My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Jualan Online ala Ghani Rozaqi: Dari Pengiriman Instan, Dead Stock, Hingga Mengelola Harga

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pada kesempatan ini, saya akan berbagi panduan praktis dan menjawab beberapa pertanyaan yang sering muncul seputar jualan online. Mari kita maksimalkan setiap kesempatan, bukan hanya untuk keuntungan materi, tetapi juga keberkahan.

Mengurai Fenomena Panen Raya dan Pengiriman

Ada pertanyaan menarik dari Mas Ahmad Zaki mengenai fenomena 'panen raya'. Apakah normal jika di saat panen raya, pengiriman reguler justru menurun drastis, namun pengiriman instan atau sameday malah meningkat tajam? Menurut saya, ini adalah pola yang sangat wajar. Masyarakat cenderung mencari opsi tercepat ketika khawatir barang tidak sampai tepat waktu, terutama di momen-momen puncak. Saya sendiri merasakan kekhawatiran serupa saat berbelanja online, kadang menunda pembelian karena takut barang terlambat. Jadi, sangat normal jika kurir biasa turun dan instan naik.

Strategi Jitu Menjual Dead Stock

Mas Ahmad Zaki juga berbagi kabar baik mengenai penjualan *dead stock* atau produk gagalnya yang berhasil terjual menggunakan saran dari saya. Alhamdulillah, saya turut senang mendengarnya! Semoga semua stok Anda segera habis.

Manfaat Menjual Produk FOMO

Berbicara tentang pola penjualan, saya harus mengakui bahwa menjual produk FOMO (Fear Of Missing Out) itu sangatlah menguntungkan. Ketika orang-orang sadar mereka membutuhkan sesuatu secara mendesak, seperti baju Lebaran atau mukena H-1, mereka akan langsung mencari opsi tercepat seperti pengiriman instan di wilayah Jabodetabek. Mereka tidak akan lagi memikirkan harga. Ini adalah salah satu strategi utama yang saya terapkan dalam dropshipping.

Produk FOMO tidak hanya berlaku untuk Lebaran. Contoh lain adalah perlengkapan anak-anak untuk acara sekolah, seperti kain ihram menjelang manasik haji. Orang tua yang baru sadar H-3 atau bahkan H-1 bahwa anaknya belum punya perlengkapan, akan langsung mencari dan membeli tanpa mempertimbangkan harga. Area-area inilah yang saya mainkan, karena membuat kita tidak perlu terlibat dalam perang harga. Kadar FOMO memang berbeda-beda, tetapi momen seperti Lebaran atau Agustusan adalah waktu yang sangat asyik untuk produk FOMO, berapapun harganya cenderung laku keras.

Sindikat Dropship: Partnership Jangka Panjang

Mas Ahmad Zaki juga menunjukkan ketertarikannya pada Sindikat Dropship. Sebenarnya, Sindikat Dropship ini awalnya adalah bonus dari *bootcamp* 'Ternak Toko' dan berkonsep *partnership*. Kami berdropship secara rombongan, yang memungkinkan kami mendapatkan harga yang lebih murah dari *supplier* karena memiliki portofolio penjualan yang kuat. Awalnya bukan sebuah kelas, tapi karena banyaknya minat, kami mengembangkannya.

Sindikat Dropship bersifat *lifetime* dan tidak hanya fokus pada momen Lebaran. Setelah ini, ada potensi momen seperti *back to school*. Meskipun *supplier*-nya belum ada, dengan portofolio penjualan Lebaran ini, saya bisa lebih mudah bernegosiasi dengan *supplier* untuk momen-momen lain. Tentu saja, ada biaya untuk mengelolanya, karena memastikan semua anggota memiliki *skill* dan frekuensi yang sama adalah kunci keberhasilan. Informasi pendaftaran selanjutnya untuk Sindikat Dropship akan kami umumkan di akhir Maret atau awal April di ghanirozaqi.com.

Mengelola Keuangan dengan Cash Basis dan BigSeller

Mas Fadil menanyakan tentang sistem keuangan saya. Saya menggunakan sistem *cash basis* untuk laporan keuangan. Untuk melihat laporan penjualan *marketplace*, saya mengandalkan *dashboard* BigSeller dan tidak menarik data secara manual, kecuali untuk mutasi rekening bank. Penting untuk membedakan antara laporan bisnis (yang memakai akrual) dan laporan keuangan baku (yang memakai *cash basis*). Itu adalah dua hal yang berbeda.

Jika harga *supplier* berubah, saya cenderung menggunakan *overestimate* harga, langsung menaikkan semua harga jual. Idealnya memang menggunakan rata-rata, tetapi saya memilih pendekatan ini. Penginputan harga pokok penjualan (HPP) memang manual, dan biasanya hanya perlu dilakukan sekali jika tidak ada perubahan harga. Jika HPP Anda tidak otomatis terpotong di laporan keuntungan BigSeller, kemungkinan ada kesalahan *setting* atau input, mungkin perbedaan antara 'harga modal' dan 'harga referensi'. Saya sendiri menggunakan 'harga referensi'. Jika masih ada kendala, sebaiknya tanyakan langsung ke pihak BigSeller, mungkin ada pengaturan yang terlewat. BigSeller juga dapat terhubung dengan Shopee Ads untuk integrasi data.

Tips Menaikkan Harga Secara Bertahap

Mas Gudang Tiga Bersaudara bertanya tentang rencana menaikkan harga yang cukup drastis setelah Lebaran. Saya perlu ingatkan mengenai risiko terburuknya: produk bisa jadi tidak laku. Jika stok Anda banyak, sebaiknya berhati-hati. Kenaikan harga yang terlalu jomplang, dari Rp35.000 ke Rp66.000 misalnya, bisa membuat Anda kalah saing di pasar. Namun, jika stok sedikit, mungkin bisa langsung dinaikkan. Ada beberapa produk yang tidak bergantung pada perang harga, seperti produk-produk FOMO yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Untuk kasus Anda dengan stok yang banyak, saya menyarankan untuk menaikkan harga secara bertahap. Coba naikkan harga sedikit sebelum Lebaran, lalu pantau selama sebulan. Jika penjualan jatuh drastis, jangan naikkan lagi atau turunkan. Jika masih baik-baik saja, bisa coba naikkan lagi sebulan kemudian. Intinya, berhati-hati karena stok Anda banyak dan perhatikan respons pasar.

Semoga tips dan jawaban ini bermanfaat untuk perjalanan bisnis online Anda. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Strategi Jualan Online ala Ghani Rozaqi: Dari Pengiriman Instan, Dead Stock, Hingga Mengelola Harga"

Posting Komentar