Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kali ini, saya akan menjawab dua pertanyaan yang sering muncul dari para pebisnis online: apakah dropship itu worth it? Dan bagaimana jika ada supplier yang menawarkan harga lebih murah?
Ada satu pertanyaan lain mengenai kehalalan dropship. Meskipun saya sudah mencari informasi, saya jujur merasa tidak memiliki kapabilitas penuh untuk memberikan jawaban secara syar'i. Oleh karena itu, saya tidak akan membahasnya lebih lanjut dan akan fokus pada dua pertanyaan utama.
Dropship: Apakah Masih Worth It?
Saat ini, sekitar 95% bisnis saya berjalan dengan model dropship. Inilah mengapa saya juga mendirikan Sindikat Dropship, sebuah wadah di mana kita bisa berdropship secara berjamaah. Fasilitatornya adalah saya, Ghani Rozaqi, dan Mas Soni Gunawan. Jika Anda tertarik bergabung, silakan kunjungi ghanirozaqi.com. Investasinya adalah Rp9 juta, yang mungkin terdengar 'doang' dalam tanda kutip, namun ini adalah kesempatan untuk bekerja sama seumur hidup, sampai maut memisahkan.
Mari kembali ke pertanyaan utama: apakah dropship itu worth it? Menurut pengalaman saya, sangat worth it! Selama 30 hari terakhir, pendapatan saya mencapai rata-rata sekitar Rp6 jutaan per hari, dan ini 95% berasal dari dropship. Jika melihat laporan sebelumnya, di bulan September saya mencatat sekitar Rp450 jutaan, Agustus Rp400 jutaan, dan Oktober yang belum berakhir (saat video ini dibuat tanggal 28) sudah mencapai Rp180 jutaan.
Keuntungan Dropship:
- Biaya Operasional Rendah: Dengan dropship, biaya operasional saya sangat rendah. Saya tidak perlu menyewa gudang besar, tidak perlu memiliki banyak karyawan. Bahkan saat ini, saya hanya punya satu karyawan untuk jualan online, dan itu pun bekerja dari rumah (WFH). Ini berarti saya tidak perlu pusing memikirkan biaya transportasi atau kenyamanan di kantor.
- Cash Flow Ringan: Saya pernah mengalami fase produksi massal yang cukup besar, dan aliran kas (cash flow) sering tersendat. Omset memang bisa besar, tetapi uangnya 'tertahan' di stok barang. Orang sering menyebutnya 'untung di barang', yang sebetulnya tidak salah, hanya saja saya pribadi sudah tidak mau lagi mengalaminya. Dengan dropship, cash flow saya jauh lebih ringan karena tidak ada biaya produksi maupun biaya inventory yang besar. Saya tidak perlu menyiapkan modal besar untuk membeli bahan baku seperti puluhan rol kain di awal. Uang saya tidak berubah menjadi bahan baku yang belum bisa langsung dijual.
Jadi, besar atau kecilnya keuntungan itu relatif, tergantung biaya operasionalnya. Biaya iklan mungkin sama antara produsen dan dropshipper, karena di era sekarang, tanpa iklan rasanya sulit berjualan. Namun, dengan biaya operasional dan cash flow yang ringan, keuntungan yang didapat dari dropship menjadi sangat signifikan bagi saya.
Bagi saya pribadi, alhamdulillah hasil dari dropship ini sangat cukup untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Pendapatan tambahan saya dapatkan dari Sindikat Dropship, melalui kelas-kelas dan bootcamp yang saya adakan. Ini memungkinkan saya untuk memiliki keleluasaan finansial untuk hal-hal sekunder atau tersier seperti jalan-jalan dengan keluarga.
Jadi, bagi saya pribadi, dropship itu sangat worth it. Cara terbaik untuk memulainya adalah dengan bergabung di Sindikat Dropship. Investasinya Rp9 juta untuk kita berdropship secara berjamaah. Fasilitatornya adalah saya, Ghani Rozaqi, dan Mas Soni Gunawan. Daripada harus 'ngulik' sendiri, mencoba-coba, lalu jatuh dan merugi, lebih baik kita dibimbing. Ibaratnya, ada yang memberi tahu, "Hati-hati, ada lubang di depan, jangan lewat situ." Memang terkadang masih terperosok, tetapi kita belajar bersama dalam ekosistem ini. Sindikat Dropship adalah kerja sama jangka panjang yang saling mendukung.
Bagaimana Jika Ada Supplier yang Lebih Murah?
Ini adalah pertanyaan kedua yang seringkali membuat para dropshipper khawatir. Berikut pandangan saya:
1. Strategi "Adu Murah" Adalah Non-Profesional
Jika kita hanya berfokus pada strategi 'adu murah', saya berani mengatakan itu adalah ciri marketer non-profesional. Mohon maaf jika terdengar keras, tetapi strategi adu murah memang paling simpel dan mudah dipahami bahkan oleh penjual pemula sebagai daya tarik marketing utama. Namun, ada banyak strategi lain selain hanya adu murah. Jika Anda merasa tidak bisa bersaing karena ada supplier lain yang lebih murah, itu menunjukkan bahwa strategi Anda mungkin belum profesional.
2. Supplier Tidak Mungkin Mengambil 100% Market
Satu hal yang pasti: tidak ada supplier yang bisa mengambil 100% pangsa pasar. Tidak ada satu pun seller di Shopee, misalnya, yang menguasai seluruh pasar. Memang ada statistik yang menunjukkan tidak mungkin ada yang 100%. Misalnya ada supplier sendal termurah di Shopee seharga Rp9.000. Tidak mungkin 100% orang yang mencari sendal akan membeli darinya. Kita masih bisa mengambil 'remah-remah roti' dari pasar yang besar itu, mungkin 1% atau 2% sekalipun kita menjual dengan harga yang sama atau sedikit lebih tinggi. Jadi, fokus kita bukan mengalahkan supplier, karena dia yang memiliki barang dan kendali. Fokusnya adalah pada penetrasi pasar Anda sendiri.
3. Produk Tren (FOMO) Tidak Sensitif Harga
Jika produk Anda adalah produk yang sedang tren atau menimbulkan FOMO (Fear of Missing Out), maka banyak pembeli yang tidak terlalu sensitif terhadap harga. Dari 100% permintaan, mungkin 50% pembeli sangat sensitif harga, tetapi 50% lainnya memiliki waktu terbatas. Mereka mungkin pekerja kantoran yang berangkat pagi pulang malam, sulit untuk sering membuka HP. Begitu menemukan barang yang dicari, mereka langsung membeli tanpa membandingkan harga secara detail. Saya sendiri hidup dari segmen pembeli ini. Bahkan, dalam video sebelumnya, saya pernah menjual produk tanpa ulasan dan harganya lebih mahal, tetapi tetap banyak yang membeli karena mereka mengalami FOMO. Ini berbeda dengan produk non-FOMO seperti popok, susu, atau kertas, yang bersifat komoditas dan bisa dibeli kapan saja. Produk FOMO mengharuskan pembeli untuk segera membeli karena ingin mengikuti tren atau yang sedang ramai. Percayalah, pada produk FOMO, kita bisa menjual di pasar yang tidak terlalu sensitif harga, sehingga harga supplier yang lebih rendah bukanlah masalah besar.
Kesimpulan
Jadi, ini adalah dua komentar saya mengenai pertanyaan apakah dropship itu worth it dan bagaimana menghadapi supplier yang lebih murah. Kesimpulannya, dropship sangat worth it, dan adanya supplier dengan harga lebih rendah bukanlah masalah jika kita memahami strategi pemasaran yang tepat.
Jika Anda ingin mempercepat pembelajaran dan mendapatkan bimbingan, saya sangat merekomendasikan untuk bergabung dengan Sindikat Dropship. Kami ada program bootcamp "Semester Pendek" selama 2 bulan, di mana kami akan mengadakan Zoom dan modul selama 8 pekan. Setelah lulus, Anda akan masuk ke ekosistem Sindikat Dropship. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi ghanirozaqi.com.
Sekian, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

0 Response to "Dropship: Apakah Masih Worth It & Cara Mengatasi Supplier Lebih Murah"
Posting Komentar