Saya ingin berbagi beberapa rahasia di balik perjalanan saya di dunia online. Mungkin sebagian dari Anda hanya melihat satu sisi dari persona digital saya, padahal ada sisi lain yang tentu tidak semua orang tahu. Ini adalah hal yang wajar sebagai manusia, kita semua memiliki berbagai aspek dalam hidup.
Banyak yang bertanya, "Bagaimana bisa seperti itu?" Ini merujuk pada sepak terjang saya dalam membuat konten YouTube, yang alhamdulillah konsisten selama lima tahun terakhir, meskipun saya sendiri belum sepenuhnya puas dengan hasilnya. Selain itu, saya juga mengelola beberapa perusahaan, membangun komunitas, dan menjalankan bisnis jualan online, terutama di Shopee, yang masih aktif hingga saat ini.
Saya adalah salah satu kreator konten yang benar-benar berjualan di Shopee. Saat ini, fokus jualan saya lebih pada mengikuti tren yang sedang ramai saja. Jika sedang low season atau tidak ada tren, saya memilih untuk tidak berjualan; lebih baik fokus ke hal lain. Jadi, jika Anda ingin mengikuti strategi jualan saya yang hanya berfokus pada trending, Anda bisa cek di sindikatsip.com atau website saya di ghanirozaqi.com.
Saat ini, saya mengelola tiga perusahaan berbadan hukum, yang semuanya terdaftar dan membayar pajak. Ada bisnis per-Shopee-an yang kini fokus pada dropship, ada konsultan dan tools, serta bisnis digital seperti per-YouTube-an. Untuk YouTube, saya tidak hanya mengelola satu channel ini, tapi juga beberapa channel lain yang dijalankan oleh karyawan saya. Selain itu, saya juga dikaruniai tiga orang anak dan tetap konsisten membuat konten setiap hari.
Konsistensi posting harian telah memaksa saya untuk terus memutar otak dan berpikir kreatif. Mau tidak mau, saya harus kreatif. Kreativitas—proses menciptakan hal-hal baru secara berulang—adalah keahlian krusial bagi seorang pebisnis, terutama dalam memecahkan masalah. Itu adalah kunci yang sangat penting.
Itulah sedikit latar belakang saya. Lalu, apa sebenarnya rahasia di balik semua ini? Saya akan sampaikan tiga poin, dan mungkin rahasia ketiga saya nanti agak sulit untuk teman-teman ikuti, mohon maaf sebelumnya.
Rahasia Pertama: AI (Artificial Intelligence)
Mungkin terdengar klise, namun saya benar-benar memanfaatkan dan bahkan bisa dibilang 'meng-abuse' AI dalam proses keseharian saya. Berikut beberapa tips konkret yang saya terapkan:
1. Voice Mode
Saya sangat suka menggunakan Voice Mode di AI, baik itu ChatGPT atau Gemini (Google AI Studio). Fitur ini membantu saya untuk mengejawantahkan ide-ide yang masih berantakan di otak menjadi sesuatu yang konkret dan tersistemasi. Saya sering curhat apa saja ke AI—mulai dari ide bisnis, masalah anak, fisik, hingga manajemen waktu. AI kemudian akan membantu memecahnya menjadi langkah-langkah yang lebih jelas, membuat pikiran saya lebih jernih dan terstruktur untuk menyelesaikan masalah.
2. Otomasi
Berkat AI, saya berhasil mengotomatisasi banyak sekali pekerjaan yang dulunya membutuhkan input manual. Proses input dari Excel atau impor data kini jauh lebih mudah, sehingga saya punya lebih banyak waktu untuk fokus pada hal-hal lain yang lebih produktif, daripada sekadar mengulang pekerjaan yang sama berulang kali.
3. Mendobrak Zona Nyaman
Perkembangan AI yang sangat pesat, dengan fitur baru yang muncul hampir setiap minggu, memaksa saya untuk terus belajar dan mendobrak zona nyaman. Awalnya memang menakutkan, merasa belum paham yang kemarin sudah ada yang baru lagi. Namun, ini adalah proses yang wajar. Kita tidak harus selalu menguasai A sebelum melangkah ke B. Terkadang, fitur lama bisa menjadi tidak relevan dengan cepat. Mengikuti terus perkembangan, meskipun terasa melelahkan, sangat worth it. Ini adalah hakikat manusia yang seringkali lebih memilih kenyamanan, namun mendobraknya justru membawa kita ke level berikutnya.
Rahasia Kedua: Mentor
Mentor itu sangat-sangat penting. Ibaratnya, kita sedang berada di persimpangan jalan dengan banyak pilihan. Seorang mentor, yang mungkin sudah melewati jalan-jalan tersebut, bisa memberikan arahan. Mereka bisa memberi tahu, "Hati-hati, di jalan C ada lubang." Meskipun seringkali saya tetap mencoba lubang yang sudah diperingatkan, setidaknya saya tahu risikonya. Ini mempercepat proses belajar dan memberikan kebijaksanaan yang tidak bisa didapatkan dari AI.
Pengalaman mentor tidak pernah bohong. Mereka adalah orang-orang yang lebih berpengalaman dari kita. Saya bahkan memaksakan diri untuk membayar teman saya agar menjadi mentor dalam hal coding. Saya juga mengikuti kelas berbayar untuk YouTube dan lainnya. Bagi saya, jika memang butuh dan cocok, membayar untuk mentorship bukanlah hal yang perlu diragukan. Jika Anda tertarik dengan dunia per-Shopee-an dan ingin belajar dropship, bisa bergabung di Sindikat Dropship atau Bootcamp Ternak Toko bersama saya dan Mas Sony Kurniawan. Anda bisa cek informasinya di ghanirozaqi.com. Ini adalah proses mentorship yang insyaallah sangat membangun dan komunitas yang visinya sama.
Rahasia Ketiga: Partner Terbaik (Istri)
Mohon maaf jika poin ini mungkin tidak bisa diikuti oleh semua orang, namun ini adalah salah satu senjata rahasia terbesar saya: memiliki partner terbaik, yaitu istri saya sendiri. Partner itu sama pentingnya dengan mentor.
Dalam dunia bisnis, saya melihat ada dua model kerja sama. Pertama, mengerjakan tugas yang sama secara bareng-bareng, seperti produk atau optimasi iklan. Kedua, model komplementer, di mana setiap partner memiliki tugas atau pekerjaan yang berbeda, namun saling melengkapi. Model kedua inilah yang paling cocok untuk saya dan istri.
Contohnya, jika Anda melihat Instagram saya, followersnya memang tidak banyak, dan itu dikelola oleh istri saya. Saya sendiri tidak menginstal media sosial di ponsel kecuali YouTube, karena saya sering terjebak doom scrolling. Begitu juga dengan perpajakan dan urusan legal seperti pembuatan badan hukum, MoU, atau perjanjian kerja sama dengan karyawan atau partner; semua itu diurus oleh istri saya. Saya tidak perlu pusing memikirkannya sama sekali.
Sebaliknya, urusan optimasi iklan, pembuatan konten ini, dan pengembangan produk, adalah bagian saya. Istri saya tidak memikirkannya. Kami saling melengkapi, melakukan pekerjaan yang berbeda namun pada akhirnya menghasilkan satu tujuan bersama. Tentu ada model kerja sama lain yang efektif, misalnya mengerjakan hal yang sama secara beriringan. Namun, bagi saya, model komplementer inilah yang paling cocok, dan ini adalah senjata rahasia terakhir saya.
Demikianlah tiga rahasia yang saya bagikan. Jika Anda tertarik dengan poin kedua tentang mentorship, khususnya dalam strategi 'ternak toko' di Shopee, Anda bisa cek detailnya di ghanirozaqi.com. Saya dan Mas Sony Kurniawan bertindak sebagai fasilitator untuk membimbing Anda. Terima kasih sudah membaca. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Rahasia Produktivitas Saya: AI, Mentor, dan Partner Terbaik"
Posting Komentar