penting. Saya tidak ingin ketinggalan.
Apakah CPM yang Lebih Murah Itu Lebih Baik?
Poin kedua, apakah CPM yang lebih murah itu lebih baik? Belum tentu. Saya punya contoh di mana CPM saya Rp 20.000, yang tergolong mahal dibandingkan rata-rata CPM toko saya yang sekitar Rp 8.000-an. Namun, iklan dengan CPM mahal ini justru tidak boncos, bahkan menghasilkan ROAS yang bagus.
Sebaliknya, ada iklan dengan CPM lebih murah yang ROAS-nya justru rendah. Ini menunjukkan bahwa CPM yang murah tidak selalu berarti lebih baik.
Pada akhirnya, yang paling penting adalah ROAS kita, apakah menguntungkan atau tidak. Secara teori, jika biaya iklan (dan CPM) makin tinggi, algoritma akan berusaha keras untuk mencapai ROAS target yang kita inginkan. Misalnya, jika saya mengeluarkan Rp 100.000 untuk iklan dengan ROAS 20, maka Shopee akan berusaha mencari omset Rp 2.000.000. Ini lebih saya pilih daripada mengeluarkan Rp 10.000 untuk ROAS 20 yang hanya menghasilkan Rp 200.000, meskipun rasionya sama.
Jadi, pertanyaannya kembali lagi: apakah CPM yang lebih murah itu lebih baik? Belum tentu. Saat ini, saya masih dalam tahap mempelajari dan beradaptasi dengan perubahan ini, agar tidak gagap di masa depan.
Kesimpulan
Mungkin ada yang berpikir, kalau begitu kita tidak bisa berbuat apa-apa, lebih baik tetap menghitung CPC saja. Tentu saja, Anda bebas mau menghitung CPC, CPM, atau tidak sama sekali. Namun, faktanya iklan Shopee sedang dalam masa migrasi, di mana kita akan dikenakan biaya berdasarkan tayangan (impression).
Artinya, jika ada produk yang tayang 1.000 kali tetapi tidak ada klik sama sekali, kita tetap dikenakan biaya. Biaya tersebut bahkan bisa sama dengan produk lain yang tayang 10.000 kali dengan 1.000 klik. Di sinilah letak perbedaannya, mengapa menghitung CPC menjadi kurang relevan saat ini. Meskipun demikian, pertanyaan 'setelah dihitung, lalu apa?' tetap menjadi PR besar bagi kita semua.
Semoga artikel ini bermanfaat. Jangan lupa, kalkulator CPM gratis ini saya bagikan khusus bagi yang datang ke acara Ngabaso di Bandung. Acara ini rutin saya adakan setiap Selasa. Selain itu, tools ini juga saya berikan kepada member Syndicate Dropship. Jika Anda member Syndicate Dropship, silakan hubungi saya Ghani Rozaqi untuk mendapatkan tools ini. Untuk informasi lebih lanjut tentang Syndicate Dropship, Anda bisa cek di ghanirozaqi.com. Sekian, dan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Panduan Menghitung CPM Iklan Shopee: Apakah Penting di Era Transisi?"
Posting Komentar