My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Mengurai Tantangan YouTube Shorts & AI: Vlog YTS #2 - Pengalaman Monetisasi dan Biaya Token

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Teman-teman. Ini adalah blog post kedua saya yang merupakan bagian dari perjalanan YTS (YouTube Shorts) saya. Saya sedang serius banget ingin mendapatkan penghasilan dari YouTube Shorts. Ini bukan perjalanan yang mudah, dan sudah banyak yang menyangsikan bahwa saya tidak akan mendapatkan uang dari Shorts. Namun, saya memutuskan untuk mencoba. Jika gagal, saya harap teman-teman tetap mendapatkan manfaat dari pengalaman ini. Jika berhasil, alhamdulillah.

Intinya, saya ingin terus berkarya dan berbagi. Vlog ini akan diunggah setiap Rabu jam 19.30 WIB, mendokumentasikan usaha saya mencari “segenggam berlian” dari YouTube Shorts.

1. Bahaya AI Slop dan Ancaman Demonetisasi

Pembaruan penting pertama yang ingin saya sampaikan adalah tentang AI Slop. Saya sudah lama mendengar istilah ini, terutama sejak YouTube Shorts dan konten AI menjadi sangat populer. AI Slop mengacu pada konten yang dianggap menjijikkan (dalam artian algoritma dan penonton) karena terlalu “AI-sentris”.

YouTube tidak menyukai jenis konten ini karena dianggap sebagai spam, produksi massal, atau konten daur ulang yang terlalu mudah. Mendapatkan uang dari video AI memang tidak semudah yang terlihat, meskipun pembuatannya (dalam tanda kutip) mudah. Video-video yang terlalu banyak menggunakan AI berisiko besar, terutama dalam hal monetisasi.

Saya melakukan riset mendalam mengenai ini. Biasanya, langkah pertama saya adalah menggunakan Notebook LM by Google. Notebook LM sudah seperti sahabat saya setiap hari untuk riset, karena tingkat halusinasi AI-nya rendah dan hanya akan "grounding" pada sumber yang diberikan. Ini adalah contoh penggunaan RAG (Retrieval-Augmented Generation). Saya sendiri juga membuat RAG bernama Dr. Shopee, yang bisa teman-teman cek di dr.shopee.com atau ghanirozaki.com. AI ini menjawab berdasarkan sumber daya dan pengetahuan yang saya berikan.

Selain riset dengan AI, saya juga mendengarkan banyak podcast dan membeli beberapa kelas tentang YouTube. Dari semua informasi ini, saya jadi khawatir bahwa perjalanan membuat video AI untuk Shorts mungkin tidak bisa dimonetisasi. Ini adalah fakta yang perlu teman-teman perhatikan: jika Anda berencana membuat Shorts yang sepenuhnya AI, berhati-hatilah, karena ada kemungkinan besar tidak akan dimonetisasi. Meskipun saya belum mengalaminya secara langsung, saya akan berbagi pengalaman serupa.

2. Pengalaman Pahit Mencoba Monetisasi Instan: Beli Channel dan Channel Lama Kena Demonet

Karena kekhawatiran tentang AI Slop dan potensi gagal monetisasi, saya mencoba dua hal. Pertama, saya membeli channel yang sudah dimonetisasi. Saya rasa ini tidak ilegal, karena YouTube memang memungkinkan transfer kepemilikan. Kedua, saya mencoba mengelola kembali channel lama yang sebenarnya sudah menghasilkan sedikit uang (sekitar Rp100.000 sebulan) dan evergreen.

Channel yang Dibeli: Kena Shadow Ban

Channel yang saya beli, yang harganya lumayan (sekitar Rp1,9 juta), ternyata terkena shadow ban. Saya menamai channel ini "Yet Another AI Slop". Kontennya tentang CCTV yang mudah dibuat. Namun, lihatlah, views-nya sangat kecil, hanya sekitar 6-12. Padahal, channel baru saya lainnya (misalnya "Code on AI 60 TV") bisa mendapatkan views jauh lebih mudah, bahkan ada yang nyaris 40.000, dan setiap diunggah selalu ada views di atas 100, 2.000, 4.000, 1.500, 800. Algoritma YouTube seolah memberikan views pada channel baru saya yang lain, sementara channel yang saya beli ini jelas terkena shadow ban. Pengalaman yang sangat mahal!

Channel Lama: Kena Demonet

Selain itu, channel lama yang saya miliki bersama seorang teman, yang sebelumnya sudah dimonetisasi, justru baru saja terkena demonetisasi pada 13 April. Pesan dari YouTube jelas: "Your channel is no longer eligible for monetization." Ini bisa jadi karena masalah AI Slop atau karena saya sempat melakukan reupload (berdasarkan tips yang saya dapat, yaitu mengunduh video dari YouTube dan mengunggahnya kembali untuk mendapatkan views). Kontennya bukan CCTV, melainkan tentang wawancara anak kecil yang melontarkan lelucon atau dead jokes kepada orang tua mereka. Ini juga merupakan pengalaman berharga. Jadi, teman-teman bisa belajar dari "lubang" yang sudah saya alami ini. Channel yang dibeli terkena shadow ban, dan channel lama yang menggunakan konten ala AI berpotensi terkena demonetisasi. Ini benar-benar ongkos belajar yang mahal.

3. Tokenomics: Biaya Tersembunyi di Balik AI Video

Istilah "tokenomics" mungkin lebih sering terdengar di dunia kripto, tapi di sini saya menggunakannya untuk masalah biaya token. Saya menggunakan dua AI untuk membuat video: Pipit AI dan Dreamina AI. Saya memilih keduanya karena terintegrasi dengan CapCut, aplikasi edit video favorit saya. Jika produk CapCut saja bagus, tentu AI-nya juga, karena pasti mengambil data dari CapCut yang sangat masif. Jika Anda ingin bergabung dengan Pipit AI, Anda bisa menemukannya di blog ghanirozaki.com, dan dengan mendaftar melalui afiliasi saya, Anda turut membantu saya.

Untuk menghasilkan satu video sesuai keinginan saya, prosesnya tidak langsung sekali jadi. Meskipun saya sudah membuat best practice prompting di Notebook LM untuk Pipit AI dan Dreamina (mengumpulkan semua sumber daya tentang Dreamina dan prompting yang akurat), saya tetap butuh dua atau tiga kali generate. Tanpa best practice ini, bisa jadi butuh 5 bahkan 10 kali iterasi.

Setiap kali generate atau iterasi, biayanya kurang lebih Rp10.000. Untuk Pipit AI sekitar 100 token, sementara Dreamina ada opsi murah tapi kualitasnya jelek, atau yang 45 token (jika dirata-ratakan, sekitar Rp10.000 per klik generate yang berbayar). Saya sedang mempertimbangkan untuk membeli Pipit AI atau Dreamina versi murah di Shopee, tapi belum dieksekusi.

Jadi, setiap saya membuat video, saya mengeluarkan biaya sekitar Rp10.000, dan ini terjadi bahkan sebelum saya mendapatkan uang dari monetisasi. Artinya, saya harus mengeluarkan modal yang lumayan jika ingin membuat video sepenuhnya dengan AI. Rasanya cukup berat. Jika rata-rata butuh dua kali prompting, berarti Rp20.000 per video. Ini baru biaya pembuatan video, belum gaji karyawan (saya memiliki satu karyawan untuk membantu perjalanan YouTube Shorts ini) dan gaji saya sendiri.

Jadi, teman-teman yang berencana terjun ke dunia AI video, persiapkan biaya token ini. Tidak seindah yang terlihat, memang kelihatannya gampang, tapi ada biaya di baliknya.

4. Beralih ke YouTube Affiliate & Tools Khusus

Karena biaya token yang mahal, saya beralih mencoba YouTube Affiliate. Awalnya, saya tidak menargetkan ini karena saya ingin YouTube Shorts ini menjangkau audiens global. Namun, tingginya biaya token AI membuat saya mencari alternatif.

Saya mencoba membuat tools sederhana yang mengubah data produk dari Shopee menjadi video pendek. Bentuk tools-nya saya rancang sendiri (dengan bantuan AI untuk pembuatannya, yaitu Anti Graffiti). Proses pembuatan tools memakan waktu 2-3 hari, tetapi setelah itu, membuat video hanya butuh kurang dari semenit. Video-video ini sepenuhnya menggunakan foto dan video dari Shopee, tanpa AI dalam konten visualnya.

Bagaimana hasilnya? Views-nya lumayan, tetapi tetap saja belum menghasilkan uang. Saya menggunakan akun lama saya, “Baju Yuli”, yang dulu sempat ramai untuk jualan. Di Shorts, saya memposting tentang gamis dan sejenisnya. Views-nya bervariasi: 500, 2.500, 530, 767, 582, dan seterusnya. Cukup baik, tapi uangnya belum ada.

Salah satu syarat video Shorts menjadi viral, berdasarkan riset saya, adalah engagement, terutama “stay watch” atau retention, yang idealnya di atas 80%. Bahkan, ada teori yang mengatakan jika bisa mencapai 90%+, video bisa mendapatkan jutaan atau puluhan juta views. Untuk video YouTube Affiliate yang saya buat, belum ada yang mencapai di atas 50%, bahkan ada yang hanya 20% atau 30%. Sementara video Shorts saya yang lain, yang berhasil mencapai 40.000 views, memiliki engagement 76%.

Ini adalah salah satu metrik kunci jika Anda ingin viral di YouTube Shorts. Ada metrik lain seperti retensi, tapi saya suka menyederhanakannya. Menentukan satu KPI saja sudah cukup agar fokus. Saya ingin fokus mencapai stay watch di atas 70% sebelum melihat metrik lain. Alhamdulillah, views dari video ini terus tumbuh, bahkan masih ada views di 60 menit terakhir. Jika bisa mencapai 90%, bisa dibayangkan potensi views-nya!

5. Pelajaran Berharga dari Perjalanan Ini

Jika saya harus merangkum semua yang saya alami minggu ini, berikut adalah poin-poin pentingnya:

  • Jika Anda berniat serius bermain YouTube Shorts sepenuhnya dengan AI, siapkan kocek yang dalam untuk membeli token. Itu baru token, belum lagi biaya kelas atau membership yang juga saya ikuti untuk belajar lebih dalam tentang YouTube Shorts. Investasi dalam ilmu adalah ROI terbesar menurut saya, jadi jangan ragu untuk berinvestasi di sana. Namun, biaya token AI belum tentu memberikan ROI yang besar.
  • Selain biaya, bersiaplah untuk menghadapi ancaman demonetisasi. Itu pun jika berhasil dimonetisasi. Jika tidak, semua biaya dan usaha bisa jadi sia-sia.

Ke depannya, saya berencana mencoba football clipper (mengedit klip-klip sepak bola) karena saya menyukai sepak bola dan ingin mencoba hal baru, meskipun sepertinya akan merepotkan. Kedua, saya ingin menyempurnakan tools Shopee to Shorts agar tidak terlalu generik dan tidak terkesan "AI banget" yang bisa berbahaya untuk monetisasi.

Terima kasih sudah membaca perjalanan saya ini. Semoga bermanfaat! Jika teman-teman ingin mencoba Pipit AI, saya sangat merekomendasikan untuk bergabung melalui link afiliasi yang mungkin bisa Anda temukan di ghanirozaki.com, agar saya juga mendapatkan sedikit bantuan. Cukup dengan Google Login, sangat mudah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Mengurai Tantangan YouTube Shorts & AI: Vlog YTS #2 - Pengalaman Monetisasi dan Biaya Token"

Posting Komentar