My Sticky Gadget

Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Karyawan Double Job?

Dulu ketika saya bekerja di Malaysia (baca dulu: Suka Duka Bekerja di Malaysia), job title saya adalah project engineer. Perusahaan ini adalah kontraktor bangunan laut/pantai. Secara umum jobdesc dari project engineer adalah melakuka scheduling dan planning suatu proyek.

Tapi kenyataanya, saya mengerjakan semuanya! Mengerjakan pekerjaan project engineer beneran jelas iya, tapi saya juga mengerjakan Quality Control, personalia, drafter, dan masih banyak lagi!

Dulu saya mengeluh banget dengan jobdesc yang ga jelas seperti ini. Mengeluh karena diberi tugas yang bukan perjanjian awal. Dan baru sekarang saya mengerti kenapa hal ini bisa terjadi.

Kalau saya waktu itu hanya mengerjakan project engineer tok saja, saya akan banyak nganggurnya. Itu mengakibatkan perusahaan tidak menggunakan jasa saya secara optimal. Ditambah lagi, kalau menambahkan QC engineer, HR, drafter baru, orang dalam posisi tersebut juga akan banyak nganggurnya juga. Karena pekerjaanya tidaklah berat, dan tidak memakan waktu lama. Jadi jelas jika kita berpikir linear hanya memberikan pekerjaan sesuai job titlenya saja, perusahaan melakukan pemborosan besar!

Apalagi jaman sekarang ini pivot distrupsi bisnis dimana mana, ga mungkin ada pekerjaan yang hanya fokus mengerjakan 1 hal saja.

Anda bisa lihat lembaga pemerintahan yang kolot, pada umumnya mereka hanya mau mengerjakan apa pekerjaan mereka saja. dan apa hasilnya? lamban, bikin males, dan ga berkembang! Berani saya katakan, lembaga pemerintahan itu pemborosan yang luar biasa. Kompetensi manusianya tidak di-abuse dengan maksimal, dan jika kondisi ini berlangsung terus menerus, orang orangnya akan apatis terhadap pekerjaan lain.

Jadi kunci dari double job adalah penghematan atau setidaknya menghindari pemborosan.

Sekarang ketika saya sudah berbisnis penuh waktu kurang lebih 5 tahun, saya ternyata menjadi boss yang dulu saya keluhkan. Saya memberikan pekerjaan double double ke karyawan saya. Alasannya sama, menghindari pemborosan. Apalagi kami di level UMKM ini jobdesc terkadang terlalu sedikit jika hanya kaku terhadap suatu job-title.

Ini membuat saya malu sendiri kalau mengingat momen momen kala bekerja dulu. Duh saya menjadi orang yang tidak saya sukai (kala itu).

Hal ini juga yang mebuat saya menyeleksi karyawan yang bekerja bagus berdasarkan seberapa besar dia mau ngulik, seberapa besar seseorang itu mau mencoba hal baru, seberapa besar keluhan dia terhadap tugas baru yang diberikan. Dengan begini saya menyiapkan karyawan karyawan yang siap berubah haluan kapan saja.

Tapi... prakteknya susah sekali menemukan orang yang mau seperti itu. Dari ±20 karyawan saya, paling hanya 15% nya saja yang mau menerima dengan legowo double jobdesc. Dan orang orang seperti itulah yang saya sering beri bonus dan saya pikirkan supaya mereka terus bertahan di perusahaan saya.

Oya untuk saya pribadi pun saya berubah banyak setelah mengetahui hal ini. Saya jadi bisa berbagai macam hal, mulai dari teknik SEO yang dipoles terus tiap hari, statistsik, skill Google Ads, Facebook Ads, mengetahui kualitas kain, daaannnn masih banyak lagi. Bisa dibilang seluruh pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan saya, saya bisa melakukannya.,

Jadi mulai sekarang siapapun anda, owner bisnis kek, karywan kek, janganlah mengeluhkan soal double jobdesc. Di zaman super duper cepat ini, double jobdesc adalah keharusan yang tidak bisa dihindari. Kecuali anda mau membuat organisasi anda seperti organisasi pemerintah yang menyebalkan dan banyak birokrasi lamban.

begitulah postingan ini ditulis tanpa dibaca ulang ke atas, pasti banyak typo nya. maafkan ya, semoga bermanfaat.

2 komentar:

  1. Wah seru nih seandainya saya bekerdi tempat perusahaannya.

    Boleh kan saya daftar dan diberi kesempatan kang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha jangan atuh. ga kuat bayarnya nge-hire blogger berprestasi seperi mas Priangga ini..

      Hapus