My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Jualan di Shopee: Kenapa Saya Malas Ngiklan Agresif dan Hanya Pakai Iklan Otomatis?

Bagi saya, iklan otomatis di platform seperti Shopee itu sudah menjadi kewajiban, sebuah baseline. Karena tanpa iklan, hampir tidak ada traffic yang datang. Ini ibarat trafik organik yang berbayar.

Akhir-akhir ini, saya sedang malas beriklan secara agresif di Shopee. Nanti saya akan ceritakan alasannya. Yang jelas, sejak setelah Lebaran, bahkan sebelum Lebaran sekitar H-7, semua iklan Shopee di semua toko saya sudah saya matikan. Kecuali satu jenis: iklan produk otomatis.

Dan hasilnya? Ternyata saya cukup terkejut. Dengan strategi "main santai" ini, hasilnya lumayan bagus. Padahal ekspektasi saya, kalaupun tidak ada penjualan sehari dua hari pun tidak mengapa. Mengapa saya melakukan ini?

Saat artikel ini saya tulis, belum ada tren besar yang signifikan, seperti Lebaran, tren Labubu, Agustusan, atau back to school. Saya sedang tidak ingin berpartisipasi dalam tren yang tidak terlalu besar karena berdasarkan pengalaman saya, seringkali lebih banyak boncosnya daripada untungnya.

Ada beberapa tren yang saya anggap tidak terlalu besar, atau mungkin ada tren besar tapi saya tidak memiliki supplier-nya karena sistem saya full dropship. Jadi, saya memutuskan untuk "skip" dulu di bulan April dan Mei ini. Itu alasannya mengapa saya tidak beriklan agresif sejak setelah Lebaran tahun ini.

Selain itu, saya juga sedang fokus ke hal lain. Saya sedang sangat fokus mengembangkan YouTube Shorts secara global. Saat ini, saya sedang membuat vlog baru bernama YTS Vlog. Rencananya, setiap hari Rabu saya akan berbagi perjalanan saya dalam membuat YouTube Shorts, baik suka maupun dukanya. YouTube Shorts ini saya rencanakan untuk pasar luar negeri, agar potensi pendapatannya lebih besar. Kalau di Indonesia, pendapatan Adsense dari YouTube sepengalaman saya masih tergolong kecil. Pendapatan Adsense di channel YouTube Ghzaki ini tidak sebanding dengan perangkat dan waktu yang saya curahkan, hanya untuk pendapatan Adsense saja. Namun, pendapatan di luar Adsense sangat sebanding, itulah mengapa saya tetap konsisten membuat konten YouTube setiap hari Sabtu selama kurang lebih lima tahun terakhir.

Jadi, jika trennya tidak terlalu besar, saya memilih untuk tidak bermain agresif. Saya sedang "main santai" dalam berjualan online di Shopee, dan yang aktif hanyalah iklan otomatis.

Apa Itu Iklan Otomatis?

Bagi saya, iklan otomatis itu adalah iklan di mana ketika kita meluncurkannya, semua produk di toko akan diiklankan oleh campaign tersebut. Sekarang namanya mungkin sedikit membingungkan, ada JV Auto, GVOM, atau "isi otomatis saldo". Intinya, saya hanya menjalankan iklan otomatis yang akan mengiklankan seluruh produk kita (kecuali yang sudah punya iklan individual) dengan budget terbatas. Saya menganggap ini sebagai "organik yang berbayar".

Bagaimana Hasilnya?

Ini hasilnya. Dalam 28 hari terakhir, saya mendapatkan omzet sekitar Rp38 juta dengan keuntungan bersih Rp5,3 juta. Angka ini belum dikurangi PPN iklan, jadi setelah PPN iklan, keuntungannya sekitar Rp4 juta. Saya benar-benar kaget! Profit sebesar ini sudah cukup untuk menutupi gaji satu karyawan saya.

Awalnya, saya berpikir mungkin satu atau dua bulan tidak akan mendapatkan keuntungan yang signifikan. Niatnya hanya menunggu tren back to school atau Agustusan. Eh, ternyata dengan "main santai" seperti ini pun ada untungnya. Ini cukup bahaya, saya santai malah untung, ada yang agresif malah boncos. Mana yang Anda pilih?

Yang lebih gawat lagi, jika Anda tidak bisa mengecek apakah Anda untung atau boncos. Saya bisa mengeceknya menggunakan Big Seller yang saya integrasikan dengan tools lain, sehingga diketahui GPMI (Gross Profit Minus Iklan). Ini sudah termasuk dikurangi PPN dan biaya iklan. Jadi, ini adalah profit kotor sebelum OPEX. OPEX saya pun sangat rendah, saya sudah tidak punya biaya sewa kantor, dan karyawan saya saat ini hanya satu orang yang bekerja dari rumah (WFH). Jadi, OPEX terbesar saya adalah diri saya sendiri.

Dengan kondisi seperti itu, saya mendapatkan keuntungan segini dengan beriklan santai. Dalam 28 hari, saya hanya menghabiskan Rp2,3 juta untuk iklan. Per toko, biayanya bervariasi, dari yang termurah Rp3.000 hingga termahal sekitar Rp270.000 dalam 28 hari terakhir.

Jujur, saya kaget dan inilah alasan saya membuat artikel ini. Ternyata untung, dan bahkan lebih untung daripada saya main agresif di saat produk sedang tidak tren. Pengalaman saya memang begitu. Saat tidak ada tren besar dan saya bermental pedagang (bukan branding), jika dipaksa iklan agresif, hasilnya cenderung seperti "juggling" antara untung dan boncos. Tapi dengan cara ini, selama 28 hari terakhir, saya konsisten untung setiap hari dan terkumpul Rp4 juta sebelum OPEX, cukup untuk gaji karyawan.

Saya belum berencana untuk mengaktifkan kembali iklan agresif, kecuali nanti saat tren back to school atau Agustusan. Bagaimana menurut Anda? Coba bagikan di kolom komentar. Jangan-jangan Anda agresif malah boncos, atau santai malah untung. Mari kita diskusikan!

Salam sukses,
Ghani Rozaqi
ghanirozaqi.com

0 Response to "Strategi Jualan di Shopee: Kenapa Saya Malas Ngiklan Agresif dan Hanya Pakai Iklan Otomatis?"

Posting Komentar