My Sticky Gadget

Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Kita Rawan Konflik Horizontal

Kemarin sore saya pergi ke kantor Belalai Emas, ngejual simpenan emas untuk modal tambahan di Bajuyuli. Alhamdulillah dijamu langsung oleh yang empunya, yang merupakan senior se-almamater, pak Adi Onggoboyo.

Urusan ngejual emas sih persoalan 10 menit doang, ngasih, transfer pulang.

Tapi alhamdulillahnya dikasih kesempatan diskusi dengan pa Adi ini. Sebenernya saya udah kenal lama dengan pa Adi. Usia bisnis kami mungkin cuma terpaut 1 taun, alhamdulillah kami sekarang sama sama berkembang.

Meski udah kenal lama, tapi saya jarang diskusi panjang dengan beliau. Pernah sih ngobrol, tapi ga panjang dan dalam. Saya tau, kalau doi ini aktivis kampus, dan dulu kerjanya di dunia politik, jadi kalau ngobrol / diskusi pasti panjang dan dalam.

Kemarin sore, saya pengen nanya ke beliau, soal Pegadaian Syariah, apa pendapat doi? doi ini juga lagi S3 di UIN, ngambil jurusan EKONOMI SYARIAH atau apa ya... ga begitu yakin.

Pertanyaan simple, dijawab panjaaaaangggggg, menyasar kesana kemari. Menimbulkan pertanyaan pertanyaan baru dari saya, dan menghasilkan jawaban jawaban baru dari doi. menarik, ga kerasa eh udah 2 jam saya di sana! dari Bada Ashar sampai hampir maghrib!

skip skip skip...

ada konteks menarik yang baru saya sadari, dan ini bisa membahayakan kita semua..

yaitu: kita rawan konflik horizontal, kita rawan PERANG SAUDARA!

inget kasus cebong kampret? pendukung Prabowo vs pendukung Jokowi? yang rame nya bukan main. yang debatnya sampai pusing... di mana terjadinya? mostly di dunia sosmed... ada juga yang sampai ke ranah kehidupan sehari hari, tapi rasanya ga sebanyak yang di sosmed saling hujatnya..

kasus cebong kampret ini luar biasa sekali, cuma gara gara pilihan presiden, kita semua digesek ke sana digesek ke sini. Bahkan setelah presiden terpilih pun masih ada juga yang sakit hati! dan terakhir ketika Prabowo diangkat jadi menterinya Jokowi, gatau deh apa perasaan pendukung Prabowo...

ini baru soal politik praktis...

Kasus lainnya... apakah anda sering denger orang yang gampang mengharamkan sesuatu? Qunut haram! tidak isbal haram! nyanyi nyanyi di kuburan haram! baca Quran di kuburan haram! daaan seterusnya..

pasti pernah denger. Saya ga akan bahas konteks halal haram nya ya...itu lain soal, saya ga punya kapasitas

Tapi yang jadi soal adalah yang terjadi di masyarakat, pengharaman ini mudah sekali terjadi, bahkan sering jg dengan kata kata yang tidak santun! bukan antara ustad dan jamaah. tapi antara jamaah dan jamaah! antara kroco dan kroco! antara yang ilmunya cetek dengan ilmunya cetek..

Sekarang anda bayangkan, sesama ilmu cetek, terus saling menghujat, apa yang terjadi??? yes berantem!!

Saya mengalami sendiri, bahkan dengan kakak kandung saya sendiri. Dengan mudahnya kakak kandung saya menghardik bacaan buku saya, tanpa mempertanyakan sebab dan alasan. 

Jadi waktu itu saya baca bukunya Rhenald Kasali yang baru pindah percetakan ke Mizan. Saya sebagai pebisnis, ga mungkin ga baca bukunya Rhenald Kasali! doi ini professor bisnis. Tapi kakak saya ga suka dengan percetakan Mizan, karena memang Mizan terlihat pro Syiah.

skg apakah konteks buku Rhenald Kasali itu Syiah? tidak
apakah Rhenald Kasali itu Syiah? rasanya katolik
ya begitulah....
baca: https://www.garoblogz.com/2020/08/self-disruption-rhenald-kasali.html

ok balik lagi ke judul..

1. caci mencaci lawan politik di sosmed, sudah!
2. menghardik teman dan saudara sendiri, juga sudah!

ini mah tinggal tunggu waktu aja.. sangat sangat mungkin 2 poin di atas berubah dalam sekali yang lebih masif, bukan tidak mungkin kita semua akan perang Saudara...

Sejarah membuktikan. Tragedi Sampit? tragedi Maluku? Naudzubillah....

0 Response to "Kita Rawan Konflik Horizontal"

Posting Komentar