Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kali ini, saya ingin membagikan beberapa sisi lain dari kurban yang mungkin belum banyak diketahui. Sebenarnya, ini bukan “gelap” dalam artian negatif, melainkan lebih ke sisi lain atau sudut pandang yang saya temukan mengenai proses kurban. Saya tidak akan membahas dari segi fikih atau agama secara mendalam, melainkan lebih pada pengalaman dan observasi yang saya temukan di lapangan.
1. Dinamika Politik di DKM Masjid
Pertama, saya menemukan adanya dinamika yang bisa dibilang “politik” di dalam kepanitiaan kurban DKM masjid. Ini murni dari pengalaman pribadi saya yang mungkin belum banyak terlibat dalam banyak DKM. Namun, dalam pengalaman saya menentukan vendor kurban, ada banyak perdebatan dan tarik ulur kepentingan. Banyak lobi dari para vendor, atau bahkan dari jemaah yang memiliki kepentingan tertentu, dalam pemilihan pemasok hewan kurban.
Saya sempat terkejut, ternyata prosesnya tidak sesederhana yang saya kira. Ada banyak diskusi untuk menentukan vendor, terutama karena ini sudah berkaitan dengan uang. Meskipun ini adalah kegiatan di lingkungan masjid, naluri manusia terkadang muncul ketika uang sudah menjadi faktor. Ini bukan politik praktis seperti negara, tapi ada saja dinamika kepentingan yang terjadi. Saya berhati-hati sekali membahas ini, dan perlu diingat, ini adalah apa yang saya alami, dan sangat mungkin di tempat lain tidak demikian.
2. Adanya “Penyusup” di Panitia Pemotongan
Kedua, saya pernah menemukan adanya “penyusup” di antara para pencacah daging kurban. Di tengah keramaian saat pemotongan dan pembagian daging, mudah sekali bagi seseorang yang tidak dikenal untuk ikut serta dalam proses ini. Awalnya saya kira mereka adalah keluarga panitia atau jemaah yang baru terlihat, namun ternyata belakangan terungkap bahwa ada saja oknum yang bukan bagian dari panitia dan memiliki niat tertentu. Hal ini ternyata bukan kejadian langka dan bahkan sering terjadi dari tahun ke tahun.
3. Daging Kurban yang Dijual Kembali
Poin ketiga yang mungkin belum banyak diketahui adalah tidak semua daging kurban yang dibagikan itu langsung dikonsumsi. Banyak penerima daging kurban, mungkin karena kebutuhan atau pertimbangan lain, memilih untuk menjualnya. Daging ini biasanya dijual ke pengepul atau pasar dengan harga di bawah standar karena pasokan yang melimpah saat Idul Adha. Secara fikih, saya tidak akan masuk terlalu dalam apakah ini salah atau benar. Namun, bagi saya pribadi, jika itu bisa lebih bermanfaat untuk mereka, misalnya uang hasil penjualan bisa digunakan untuk membeli kebutuhan pokok yang bertahan lebih lama, maka sah-sah saja. Ini adalah realita yang saya temukan di lapangan.
4. Penanganan Hewan Kurban yang Sekarat
Terakhir, ada satu fakta menarik yang sedikit berkaitan dengan fikih hewan kurban, yang mungkin juga belum banyak orang tahu. Jika seorang pedagang atau panitia menemukan hewan kurban yang sekarat, namun bukan karena penyakit menular atau berbahaya, maka hewan tersebut harus segera disembelih. Mengapa? Karena jika hewan itu mati sebelum disembelih sesuai syariat, ia akan menjadi bangkai. Daging bangkai haram untuk diperjualbelikan atau dikonsumsi.
Lalu, ke mana bangkai ini akan disalurkan? Berdasarkan informasi dari para pelaku bisnis hewan kurban, terkadang bangkai hewan ini diberikan ke peternakan buaya sebagai pakan. Tentunya, pemberian ini harus gratis, tanpa ada imbalan uang, karena jika ada transaksi uang, itu berarti sama saja dengan menjual bangkai yang hukumnya haram.
Itulah beberapa sisi lain dari pelaksanaan kurban yang mungkin belum banyak Anda ketahui. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan kita bersama. Bagi Anda yang berencana untuk berkurban, saya juga memiliki program “Kurban Amanah” yang memungkinkan Anda berkurban dari rumah atau kami antarkan ke lokasi di area Bandung dan sekitarnya. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi admin kami melalui tautan yang tersedia. Insyaallah, kami akan menjalankannya dengan amanah.

0 Response to "Sisi Lain Kurban: Dari Politik DKM Hingga Daging Dijual"
Posting Komentar