UMKM Go Online: Bukan Sekadar Upload Produk, Tapi Membangun Bisnis yang Tahan Banting
Narasi mengenai "UMKM Go Online" sering kali terdengar sangat manis di telinga: cukup buka toko, upload produk, lalu tinggal duduk manis menunggu pembeli datang. Namun, realita di lapangan yang saya temui pada tahun 2026 ini jauh berbeda. Persaingan harga yang brutal, biaya admin marketplace yang terus melonjak, hingga algoritma yang sulit ditebak membuat banyak UMKM "tumbang" bahkan sebelum mereka sempat berkembang.
Berdasarkan diskusi mendalam yang saya ikuti di komunitas MBGR (Mentoring Bisnis Gratis) yang diprakarsai oleh Ghani Rozaqi, saya menyadari bahwa membantu UMKM untuk go online saat ini memerlukan pendekatan yang jauh lebih strategis. Ini bukan lagi sekadar urusan teknis cara berjualan, melainkan soal ketahanan bisnis itu sendiri.
1. Realita Pahit: Jebakan "Karyawan Marketplace"
Langkah pertama yang selalu saya tekankan saat membantu rekan-rekan UMKM adalah memberikan pemahaman yang realistis tentang ekosistem digital saat ini. Banyak penjual yang merasa mereka tidak sedang membangun bisnis sendiri, melainkan justru bekerja sebagai "karyawan" bagi platform marketplace tersebut.
Beberapa tantangan utama yang sering saya diskusikan meliputi:
- Biaya yang Menggerus Profit: Biaya admin, layanan, dan kewajiban iklan (seperti fitur GMV Max) sering kali memakan lebih dari 50% profit bersih kita.
- Perang Harga: Kita sering dipaksa bersaing dengan produk impor atau toko yang dikelola lansgung oleh platform (seperti "Outlet Shopee") yang punya harga jauh lebih murah.
- Ketergantungan Data: Sebagai penjual, kita tidak memiliki data pelanggan (database) sendiri karena semuanya dikuasai oleh platform. Hal ini membuat posisi tawar kita menjadi sangat lemah.
2. Solusi Komunitas: Belajar dari Praktisi, Bukan Teori
Saya melihat salah satu cara paling efektif untuk membantu UMKM adalah melalui wadah komunitas seperti MBGR. Forum ini menyediakan ruang bagi para penjual untuk berbagi masalah nyata dan menemukan solusi praktis, bukan hanya sekadar teori dari seminar-seminar mahal.
"Berjualan online di masa sekarang bukan lagi soal siapa yang paling banyak stok, tapi siapa yang paling kuat bertahan dalam komunitas yang tepat."
Melalui sesi diskusi mingguan, saya melihat banyak UMKM bisa membedah toko mereka, mengevaluasi iklan yang "boncos", dan mendapatkan masukan langsung dari sesama praktisi. Selain itu, komunitas berfungsi sebagai support system agar kita tidak merasa berjuang sendirian menghadapi badai algoritma yang sering kali tidak masuk akal.
3. Strategi Bertahan: Diversifikasi dan Membangun Aset
Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi beberapa poin penting agar UMKM bisa diarahkan pada pembangunan aset jangka panjang, bukan hanya bergantung pada satu aplikasi saja.
A. Jangan Taruh Telur dalam Satu Keranjang (Omnichannel)
Saya selalu menyarankan agar UMKM tidak hanya bergantung pada satu platform seperti Shopee atau TikTok saja. Menggunakan alat bantu omnichannel seperti BigSeller atau Jubelio memungkinkan kita mengelola stok di berbagai marketplace sekaligus, sehingga risiko bisnis kita lebih tersebar.
B. Membangun Database Sendiri (Kolam Sendiri)
Ini adalah kunci keberlanjutan yang sering dilupakan. Kita perlu mulai menarik trafik dari marketplace ke aset milik sendiri, misalnya WhatsApp atau Landing Page. Dengan memiliki data kontak pelangan, saya rasa kita bisa melakukan promosi langsung tanpa harus membayar biaya iklan yang mahal ke platform setiap kali ingin berjualan.
C. Beralih ke B2B atau Community Marketing
Jika pasar eceran (B2C) dirasa sudah terlalu berdarah-darah, saya sering menyarankan rekan-rekan untuk pivot ke model B2B (menjadi suplier/grosir) atau membangun komunitas. Konsep Helping is the New Selling menjadi sangat relevan di sini; membangun hubungan yang intim dengan pelanggan akan menciptakan loyalitas yang lebih tinggi daripada sekadar perang diskon.
Kesimpulan: Go Online dengan Cerdas
Membantu UMKM untuk go online kini bukan lagi soal mengajarkan cara membuat akun toko. Bagi saya, ini adalah tentang mengajarkan literasi keuangan (menghitung profit vs biaya admin yang mencekik), strategi branding agar tidak terjebak perang harga, dan pentingnya berjejaring. Tujuan akhirnya adalah menjadi pebisnis yang "waras", yang memiliki kendali penuh atas usahanya sendiri, bukan sekadar menjadi sapi perah algoritma platform.

0 Response to "Strategi UMKM Go Online 2026: Mengapa Sekadar Upload Produk Saja Tidak Cukup?"
Posting Komentar