My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Tips Jitu Optimasi Iklan Shopee: ROAS, Budget, dan Pengiriman Kilat

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi rangkuman diskusi dan tanya jawab seputar optimasi iklan serta strategi berjualan di Shopee. Saya mencoba menjawab berbagai pertanyaan dari teman-teman dengan harapan bisa memberikan wawasan dan solusi praktis untuk bisnis online Anda.

Strategi ROAS dan Budget Iklan dengan Mas Ibnu Bahtiar

Mas Ibnu Bahtiar membuka diskusi dengan pertanyaan tentang ROAS iklannya. Ia memasang target ROAS 12, namun berhasil mendapatkan 20-25 selama dua minggu. Ia bertanya apakah ROAS perlu dinaikkan atau dibiarkan saja. Selain itu, Shopee menyarankan menaikkan budget harian menjadi Rp 36.800, tetapi budget tersebut tidak selalu habis padahal orderan cukup kencang.

Saya menyarankan Mas Ibnu untuk tetap membiarkan settingan ROAS awal, namun mengatur budget iklan menjadi tidak terbatas. Tujuannya adalah agar algoritma iklan dapat terus berjalan optimal. Kasus Mas Ibnu ini berbeda dengan orderan sporadis (misalnya pembelian seragam dalam jumlah besar sekali setahun) yang bisa merusak performa iklan. Karena orderannya lumayan sering, saya berani menyarankan budget tidak terbatas.

Mengapa langsung tidak terbatas dan tidak bertahap? Kadang iklan ingin membelanjakan budget besar pada momentum tertentu. Jika kita tidak siap, momentum itu bisa terlewat. Meskipun ROAS mungkin akan kembali ke target awal 12, kita akan mendapatkan funnel, keranjang, dan ATC (Add To Cart) baru yang sangat berguna untuk retargeting di iklan selanjutnya.

Persentase Ideal Budget Iklan dari Profit Kotor bersama Mas Rian Ilham

Mas Rian Ilham bertanya tentang persentase ideal budget iklan dari omset, mengingat ia menggunakan iklan individual, toko plus, dan otomatis. Ia memberi contoh, jika omset Rp 100 juta dan spend iklan Rp 10 juta per bulan, apakah itu ideal.

Berdasarkan riset panjang dan pengalaman saya, idealnya budget iklan maksimal 50% dari profit kotor. Meskipun bisa saja lebih dari itu (70-90%) dan di atas kertas masih untung, saya tidak menganggapnya ideal. Alasannya, jika ada masalah tak terduga seperti kegagalan COD atau barang rusak, keuntungan tersebut bisa habis seketika. Dengan batas maksimal 50% profit kotor, kita memiliki bantalan yang lebih aman.

Mas Rian juga sempat berbagi pengalamannya dengan banyaknya orderan COD, yang meskipun positif, juga memiliki risiko retur. Ia sudah mengecek tingkat retur dengan tools GFO dan angkanya di bawah 3%, yang menurut saya masih dalam kategori sehat.

Memahami ROAS Rendah dan Traffic Kecil bersama Mas Indra

Mas Indra meminta saya menganalisa grup iklannya yang dimulai pertengahan Agustus. Target ROAS-nya 5, namun ia hanya mendapatkan sekitar 5 koma. Setelah diklarifikasi, settingan ROAS-nya adalah 7. Ia khawatir ROAS-nya terlalu rendah.

Saya menjelaskan bahwa mendapatkan ROAS 5 dengan setelan 7 itu termasuk normal atau umum. Selisih dua poin masih wajar. Meskipun traffic grup iklannya kecil, hal ini sangat bergantung pada demand atau permintaan pasar terhadap produk tersebut. Saya membandingkan dengan kasus Mas Ibnu di awal yang mendapatkan ROAS tinggi (25 dengan target 12), yang kemungkinan besar karena produknya sedang tren.

Iklan Otomatis vs. Iklan ROAS Individual untuk Produk Winning: Teori vs. Fakta Lapangan bersama Mas Alfi Muhammad

Mas Alfi Muhammad, yang baru membuka toko dan menggunakan iklan otomatis, menemukan satu produk yang berpotensi menjadi winning product. Ia bertanya apakah memindahkan produk tersebut ke iklan ROAS individual akan mereset algoritma atau menurunkan orderan.

Secara teori, produk winning memang sebaiknya difokuskan dengan budget individual. Namun, fakta di lapangan seringkali berbeda. Seringkali, memindahkan produk dari iklan otomatis ke individual justru tidak berhasil atau performanya menurun. Saya menemukan bahwa iklan produk otomatis memiliki karakteristik unik:

  • Shopee cenderung memberikan voucher yang lebih dalam untuk iklan otomatis.
  • Ada voucher spesial toko yang diberikan kepada pelanggan jika kita membelanjakan iklan dalam jumlah besar, dan ini sering terkait dengan iklan otomatis.

Jadi, jika iklan produk otomatis bisa membelanjakan budget besar, justru bisa lebih gacor karena dukungan voucher dari Shopee. Ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara teori dan praktik di lapangan, sehingga keputusan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Dampak dan Risiko Pengiriman Kilat (DC Shopee) bersama Mas Hamzah

Mas Hamzah menyoroti fenomena "pengiriman kilat" yang marak di Jakarta Barat, di mana banyak seller menggunakannya hingga ribuan pesanan. Ia ingin tahu dampaknya bagi toko.

Munculnya opsi pengiriman kilat untuk suatu produk adalah indikasi kuat bahwa produk tersebut sedang tren atau banyak diminati pasar. Shopee memiliki perhitungan yang sangat kompleks dan bukan asal-asalan dalam mengaktifkan fitur ini, karena melibatkan pengiriman ke gudang mereka (DC).

Mengenai dampaknya, saya mengambil sudut pandang ekstrem: jika Anda memiliki stok tidak terbatas dan siap dengan segala risikonya, teruslah menggunakan pengiriman kilat karena algoritma Shopee akan terus menyukainya. Namun, kenyataannya para seller memiliki keterbatasan stok dan juga harus menghadapi risiko retur yang tinggi. Mas Hamzah sendiri mengalami masalah variasi stok yang menumpuk di DC karena pengiriman kilat seringkali hanya meminta variasi tertentu.

Saya pribadi tidak menggunakan pengiriman kilat. Menurut saya, dampak buruknya (mudarat) lebih banyak daripada dampak baiknya (maslahat), meskipun saya mengakui ada sisi positifnya.

Menyikapi ROAS Tidak Ideal: Menaikkan Harga atau Target ROAS? bersama Mas Grendis

Mas Grendis bertanya bagaimana menyikapi ROAS yang tidak ideal. Jika target ROAS dinaikkan, traffic menjadi sedikit; jika dibiarkan, ROAS tetap tidak ideal.

Berdasarkan pengalaman saya, lebih efektif untuk menaikkan harga produk daripada menaikkan target ROAS. Ketika kita mengeluarkan budget iklan besar, Shopee juga cenderung memberikan voucher yang besar kepada pelanggan. Jadi, jika kita menaikkan harga produk, Shopee biasanya akan menyesuaikan vouchernya agar harga akhir produk tetap menarik bagi pembeli. Misalnya, jika Anda menaikkan harga produk Rp 5.000, voucher yang diberikan Shopee mungkin akan ikut naik Rp 1.000-2.000, sehingga perbedaan harga akhir tidak terlalu signifikan di mata pembeli, namun margin kita tetap terjaga.

Demikian rangkuman diskusi kita kali ini. Semoga bermanfaat bagi Anda semua dalam mengelola toko online. Jangan lupa, bagi Anda yang berada di Jakarta, saya akan membuka sesi bedah toko dan konsultasi offline di sekitar GBK atau Halim. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi ghanirozaqi.com.

Terima kasih banyak atas partisipasinya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

0 Response to "Tips Jitu Optimasi Iklan Shopee: ROAS, Budget, dan Pengiriman Kilat"

Posting Komentar