My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

5 Tips Penting Sebelum Memutuskan 'Exit' dari Marketplace

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Belakangan ini, saya sering mendengar perbincangan hangat mengenai para penjual yang berencana untuk "exit" dari marketplace, terutama karena keluhan terhadap kebijakan yang memberatkan, mulai dari retur yang keterlaluan, admin fee, hingga kebijakan-kebijakan lain yang dirasa tidak menguntungkan. Banyak yang kemudian beralih fokus berjualan melalui website pribadi. Saya ingin berbagi pandangan pribadi saya mengenai fenomena ini.

1. Definisi "Exit" Marketplace yang Berbeda

Saya sendiri juga berupaya sekuat tenaga untuk "exit" dari ketergantungan marketplace. Namun, definisi "exit" bagi saya mungkin berbeda dengan kebanyakan orang. Biasanya, "exit" diartikan sebagai beralih menjual produk yang sama dari marketplace ke website pribadi. Bagi saya, saya akan tetap berjualan di marketplace seperti Shopee, namun fokus pada produk-produk tren saja.

Definisi "exit" saya lebih ke arah mencari revenue stream baru dan mendiversifikasi sumber penghasilan. Saat ini, sekitar 70% penghasilan saya masih berasal dari ekosistem "per-Shopee-an", baik itu penjualan langsung di Shopee, kelas, bootcamp, maupun tools. Sisanya berasal dari YouTube, pajak, SAS (Software as a Service), dan lainnya.

Jadi, "exit" bagi saya bukanlah berhenti berjualan 100% di Shopee, melainkan mengurangi porsi ketergantungan pada marketplace dan memperbesar porsi penghasilan dari sumber non-marketplace.

2. Berhenti Total Bukan Solusi Bijak

Terlepas dari berbagai keluhan mengenai retur, admin fee, dan kebijakan marketplace yang dirasa memberatkan, saya tidak menyarankan untuk berhenti total berjualan di sana. Marketplace adalah ekosistem penjualan yang sudah sangat matang dan terintegrasi dengan baik, mulai dari fitur pembayaran (PayLater, ShopeePay), gratis ongkir, hingga pengembalian barang yang mudah. Mengabaikan ekosistem ini sepenuhnya menurut saya kurang bijak.

Pendekatan yang lebih tepat adalah mendistribusikan penjualan Anda. Jika sebelumnya Anda 80% di Shopee dan 10% di TikTok, mungkin Anda bisa mengalokasikan 20% ke channel penjualan pribadi (website). Tujuannya adalah mendistribusikan risiko dan sumber pendapatan secara lebih merata.

Jika Anda sudah sangat enggan berjualan di marketplace, jangan berhenti sama sekali. Cukup "jual santai". Artinya, jual saja produk Anda tanpa perlu gencar beriklan atau membuat konten khusus. Tetapkan harga yang kompetitif, dan jika laku, syukurlah; jika tidak, pun tidak mengapa. Karena, jika Anda tidak beriklan atau tidak aktif di fitur konten marketplace, hampir tidak ada biaya yang Anda keluarkan. Marketplace tetap merupakan saluran penjualan potensial yang tidak ada salahnya dipertahankan.

3. Jadilah Realistis: Tanya Langsung Konsumen Anda

Mari kita bersikap realistis. Sebelum Anda memutuskan untuk beralih ke website sendiri, coba lakukan survei kecil. Cari 10 konsumen acak yang pernah berbelanja di toko Anda di marketplace. Tanyakan kepada mereka secara langsung: "Jika kami membuka toko di website sendiri, apakah Anda bersedia untuk berbelanja di sana?"

  • Jika 100% dari mereka menjawab "tidak", maka jangan berharap banyak untuk berhasil berjualan di website.
  • Jika hasilnya 50-50, Anda perlu memikirkan strategi lebih lanjut dan mencari tahu alasan mereka.
  • Jika 100% menjawab "ya" dan siap berbelanja di website Anda ketimbang di marketplace, berarti Anda bisa langsung tancap gas!

Intinya, jadilah realistis. Jangan hanya berdasarkan perasaan atau melihat tren orang lain. Fokus pada konsumen Anda. Dari survei ini, Anda akan mendapatkan banyak masukan dan pandangan baru langsung dari mereka, bukan dari saya atau dari platform marketplace. Saya sarankan Anda melakukan survei ini secara langsung, bukan melalui admin, agar Anda lebih memahami apa yang ada di benak konsumen Anda. Ini adalah bentuk empati (empathize) terhadap pelanggan.

4. Pastikan Produk Anda Memiliki Unique Selling Point (USP) yang Jelas

Poin keempat adalah memeriksa apakah produk Anda memiliki Unique Selling Point (USP) yang jelas. Jika produk Anda hampir tidak ada bedanya dengan produk kompetitor di marketplace, mengapa konsumen harus repot-repot beralih ke website Anda? Mereka bisa dengan mudah membeli produk serupa dari toko lain di marketplace.

Jangan berasumsi bahwa Anda akan berhasil di website pribadi jika USP produk Anda tidak jelas. Lakukan riset kompetitor. Jika ada banyak penjual lain yang menawarkan produk yang mirip atau bahkan sama persis, Anda perlu memberikan alasan kuat mengapa konsumen harus memilih Anda dan berbelanja di website Anda, bukan di marketplace yang sudah familiar bagi mereka.

5. Audience First: Mulai dari yang Kecil

Terakhir, fokuslah pada audiens Anda terlebih dahulu, bukan pada teknis website. Jangan langsung pusing memikirkan platform, cara pembuatan, atau biaya website. Tenang saja, saat ini membuat website itu jauh lebih mudah dan murah.

Mulailah dari yang kecil (start small). Bahkan, bisa dimulai hanya dengan WhatsApp. Jika Anda bisa mendapatkan order secara konsisten melalui WhatsApp, misalnya, barulah Anda bisa memikirkan pengembangan website sederhana. Jangan langsung membayangkan website sekompleks Shopee atau aplikasi seperti TikTok.

Website sederhana, mungkin dengan satu produk, dan sistem checkout yang simpel (misalnya dengan QRIS tanpa virtual account) sebenarnya sangat mudah dibuat sekarang ini. Jika Anda punya sedikit dasar coding, bahkan dalam seminggu sudah bisa selesai. Intinya, jika Anda tidak bisa mendapatkan setidaknya satu order per hari hanya dari WhatsApp saja, maka proyek "exit" ke website pribadi mungkin akan sangat berat. Lebih baik kembali fokus ke marketplace untuk saat ini.

Demikianlah 5 poin penting yang bisa saya bagikan mengenai strategi "exit" dari marketplace. Semoga video ini bermanfaat bagi Anda.

Jika Anda tertarik untuk belajar dropship bersama, Anda bisa bergabung dengan komunitas dropship di ghanirozaqi.com. Insyaallah, kita bisa dropship berjamaah di sana.

0 Response to "5 Tips Penting Sebelum Memutuskan 'Exit' dari Marketplace"

Posting Komentar